Ngebengkel

Waktu kuliah di Bandung, ada praktikum wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa Teknik Mesin yang diadakan sekitar semester 3 atau 5, saya lupa. Pokoknya di pertengahan ajaran kuliah.

Nama mata kuliahnya adalah Proses Manufaktur 1 dan Proses Manufaktur 2. Biasanya disingkat Prosman. Selain kuliah wajib, kampus mengadakan praktikumnya juga, yang penilaian praktikum nyaris ga ngaruh ke indeks kumulatif karena cuma dibobotkan sekitar 10%, tapi ngaruh ke syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Syaratnya, supaya lulus Prosman, kami harus hadir di semua praktikumnya.

Jaman dulu, saya ga ngerti apa gunanya Prosman dan aplikasinya di dunia nyata. Waktu praktikumnya pun, saya ga berminat sama sekali ngikutin praktikumnya karena terlalu bengkel banget yang dikombinasikan dengan teori metrologi industri yang ternyata oh ternyata, njilemit luar biasaahh.

Prosman itu sebenarnya udah paket sederhananya kegiatan bengkel, tapi kalo mau tau alasan apa dan kenapa bisa menggunakan tools seperti di bengkel, maka bisa belajar di metrologi industri (mata kuliah paling absurb tapi berguna di bidang manufaktur. Gampangnya, kalo ga ada ilmu metro, maka kita ga akan bisa naik mobil/motor/pesawat/kapal kayak sekarang).

Praktikum Prosman itu sebenarnya, bahasa awamnya, bisa dibilang: “Ngebengkel“. Kami belajar membubut, memahat, mengelas, memotong, mengecat, mengebor, hingga kerja pertukangan yaitu kerja bangku (atau bahasa kerennya: work bench).

Dulu saya pikir, ya ampun, ngapain sih saya kotor2 gini, emang mo dipake di mana?

Jawabannya: Dimana-mana.

Ngelas
Pengelasan Support Pipa

Kalo di Pertamina, khususnya di Pertamina EP Bunyu, kegiatan bengkel ini dilakukan oleh Mekanik, lebih tepatnya, dilakukan oleh Mekanik – Bengkel Umum (BU).

Apa aja yang mau kita perbaiki, kita bawa aja ke BU. Misalnya, kalao saya: mau ngasah pisau dapur yang mulai tumpul.  Saya bawa aja tu pisau ke BU. Minta tolong pak Hairul atau Pak Dahlan atau Pak Marjito, maka akan mereka gerinda sebentar, dan langsung tajam lagi pisaunya. Atau misalnya kita kehilangan tutup botol, maka kita bisa minta  dibuatkan tutup botol baru di BU. Pak Marjito akan membubut sebentar, dan tutup botol tsb bisa segera kita gunakan.

Pasang Papan
Pasang Papan

Nah tadi pagi, saya ngemonitor kerjaan BU yang dibantu oleh tim kompresor dan tim pipeline. Bersyukur, load kerjaan di bagian lain sedang low sehingga tenaganya bisa dialihkan untuk membantu kegiatan di dermaga. Pekerjaan kami mulai pada pukul 8 pagi.

Struktur dermaga ini mulai rapuh. Kalo tiang-tiang bajanya itu kita hammer, maka karatnya langsung rontok dan berhamburan ke laut. Hal yang menahan dermaga tsb masih belum ambruk adalah beton yang dicor di dalam selongsong pipa baja yang tertancap hingga ke dasar laut.

Nancap
Tiang-tiang yang Mulai Rapuh
Mancing
Break bentar sambil mancing

Dari dulu, kalo praktikum Prosman (alias ngebengkel), saya paling menghindari kegiatan yang menimbulkan panas dan bunga api, yaitu: pengelasan. Pengelasan itu sulit, kalo ga pinter (dan ga punya sertifikat), maka filler las itu ga akan mengisi daerah yang mau kita sambung. Oleh sebab itu, para anggota mekanik yang dedicated untuk mengerjakan pengelasan selalu disertifikasi secara rutin oleh kantor.

Saat melakukan pengelasan, orang ybs juga musti pake face shielded karena bunga api yang timbul dari pengelasan itu bisa membahayakan penglihatan. Mirip kayak kalo kita memandang matahari. Ga kuat kan? Iyah, itu memang berbahaya dan bisa bikin mata kita katarak. Makanya face shielded ini musti dipake.

Ngelas(3)
Ngelas pipa

Dan pengalaman saya, saking protektifnya face shielded ini terhadap penglihatan, maka saya ga bisa ngeliat sebenarnya filler las saya itu ngisi kemana :-| Ribet? Iya. Banget.

Jadi, buat yang punya sertifikasi ngelas dan selalu lulus tes x-ray hasil pengelasannya, thumbs up. You are super cool. 

 

Cutting
Motong plat dengan gas oxygen-acetilen
Ngelas(2)
Bloopers: Warna-warni coverall anggota

Ngomong-ngomong soal coverall yang warna-warni, anggota saya sempat nyeletuk kayak gini:

Mas Budi: “Mbak Din, orang-orang ni heran kali kalo liat kita kerja. Ini yang kerja PT apa? Kok bajunya lain-lain.”

Pak Hairul: “Iya lah, orang-orang ni sambil mikir juga,’Hebat ya Pertamina, ngontrak vendor banyak kali buat ngerjain satu kerjaan aja'”

Saya: Diem aja, gatau mo ngomong apa menanggapi sinisme anggota.

Ujung-ujungnya, kami cuma menertawakan kehidupan, sambil terus melanjutkan kegiatan.

Makan Siang
Makan siang di pinggir laut. Urutan dari atas ke bawah: Pak Maryono (mekanik SKG), Pak Sagiman (driver mekanik), Mas Budi (mekanik SKG), Pak Hairul (mandor BU)

Pekerjaan ini akhirnya selesai pukul 5 sore berkat mandor Hairul yang lincah dan sangat disiplin. Super cool. 

Akhirnya, besok kembali kerja (lagi), dan memasuki bulan Ramadhan (lagi).

Selamat malam, selamat istirahat, selamat bekerja (lagi), dan selamat berpuasa😀

 

Ngebengkel

Jalan-jalan

Kalo orang2 butuh modal (uang dan waktu) yang relatif sangat besar berlibur ke Derawan, hal ini tak berlaku bagi kami2 di pulau terpencil ini karena Derawan juga sama2 terpencil. Haha. Tawa datar.

Di akhir bulan April 2016, kami, rombongan kecil ber-15 orang dari Bunyu, mengunjungi Maratua-Derawan-Kakaban. Cukup dengan modal sekitar 1,5 juta per orang, kami sudah dapat bermalam di Maratua dan Derawan selama 3 hari 2 malam.

Mengunjunginya pun tanpa perlu mengambil cuti karena kami mengambil jatah day-off 1 hari di hari Jum’at. Kami memanfaatkan waktu selama Jumat-Sabtu-Minggu di pulau Maratua, Kakaban, dan Derawan. Dengan harga segitu, sudah termasuk layanan speed pulang pergi Bunyu-Derawan, layanan snorkeling Derawan-Maratua-Kakaban, menyewa alat snorkeling, kamar tidur, dan makan. Lengkap dan ga kelaparan.

Hari pertama, kami mendarat di pulau Maratua.

Maratua
Mendarat di Maratua Paradise Resort
Setelah menempuh waktu selama 4 jam Bunyu-Maratua, akhirnya kami mendarat di Maratua Paradise Resort (MPR), tapi tentunya bukan di resort tsb kami menginap. Kami menginap di losmen sederhana berjarak sekitar 2 kilo dari dermaga MPR. Satu kamar berisi 2-3 orang, kamar mandi dalam, air payau, dan listrik dari genset solar. Air payau ini maksudnya bersumber dari air laut yang udah difilter. Kalo sempat nyicip, rasanya mirip2 oralit (itu lho, obat kalo diare).

Sore harinya, kami langsung jalan kaki dari losmen menuju MPR untuk snorkeling.

Maratua(2)
Foto Dulu. Dessy-Atina-Saya. Photo taken by Fauzi.
Cuacanya panas banget ga santai. Bahasa pelancongnya, cuaca cerah banget, cocok untuk nikmatin laut dan pantainya. Yang jelas, saat itu cuaca sangat bersahabat dan sedang low season. 

 

Esok harinya, pak Alfiyan (bos SCM kala itu), udah mondar-mandir di depan kamar losmen. Fauzi bantuin mengetuk pintu kamar kami sehabis subuh. Siapa yang telat, mereka tinggal karena mereka mau berburu matahari terbit pagi itu.

Maratua(6)
Jalan kaki menuju sebelah timur pulau Maratua
Kalo ada yang bilang Indonesia itu indah, sayangnya, saya ga bisa bilang gitu. Saya ga bisa boong dan ga bisa ikut-ikutan. Indonesia itu ga mampu menjaga kebersihan🙂

Kalo semua orang berebut memotret yang indah, saya ga bisa mendiamkan diri dan pura-pura ga liat tumpukan sampah yang terdampar di pojok Maratua. Sampah ini mengumpul di pojok dermaga.

Padahal, sepanjang perjalanan kami menuju pojok timur, kami melihat banyak penyu. Beberapa kali mereka menampakkan diri dan berenang di sekitar kami. Daerah yang mereka renangi masih bersih, tapi sampah2 yang menumpuk di pojok2 pulau ini, kalo dibiarin dan semua pura-pura menutup mata, saya gatau apa lagi yang mau dijual dari pulau ini.

Maratua(7)
Tambahan Jalur Dermaga Baru
Saat tiba di ujung dermaga, pak Alfiyan terkagum-kagum dengan tambahan dermaga ini. Maklum, beliau diver sejati yang udah beberapa kali ke pulau ini, dan baru hari itu beliau melihat tambahan dermaga yang bagus. Ternyata, dermaga tsb memang baru saja ditambah oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan di tahun 2015 (sesuai papan namanya). Ditambah lagi, Maratua saat ini sedang dibangun bandara untuk memudahkan akses transportasi ke pulau ini.

Maratua(9)
Resort terpencil yang menghadap matahari terbit

Maratua(10)
Udah kesiangan, mataharinya mulai tinggi
Lalu kami snorkeling lagi seharian sambil melanjutkan perjalanan ke Kakaban dan Derawan.

Derawan
Mendarat di Derawan saat magrib

Derawan(5)
Resort MKI Derawan saat malam hari
Resort MKI Derawan ini cukup hi class dan diisi banyak bule.

Kami hanya lewat MKI sebentar, menikmati bulan penuh, selonjoran di pojok dermaga, sambil ngobrol2 dan menertawakan kehidupan. Malam itu kami hanya berlima, yaitu Saya, Dessy, Atina, Uda Hendrizal, dan Fauzi.

Kami melanjutkan jalan santai mengelilingi pulau Derawan di sepanjang jalur pantainya yang cuma butuh waktu sekitar 2 jam (saking santainya jalan kaki). Kalo sambil lari atau jalan cepat, sepertinya cuma butuh 30-45 menit untuk mengelilingi pulau ini.

Di Derawan dan Maratua, meski sama-sama terpencil, tapi mereka ga ada hiburan malam seperti di Gili Trawangan (kalau kalian pernah ke sana). Saya akui, untuk urusan kebersihan dan ketertiban, Gili Trawangan masih lebih baik dibanding Derawan dan Maratua. Pengaruh asing itu memang perlu sih.

Malam itu sebenarnya kami berencana melihat penyu bertelur di pantai Derawan, yang katanya bisa dilihat sekitar tengah malam. Namun, karena kami sangat lelah, kami putuskan kembali ke kamar dan beristirahat untuk fun diving esok hari.

Fun Divers(2)
Sayaaa
Besok paginya, kami sempatkan fun diving bersama mas Icuk.

Selain Pak Alfiyan dan Uda Hendrizal, kami (Saya, Dessy, Atina, Fauzi, Benny, dan istri Benny), belum ada yang punya sertifikat diving. Nah, mas Icuk (instruktur diving kami hari itu) ngasi jasa instruktur dan penyewaan alat diving di sekitar MKI resort. Kedalamannya hanya sekitar 4 meter, jadi ga terlalu bahaya kalo tiba-tiba kita ngapung ke atas. Untuk menyiasati tekanan di telinga yang terasa semakin membesar saat menyelam, bisa disiasati dengan menelan sambil tahan napas (kayak sedang naik pesawat) untuk menyiasati perubahan tekanan antara permukaan air dengan bawah laut.

Fun Divers
Istri Benny, Benny, Saya, Dessy, Atina. Mas Icuk yang sedang melayang di atas kami
Foto selama fun diving credit to Uda Hendri.

Ternyata si Uda Hendri udah menyiapkan poster sederhana untuk bisa kami pakai foto-foto di dalam air. Poster ini berisi ucapan selamat berpisah buat pak Alfiyan karena beliau akan segera dimutasi ke Pertamina Geotermal Kamojang. Pak Alfiyan, saya ikut dong,Pak.

Kesimpulannya: Diving itu ternyata SERU BANGET!

Buat yang masih ragu mau ambil sertifikasi diving karena biayanya yang ga murah (yang mencapai 5 jutaan rupiah) dan masih ragu apakah diving akan cocok/tidak sebagai hiburan, fun diving ini bisa digunakan untuk mencari tau. Cukup dengan 350ribu ajah, kita dah bisa diving dengan aman di sekitar MKI Resort Derawan, udah termasuk perlengkapan dan instruktur yang keren asik kayak mas Icuk.

Hari itu asik banget.

Jauh lebih asik daripada snorkeling di permukaan laut ajah.

Kalo snorkeling, sebenernya saya lebih sering ngerasa mabuk gara-gara terombang-ambing di permukaan air. Ada perahu dan orang-orang yang bergerak-gerak di permukaan air menyebabkan airnya naik-turun ga tentu. Tapi, kalo diving, rasanya asik banget. Cuma ada diri kita sendiri yang sedang menikmati isi laut🙂

Saya ga nyangka ternyata diving semenyenangkan itu. Super fun.

Setelah diving, kami berkemas, makan siang (yang sederhana tapi enak banget), dan melanjutkan perjalanan menuju Bunyu yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam.

Bersyukur, hari itu speed kami melaju lancar tanpa hambatan mengarungi lautan Kalimantan.

Cheers.

Jalan-jalan

Dermaga

Bad Move
Paulo Coelho’s Words

Seberapa sering, saat kita bekerja, saat kita melakukan yang terbaik, tidak ada orang yang merasa bahwa kita telah berbuat banyak hal baik, hingga suatu hari kita melakukan kesalahan?

Kadang-kadang, saya pikir, berbuat kesalahan itu perlu juga ya? Jangan kesalahan deh ya, contoh sederhana, misalnya, ketidakhadiran kita.

Ya, misalnya aja, biasanya ada kegiatan yang selalu kita atur dan selalu kita komunikasikan. Lalu suatu hari, kita ga datang ke kegiatan tersebut, tidak bisa dihubungi lewat telepon, dan tidak bisa ditemukan secara fisik. Entah karena kita tiba-tiba sakit, atau ada keperluan mendadak keluar kota dan hape ga dicas. Pernah kebayang atau pernah ngalamin, orang2 kalang kabut nyariin kita, dan berharap kita ngasi kabar? Berharap adanya kabar progres kegiatan atau kabar baik dari kegiatan tsb?

Buat yang sering berinteraksi dalam organisasi di kampus atau sudah bekerja, biasanya pernah mengalami hal tsb.

Seringkali hanya kegiatan simpel, sederhana banget, ga perlu expertise, tapi jarang ada orang yang mau datang dan melihat langsung lokasi, ngobrol dengan anak buah, menganalisis masalah tsb bareng anak buah dan langsung pecahkan di tempat. Jarang.

Makanya, saat biasanya kita mau melakukan hal tsb lalu tiba-tiba kita ga ada, orang2 yang biasa nelpon2 dan tau beres, jadi panik. Kegiatan itu udah jalan, atau ada kendala, atau udah selesai? 

Contoh biasa sih.

Ga ada orang yang ga melakukan kesalahan.

Tapi mengapresiasi kerja keras orang itu perlu.

Well,

Beberapa hari ini saya membantu mengoordinir perbaikan dermaga milik PT Pertamina (Persero) RU V yang biasa disebut Dermaga Tidung Bunyu. Meski dermaga ini secara resmi adalah milik saudara perusahaan, namun kegiatan di dermaga ini terbuka untuk umum dan bongkar-muat barang.

Kadang saya mikir, saya kerja di perusahaan sosial atau energi?

Kalo nilai sosial dan ekonominya perusahaan ini dihitung, saya yakin, kontribusi perusahaan di bidang CSR (Corporate Social Responsibility) udah lebih dari cukup. Bahkan wilayah abu2 antara kewajiban negara atau sukarela perusahaan seringkali ga jelas. Ahhh, sudahlah. nanti kalo ngebahas ini lagi, mirip dengan postingan saya di Rasa-rasanya.

Lanjut.

Suasana Bunyu pagi ini sejuk2 adem sehabis hujan subuh tadi. Jalanan sedikit basah namun udara terasa sejuk, hati ikut adem. Begitu pula suasana di dermaga.

dermaga(2)
Suasana Dermaga Pagi Ini

Langit biru bersih dan tak panas.

dermaga(3)
Kapal Angkutan

Suasana di sekitar dermaga, ada kapal angkutan yang mengangkut mobil-mobil proyek non-PEP.

Nah, kalo ini, suasana dermaga kemarin siang saat tidak ada hujan seharian.

dermaga
Dermaga Tidung

Kalo dilihat di daratan di kejauhan, ada bangunan tinggi yang dikelilingi pepohonan, itulah Kilang Methanol milik PT. Pertamina (Persero) yang sempat berada pada masa kejayaannya 20 tahun yang lalu. Kalo sekarang, kilang tsb tidak aktif dan hanya dijaga sekuriti. Saya secara pribadi juga tidak tahu mau dikemanakan aset negara tersebut, semoga ga hanya teronggok sebagai Besi Tua.

pasang ban
Pasang Ban untuk Sandaran Speed

Kemarin, ban yang kami pasang merupakan stok ban bekas dan ban yang sudah lama teronggok di gudang. Kami lubangi ban di bengkel, lalu dipasang tali, lalu kami ikatkan di tiang sandaran speed. Karena pada pukul 3 sore air mulai pasang, maka kami agak sulit mengikat ban di posisi yang diinginkan. Oleh sebab itu, kegiatan kami undur ke hari ini.

Tadi pagi, saya sempat ngobrol2 sedikit dengan seorang bapak yang biasa kerja di kapal. Biasanya beliau mudah ditemui di dermaga. Bapak ini (sebut saja pak Budi), pernah saya tumpangi speednya saat saya ikut co-man rig drilling yang datang dari Jakarta.

Pak Budi komentar,“Kalo ada apa2 di Bunyu ini, paling enak memang minta tolong ke Pertamina, semua bisa segera ditindak lanjut. Kalo kita ngomong sama Pemda, mana ada ditanggapi. Tapi ya itu, orang sini tu banyak maunya. Apa2 semua sudah dibantu perusahaan, tapi kalo ada moving alat berat perusahaan, semua ribut2 (terlalu manja.red) karena rumahnya kena debu jalan.” 

Hmmmmm.

Well…

Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, selamat hari Sabtu, selamat bekerja!

 

 

 

 

*Semoga kebijakan mengenai kompensasi on-call segera berlaku. Amen.

Dermaga

Besi Tua

Hi there, readers!

It’s me.

Selfie lagi
Selfie di kantor

Skip.

Btw, di Bunyu sekarang ada sarapan enak selain nasi kuning di jembatan 30 ton. Jenis makanannya sekarang makin variatif dibanding (hampir) 2 tahun yang lalu saya datang ke mari, salah satunya adalah si bubur ayam yang dikemas praktis dan siap makan.

Bubur Ayam Bunyu
Bubur Ayam Khas Bunyu

Dari foto di atas, bubur ayam ini didampingi kuah bening. Keliatan kan?

Entah kenapa, bubur ayam di Bunyu (dan Tarakan) yang saya temui selama ini, semua selalu didampingi kuah bening. Lama2 saya jadi terbiasa juga karena ga terlalu seret pas buburnya melewati tenggorokan. Buburnya ga terlalu asin, cenderung hambar. Namun, bubur ayam langganan saya ini tingkat keasinannya cukup bagi saya. Tapi, tentu aja, bubur ayam Kosambi langganan saya pas masi kuliah di Bandung masih menempati posisi teratas sebagai bubur ayam favorit saya.

Okee, lanjut.

Begini.

Jadi ceritanya, kemarin ada teman-teman dari DJKN (Direktorat Jenderal Keuangan Negara) main ke Bunyu. Ga main juga siy, soalnya kalo main sebenarnya lebih enak ke Jakarta kan yey. Okelah, bisa dibilang, mereka kerja ke Bunyu.

Minggu lalu, sebelum teman-teman DJKN ini datang, rekan kerja saya dari finance, Muhammad Muslimulhakim atau biasa dipanggil Muslim, mengirim email berupa excel sederet daftar aset milik PEP Bunyu kepada saya. Saya diminta mencermati data tersebut, lalu dia bilang,”Sekitar 1-3 Juni, aset tersebut mau diliat ama DJKN, lu yang anter ya Din, sesuai daftar PIC (Person In Charge).”

Saya iya-in aja, sambil saya cek tu daftar excel super panjang yang dia kirim.

Dari sepanjang daftar aset tsb, bersyukur saya, hanya ada 3 aset yang perlu saya cek keberadaannya. Dan, tentu saja, aset ini sudah ada jauuuuh tahun sebelum saya datang ke mari. Ditanya-tanya mengenai keberadaan aset ini ga cuma sekali ini, tapi udah berkali-kali. Saking seringnya saya ditanyakan hal ini tanpa adanya pegangan data , sampai-sampai saya mikir,”Orang-orang ini pikir saya punya ilmu cenayang ya?”

Lanjut.

Akhirnya, di hari Kamis yang sejuk mendung dan sesekali disertai rintik hujan yang bersahabat, datanglah teman2 DJKN tersebut ke kantor saya. Berhubung saya sendiri ga pernah megang aset tsb dan ga paham posisinya ada dimana, maka saya ajak anggota saya yang sudah jauh lebih senior daripada saya untuk membantu mereka mengecek asset tsb.

Dari 3 asset yang mau dicek, 2 asset ada di bengkel pompa di Pemagaran. Salah satunya adalah mesin welding yang masih digunakan, yang kedua adalah elmot pompa yang terduduk tak digunakan di bengkel. Debunya tebal dan ditaruh di pojok bengkel. Nah, untuk aset yang ke-3 adalah milling machine (mesin bubut) yang sudah dipindahkan ke Yard. Sebenarnya, Yard ini berupa lapangan super luas yang digunakan untuk menampung barang-barang yang sudah tak digunakan. Mau dipakai tapi sudah rusak, mau dibuang sayang, maka dipindahkan saja ke Yard. Dan sepertinya, ada banyak asset yang memang sengaja tak dibuang untuk keperluan pengecekan dari kantor negara seperti ini.

Berikut perjuangan teman DJKN (baju oren) bersama pak Sudirman (baju biru) ngecek mesin bubut yang sudah terkubur bersama equipment lain.

besi tuir
Ngecek si Besi Tua

Mereka manjat-manjat di sana selama beberapa menit, lalu si teman DJKN (namanya Mas Rudi), menyelinap di antara besi tua tsb untuk mencari nameplate yang menunjukkan bahwa asset tsb memang barang yang dia mau. Trus dia ambil foto selama beberapa detik, lalu selesailah.

Sebenarnya, saya lupa mengingatkan beliau untuk perlu berhati-hati menyelinap di antara besi-besi tua tsb karena masih rawannya biological hazard berupa ular, kalajengking, dan kadang ada anjing liar. God saves us, semua berjalan baik hingga kami kembali ke kantor.

Kalo ngomongin besi tua, sebenarnya meski mereka terlihat teronggok dan tak berdaya dan sepertinya sudah tak berguna, justru mereka sudah membantu kita mengumpulkan pundi-pundi rupiah selama berpuluh-puluh tahun belakangan. Dan juga, kalo ada trouble mendesak, tapi kami ga bisa beli barang baru, maka kami akan mencari barang yang dulu pernah dibuang ke Yard. Tentunya, ide mencari barang ini ga datang dari saya, tapi dari anggota2 saya yang usianya jauh lebih senior dari saya. Mereka (para anggota mekanik) selain ahli sebagai pekerja di lapangan, mereka juga ahli sejarah besi tua. Mereka ingat siapa yang saat itu mimpin, siapa yang nyuruh asset tsb harus diganti, hingga posisinya dibuang dimana dan kekubur apa. Super coolThumbs up buat semua orang yang bisa menyimpan data-data tak tertulis itu dan bisa membantu perusahaan ini berhemat dari segi uang dan waktu.

 

Sayangnya, besi-besi tua ini ga punya mulut buat ngomong, ga punya tangan buat menulis. Mungkin kalo mereka punya kesempatan untuk bercerita, mereka ga mau kalah untuk dimasukkan ke dalam sejarah Indonesia ini saat membangun Pertamina bersama pak Ibnu Sutowo.

Well…

Sekian kisah random seorang pekerja yang besok harus bangun pagi lagi untuk bekerja.

Selamat bekerja!

 

Besi Tua

Dia adalah Dilanku 1990-1991

Aku menulis ini saat malam hari di pertengahan Mei 2016 di pulau Bunyu, Kalimantan Utara, dengan cuacanya dingin. Terasa dingin karena AC di kamar aku setel di tempratur 20 deg C.

Malam ini aku baru selesai membaca buku tulisannya Pidi Baiq, judulnya Dia adalah Dilanku 1990 (Buku pertama) dan Dia adalah Dilanku 1991 (Buku ke-2). Ke-2 buku ini aku habiskan dalam 3 hari, yang aku sempatkan membacanya di waktu senggangku setelah jam kantor atau saat aku telah tiba di rumah dinas. Yang aku ingat, kemarin aku baru dari lokasi yang panas (lebih tepatnya, terasa sumuk. Bahasa Jawa,artinya: gerah bikin keringetan lengket padahal cuaca mendung) plus digigitin nyamuk. Tiba di ruang kantor yang ber-AC, aku sempatkan santai sejenak. Meski bel berakhirnya jam kantor sudah dinyalakan, aku sempatkan minum air dingin di kantor dan melanjutkan membaca buku mang Pidi di kantor hingga sebelum magrib tiba.

Awalnya, aku mengetahui si mang Pidi Baiq ini adalah saat aku bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusku dulu (sekitar tahun 2008-2009), saat kami mau mengangkat tokoh mana yang mau kami ulas di edisi majalah Boulevard ITB  terbaru. Maka, terpilihlah si Pidi Baiq, yang akhirnya aku ketahui orang itu agak unik dari teman satu unit yang dapat tugas untuk menulis halaman tentang dia. Teman saya ini si anak elektro 2008, terus dengan hebohnya cerita pengalamannya,”Kan urang mau interview yah, terus dia (Pidi Bagiq) bilang,’Eh tunggu dulu, saya ga mau difoto. Saya ambilin foto saya aja ya.’” Saya dan kawan-kawan yang dengar itu spontan ketawa, plus aku pribadi mikir astagaa, ada ya orang kayak gitu? Hahaha.

Selanjutnya aku pernah bertemu beliau saat ikutan workshop yang diadakan Kompas Gramedia di salah satu cafe di daerah Dago (sekarang cafe ini sudah tutup, beberapa kali ganti nama usaha, kalo sekarang aku kurang tau jadi apa) pada tahun 2008-2009an juga. Saat itu tampillah band The Panasdalam, diimami oleh mang Pidi Baiq, yang lirik-liriknya bikin aku mikir. Bukan mikir apakah arti lirik lagu itu? , tapi lebih mikir ke astagaaa, ada ya lirik lagu kayak gitu? Maksudnya apa??? Hahahaha. Kocak. Asli. Tapi saat itu aku ga ketawa, soalnya aku sambil mikir saat mereka nyanyi.

Nah, lanjut.

Seminggu yang lalu aku sempatkan jalan ke Kwitang, Jakarta, melihat-lihat buku yang sekiranya bisa  dikonsumsi untuk menemaniku selama bertugas di Bunyu. Itulah pertama kalinya aku ke Kwitang, dan aku pun hampir kalap untuk membeli semua buku yang terlihat karena ditawari harga sangat murah dan masih bisa ditawar. Syukurlah, ku hanya ambil beberapa buku, dan godaan lainnya kutahan sambil membisikkan ke diri sendiri lihat dulu kualitas beberapa buku yang kamu beli, Din. Kalo oke, bisa lanjut beli di sini. Kesimpulan: ada harga, ada kualitas.

Nah, saat lagi melihat2 buku inilah, di salah satu toko, si abang buku nawarin,”Ini juga lagi laris lho, Dilan.” Sesaat aku jadi ingat cuplikan film Dilan yang akan tayang di bioskop dalam waktu dekat. Saat ditawari buku tsb, aku cuma lihat aja sampulnya, tapi ga beli di Kwitang. Aku akhirnya memilih membelinya di Gramedia Ambas, sehari sebelum kembali terbang bertugas. Cieeeeee, bertugas.

Dan malam ini, aku sudah membaca ke-2 buku tersebut secara berturut-turut, maka muncullah baper (kebawa perasaan. Bahasa gaul kekinian). Ada banyak hal menarik dari buku ini, beberapanya:

  1. Ini beneran ditulis Pidi Baiq, kan? Kalo bener, aku bener-bener kagum dan masih penasaran gimana caranya dia bisa ambil angel seorang wanita yang sedang mengenang masa SMA-nya. Sempat aku mengecek popularitas buku ini di instagram,dan menemukan, kebanyakan pembacanya adalah wanita yang ngasih komentar2 pribadi yang intinya: buku ini bagus. Bener2 bisa bikin cerita dari sudut pandang anak cewe labil yang dikit2 ngambek, dikit2 bete, dikit2 ngancem putus, drama, dan kekonyolan pacaran saat remaja. Lucu🙂
  2. Setting-an buku ini berada di Bandung pada tahun 1990-1991, dilengkapi gambaran suasana Bandung saat itu yang sejuk, belum banyak gedung tinggi dan belum ada aneka keriweuhan Bandung hari ini. Maka buku ini berhasil membawa saya ke settingan emosi anak cewe abg, disertai dengan imajinasi saya berkeliling Bandung.

Setelah membaca buku ini, aku langsung flash back  ke masa-masa ku masih TK-SD di Bandung sekitar tahun 1994-1995an. Kenangan masa kecil di Bandung ini juga yang bikin aku punya cita-cita mau kuliah di Bandung (waktu SMA). Dulu belum benar-benar men-set mau kuliah di kampus mana, tapi pokoknya mau balik sekolah di Bandung karena pengen di Bandung lagi. Dan kenangan masa kecil itu benar-benar membuat saya selalu kembali ke Bandung, pada akhirnya.

Bandung itu ngangenin, dan akan selalu begitu.

Terimakasih, mang Pidi Baiq atas buku bapernya. Selanjutnya aku akan membaca semua buku-bukumu, termasuk kalo kisah Dilan-Milea ini berlanjut.

Rasanya kalo aku punya keinginan yang bisa terwujud dengan segera, maka aku mau besok sudah terbangun di Bandung, di kamar kosku saat masih kuliah, di Dago.

Selamat malam, kamu, yang sudah membaca tulisan ini. Terimakasih🙂

Dia adalah Dilanku 1990-1991

Rangga atau Trian?

Beberapa hari belakangan, euforia menyambut film Ada Apa dengan Cinta 2 (disingkat AADC 2), melanda kalangan anak muda Indonesia, dengan range usia remaja hingga 30-an.
Kok usia 30-an masuk? Karena film ini tumbuh bersama para penotnon AADC pertama yang dulu adalah remaja, dan saat film sekuelnya rilis, turut bertambah ‘senior’ sesenior Dian Sastro dan Nicholas Saputra (pemeran utamanya).

Sebenarnya saya termasuk generasi 90-an. Saat AADC yang pertama muncul di bioskop pada tahun 2002, saya baru lulus SD, masuk SMP kelas 1, usia sekitar 12 tahun (iiihh, imut kali). Kalo saya pernah baca majalah Bobo tahun 80-an, anak SMP itu masih baca majalah Bobo. Ga sengaja saya baca salah satu surat pembaca majalah Bobo jadul tsb di rumah nenek di Sumatra Barat.

Ada seorang anak mengirim surat dengan isinya begini,”Pak Dokter, saya mau tanya. Kalo saya mandi air dingin pagi-pagi, lalu langsung saya siramkan ke kepala, kok terasa pusing ya?” –Pengirim: Adi, SMP kelas 2 di kota Blabla.

Kalo saya di usia kelas 1 SMP, saat itu sudah mengonsumsi majalah KaWanku, Gadis, Aneka Yes, dan majalah sejenisnya, yang isi majalahnya udah telanjur puber, seperti: tips dapet pacar, model ini pacaran ama aktor itu, fashion untuk remaja, dan aneka hal centil lain. Jadinya, saat itu, saat AADC mengambil setting anak-anak SMA di awal tahun 2000-an, kami (saya dan teman-teman cewe centil lainnya) sudah ikut menyaksikan film tersebut. Saya agak lupa menonton film AADC dimana, tapi yang jelas, saya nggak ikutan nonton bareng teman-teman di bioskop Gelora Balikpapan (dulu belum ada yang namanya XXI atau CGV Blitz. Adanya Bioskop Gelora di dekat taman Bekapai, yang kadang kalo penontonnya kebanyakan, si bioskop ngasih kursi lipat ekstra di deret belakang supaya semua pemilik karcis bisa nonton –pengalaman pribadi. Dan ga kebayang, Balikpapan sekarang udah maju banget, sangat lengkap dan segalanya ada, dan saya masih heran, beberapa teman saya yang kerja di Balikpapan masih aja mengeluh kalo Balikpapan itu jauh dari keramaian. Oh come on, tuker posisi yuk ke Bunyu?)

Jangan ngelantur. Back in track.

Saat long weekend kemarin, saya sempatkan menonton AADC 2 di bioskop dekat rumah di Jakarta. Setelah nonton, entah kenapa ada yang mengganjal. Saya, secara pribadi, ga suka endingnya. Tapi saya gak tau mau diskusi ama siapa.
Nah, saat sudah tiba kembali bekerja di Bunyu, iseng2 saya mengecek Facebook saya, dan ternyata banyak yang mendiskusikan film ini. Mulai dari seseorang yang membuat artikel panjang lebar tentang “Perselingkuhan berbalut Puisi”, hingga ada semacam surat terbuka Trian untuk Cinta (yang entah siapa yang pertama kali memiliki ide ini, tapi saya suka banget. Cocok nih kalo ada lanjutan filmnya AADC dengan judul “Trian Menjawab”). Hahaha. Kocak (aslinya ga kosak sih. Kalo ini beneran ada, sakit banget jadi seorang Trian).

Tulisan-tulisan yang beredar di dunia maya tersebut, entah kenapa, sangat menjelaskan dengan jelas apa isi pikiran dan pendapat saya yang tidak tersampaikan.

Nah, ada satu tema menarik yang dijadikan bahan diskusi di grup kawan-kawan wanita saya:
“Kalo kalian jadi seorang Cinta di AADC 2, siapa yang kalian pilih? Trian atau Rangga?”
Dan, saya ngga nyangka, ternyata ada lho yang milih Rangga! Alasannya: hobi dan minat yang sama. Hahahahaha.

Well, realistis aja deh.

Jika kita seorang cewe, umur udah sangat dewasa, ditinggal highshool sweetheart (seorang Rangga) belasan tahun lalu yang ga jelasin apa2 saat putus. Trus suatu hari, ujug-ujug GA SENGAJA ketemu, trus jelasin semua kesalahannya dan minta maaf dan minta balikan, padahal kita udah dilamar orang (seorang Trian) dan lamaran orang tersebut udah kita terima (tentunya menerima lamaran seseorang itu sudah mempertimbangkan segala macamnya, mulai kejelasan masa depan, ekonomi, kelebihan dan kekurangan orang tsb yang bisa kita toleransi, dan lain-lain sebagainya). Ehh, terus tiba-tiba si mantan pacar datang, ngajak BALIKAN PACARAN, coy! NGAJAK JADI PACAR LAGI, pake selembar puisi!! Ngajak happy-happy bareng lagi. Padahal dulu, saat dihadapkan di situasi sangat sulit dan berat, si mantan ini ninggalin kita, ga cerita apa pun masalahnya, kita ditinggal. Trus saat ini, saat kondisi udah membaik, dia dateng, trus mengakui tindakan memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas itu adalah tindakannya yang salah. Oh come on. Memaafkan bukan berarti harus kembali bersama, kan?

Well, okay..

Kalo kamu jadi seorang Cinta, kamu pilih siapa?
Rangga atau Trian?

Rangga atau Trian?