Bangsa Indonesia, dimanakah Hatimu Kini?

Ya, kemarin sehabis ujian Kimia dasar, gw sempetin jalan2 ke BIP bareng si Ipus, temen gw.

Tapi cuaca Bandung untuk saat ini amat sangat tidak cocok utk jalan2. Ini terbukti dengan banjirnya seluruh (baca: Hampir semua) jalanan bandung beceknya melebihi batas (alias setengah banjir) gara2 hujan deras. Oke lah…here we goes…

turun dari angkot jurusan kalapa dago, gw langsung cabut aja ke pintu masuk BIP. Banyak banget oarang2 di sana. Dan ada suatu pemandangan biasa yang memprihatinkan menurutku. Yeah, that’s right…anak kecil yg menyewakan payung2 mereka.

Badannya menggigil dan giginya bergemeletuk. Tubuhnya kurus dan tangannya menggenggam gagang payung. Meski payung tersebut lebar, dia seakan-akan tidak mengenakan payung itu sedari tadi. Dia terus menggigil, menunggu seseorang yg butuh jasanya menyewa payung yang dia genggem untuk menyebrang jalan.  Tubuhnya basah kuyup, baju kaos yang ia kenankan membentuk posturnya yang tidak ideal. Kurus sekali. Usia anak lelaki itu sekitar 6-7 tahun. Tingginya mungkin kurang dari sepinggang gw.

Hiks, mau nagis gua rasanya kalo inget hal itu lagi. Pengen deh gw minjem payung dia bwt bisa ngasih dia duit makan. Huhuhu…where’s his parents? Segitu lemahnya kah mental masayarakat Indonesia sekarang, membiarkan anaknya yang belum mengerti kerasnya dunia harus mempertaruhkan tenaga dan usahanya untuk menyewakan payung? Dia seharusnya berada di rumahnya yang nyaman (entah dia punya rumah atau tidak) sambil menelaah pelajaran yg ia dapatkan di sekolah (ya, kalo dia sekolah). Hiks, gw sebel bgt ama segenap orang2 di negara ini.

Mereka sadar gak sih, ngidupin org lain itu  gak gampang. Mulai dari hal sederhana kayak rumah dan makanan. Belum lagi pendidikan dan uang untuk kebutuhan harian. Sadar gak sih mereka sebelum “membuat” manusia baru? Menciptakan generasi2 muda (dalam hal ini adalah anak-anak di bawah umur) yg semakin lama semakin banyak, namun komunitas mereka di jalanan sudah tak dapat dianggap sebagai pekerjaan anak seusia mereka? Bahwa apa yg mereka lakukan sebenarnya bukanlah kewajiban mereka? Dimanakah hati orangtua itu kini…

Habis itu gue pulang dari BIP, dan seperti biasa, gue naik angkot. Yuhuuu, seperti biasa juga, ada pengamen di lampu merahnya pasar simpang. Yoa, kali ini mas-mas yg ngamen make alat musik tiup yg suaranya kayak terompet mini, mendendangkan lagu :” Kisah Sedih di Hari Minggu.” It’s ok, sejauh ini it’s oke… tapi abis tuh yang nagihin duitnya adalah seorang wanita dengan perut yang amat sangat buncit (baca: hamil) dengan wajah memelas, menyodorkan gelas plastik bekas air minum kepada para penumpang. Seorang penumpang yang duduk di ujung memberinya sebuah uang logam. Dan di akhir tugasnya, ia mengucapkan,”terimakasih.”

Setelah mbak atau mungkin bisa kita sebut ‘calon ibu’ itu menjauh, Ipus, temen gw yang duduk di sebelah gw sedari tadi, bilang,” Ih,…itu hamil bo’ongan.”

O’o…kok bisa?? “Ya, gak mungkin kalo tuh cewek hamil beneran, bentuk badan dia kayak gitu. Seharusnya perut dia dah turun kebawah, juga payudara dia dah berat dengan air susu jadi ikutan turun.” (yoa, itu yang ipus bilang ke gw, dan dengan sedikit gue tambahin maksud ucapan dari si ipus).

Dimanakah mental bangsa ini? Haruskah kita berpura-pura sengsara agar dikasihani orang lain?? Haruskah kita memakai ‘perut palsu’ agar ada orang yg mau memberi kita sebuah uang recehan? Wahai bangsa Indonesia, hidup ini bukan untuk banyak meminta-minta, tapi banyak memberi!

Best regards, n pesen gw untuk bangsa yg semakin sakit ini, ayolah bangkit dan jangan mau terus menjadi ‘pengemis’ di DPR, jalanan, kantor, ato di rumah sakit. (baca: pengemis jadi-jadian yg ‘meminta’ uang rakyat).

🙂

Bangsa Indonesia, dimanakah Hatimu Kini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s