Pantaskah Menjatuhkan Hukuman Mati?

Halo semua.

Hmmm..judul blog saya saat ini sedang berbau hukum gara-gara menyaksikan tuntutan jaksa penuntut umum kepada Antasari Azhar, ketua KPK non-aktif (ato dah dicopot ya?? mohon koreksi) yang pernah berkunjung ke kampus saya. Tuntutan ini dijatuhkan tadi siang, dan saya menyaksikannya langsung di televisi. Wow banget. Tuntutan mati merupakan hukuman tertinggi bagi seorang terdakwa. Dimana saya sendiri masih ragu apakah Antasari benar2 terlibat dalam kasus pembunuhan berencana Nasrudin Zulkarnaen.

Melihat posisi Antasari pada saat kasus pembunuhan terjadi adalah sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, saya rasa banyak sekali pihak yang benci dan tidak suka kepada beliau. Terlalu banyak kasus yang dibongkar, terlalu banyak orang yang tidak sukses menyuap pihak lain yang seharusnya dapat membantu andaikan kado tersebut tersampaikan dengan baik.

Antasari terkenal sebagai ketua KPK yang aktif memberantas kado. Pernyataan Antasari yang saya ingat saat beliau berkunjung ke kampus saya sekitar satu setengah tahun yang lalu adalah,” Ada orang bilang ke saya,’Pak, ini (KPK.red) diganti aja namanya jadi Komisi Pemberantasan Kado.’ Gara2 saya terlalu banyak memberantas kado.”

Jadi, gak heran kalo banyak pihak yang pengen dia tersingkir dari muka bumi supaya gak ada lagi yang menghalang-halangi pemberian kado tersebut. Apalagi, hukum di Indonesia terkenal gampangan, mudah dimanipulasi selama ada duit. Wah, kapan ya kita bisa benar2 jujur? Saya sendiri ragu apakah dapat pertanyaan tersebut terjawab.

Apa ya yang akan kita ucapkan kepada yang Maha Kuasa saat ditanya asalnya duit kita sehari2 apabila ternyata duit tersebut tidak halal? Misalnya, duit yang kita terima tersebut berasal dari seseorang yang memerintahkan kita mencuri, atau duit yang kita embat dari rakyat yang masih banyak sekali yang melarat, atau duit yang berasal dari hasil rampokan. Fiuhhh…

Nah, ngomong2 soal judul di atas, saya tidak setuju kalo Antasari dijatuhi hukuman mati. Alasan khususnya, saya rasa Antasari hanyalah korban dari rasa marah dan dengki pihak2 yang merasa terganggu atas jabatannya. Alasan umumnya, menghilangkan nyawa seseorang merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Di beberapa negara (seperti yang pernah saya baca di majalah2 punya papa), masih ada yang memperdebatkan penjatuhan hukuman mati tersebut. Kalo saya pribadi, menjatuhkan hukuman mati kepada seseorang tidaklah menyelesaikan permasalahan. Bisa saja seseorang tersebut memiliki anak atau istri yang harus dia tanggung kehidupannya. Kalo dia meninggal tapi anak-istrinya ditanggung negara sih, (mungkin) ga pa pa. Tapi tau sendiri lah, gimana negara kita ini. Duit 6,3 Triliyun aja hilang entah kemana. Padalah bisa mendanai kehidupan jutaan orang pada periode tertentu.

Ada pernyataan filsuf Yunani yang saya lupa ejaannya gimana, kalo ga salah namanya Sorcrates : “Sejuta fakta tak ada apa-apanya dibanding segenggam kekusaan.”

Apakah ini sedang terjadi di dalam proses penghukuman Antasari? Saya rasa iya.

Well, isi blog ini hanya pendapat pribadi.
Kalo ada komentar ato sanggahan, silahkan saja karena pendapat tidak ada yang salah.

Oke deh, sampe ketemu lagi.
🙂

Pantaskah Menjatuhkan Hukuman Mati?