Enggan Meninggalkan Zona Nyaman

Baru pulang hearing calon ketua himpunan mahasiswa mesin untuk BP masa bakti 2010-2011. Jujur aja saya senang melihat hearing, namun sayangnya kalo terlalu malam, kosan saya dikunci, trus saya ga bisa masuk. Dan itu bener2 terjadi ama temen sekosan saya. (Alhamdulillah bukan saya). Ceritanya, temen saya itu pergi jalan-jalan di Minggu malam ampe lupa waktu. Pulang jam setengah satu. Udah ngetok pager depan, tapi mas-mbak yang jaga kosan dah tidur (ato pura-pura gak denger? I don’t know). Tapi emang dah lewat batas jam malem, emang dah seharusnya begitu. Alhasil temen2 sekosan saya itu gelar tiker di jalanan depan kosan (ya gak mungkin lah!). Eh, maksud saya, akhirnya numpang nginep di kosan temen mereka di daerah Tubagus sekitar jam satu malem. Ada-ada aja.

Oke, itu sedikit cerita buat opening tulisan saya yang ini, sekadar penggambaran kondisi kosan saya sehari-hari.

Nah, ngomong-ngomong soal Zona Nyaman , saya akui, salah satu alasan saya malas pindah kosan adalah, kosan yang sekarang adalah zona nyaman saya. Dan emang kosan yang sekarang adalah kosan saya yang pertama bagi saya sejak saya berada di Bandung. Saya dah terbiasa dengan atmosfernya, teman-teman tetangga, dan aturannya. Apalagi barang saya banyak gini, jadi males buat mentransmigrasikannya, meski perihal barang terkadang menyebabkan saya berpikir untuk pindah kosan. Hehehe.

Zona nyaman lain yang telah saya temukan sejak saya duduk di bangku SMP adalah dunia tulis-menulis. Jaman dulu, saya ingat sekali, saya membuat sebuah majalah dengan total 10 halaman di kompetisi lomba majalah di sekolah dalam rangka peringatan hari bahasa. Bener-bener semuanya saya yang atur. Mulai dari layout, isi tulisan apa aja, sapa aja anggota saya, pokoknya semua-semuanya, saya pengen semua sesuai dengan keinginan saya. Dan Alhamdulillah, saat itu kelompok saya menang. Padahal kompetisi itu diikuti dari kelas satu sampe kelas tiga SMP.

Waktu kelompok saya diumumkan sebagai juara pertama, sejujurnya saya tidak memprediksi, tapi saya gak kaget karena saya tahu bahwa majalah saya layak menang (hehehe. Narsis? Dikit gapapa lah). Tapi saya gak nyangka aja majalah rancangan hasil iseng-iseng saya itu bisa menang. Padahal untuk kriteria suatu majalah, banyak standar yang tidak terpenuhi. Misalnya kayak kata pengantar, daftar isi, cover, de el el. Banyak banget yang kurang. maklum, waktu itu saya belum dilatih ama guru bahasa saya, jadi saya bikin sesuka hati. Makanya waktu saya liat majalah buatan kakak-kakak kelas saya, mereka komplit banget. Memenuhi kriteria suatu majalah. Tapi kalau mengenai konten, saya akui masih lebih berbobot majalah buatan saya (Narsis lagi?? Ya ampun, gak kok. Cuman melihat fakta). Hehe. Soalnya, kalo ga lebih berbobot, gak mungkin menang kan??

Btw, saya ngomongin masa kecil saya bersama majalah tuh ga bermaksud menyombongkan diri atau pamer, tapi cuman menceritakan masa lalu yang indah dan masih terkenang hingga sekarang. Dari hati yang paling dalam, saya ikutan lomba majalah gak berorientasi buat menang. Sama sekali ga berpikir ke sana. Yang ada dalam pikiran saya saat itu, saya cuman pengen have fun, tanpa beban, dan enjoy. Dan ternyata, alhamdulillah, dampaknya positif sekali bagi saya dkk.

Sejak saat itu, saya menyadari, zona nyaman saya adalah menulis. Saya senang menulis dan membaca. Menulis membuat saya bebas berekspresi dan berpendapat, tidak ada yang melarang dan tidak ada yang sakit hati (kecuali jika tulisan tersebut diedarkan atau menyinggung pihak lain).

Menulis juga membuat saya mendapat kesempatan jadi Reporter Tamu Model Kawanku 2004. Alhamdulillah lagi, saya bisa jalan-jalan di Jakarta for free, nginep di Ancol gratis, makan enak 3 kali sehari, ketemu selebritis yang lagi top-topnya waktu itu, kenalan ma banyak orang baru yang berbakat dan menyenangkan. So nice! 😀

Menulis oh menulis. Karena kegiatan yang menyenangkan ini, saya akhirnya ikutan unit majalah di kampus, magang di divisi Media Komunikasi dan Informasi (Medkominfo) di himpunan, jadi editor majalah online Proficio! (majalah yang mempromosikan ITB ke seluruh jagad menjelang ITB Fair 2010). Semua menyenangkan dan membuat saya berkanalan dengan teman-teman baru dan pejabat-pejabat di kampus. Dan waktu itu unit saya sempat ngadain acara jalan-jalan ke Jakarta buat berkunjung ke TvOne dan Gatra (Parah, saya pengen bangeeeeet ikutan),tapi saya ga bisa ikut gara-gara ada kuliah full. Dan beruntung saat itu saya tak tergoda membolos karena ternyata ada kuis. (Bayangkan padahal waktu itu baruuuuuuu aja masuk minggu ke-2 semester baru). Alhamdulillah Allah SWT memberi saya pencerahan sebelum mengambil keputusan. Hehehe.

Zona nyaman lain yang selalu saya kangenin adalah rumah saya di Balikpapan, Kalimantan Timur. Dan rumah saya di Bougenville, Antapani, Bandung. Semua yang serba rumah pribadi saya, saya senang berada di dalamnya. Mungkin karena saya tergolong anak rumahan, makanya saya senang ada di rumah seharian. Akibatnya, kamar saya di rumah itu harus ditata sesuka saya, semau saya, dan serapi mungkin (karena saya ga tahan berantakan terlalu lama). Hohoho.

Nah, melihat hal-hal yang membuat saya nyaman itu selalu saya lakukan setiap hari dan selalu saya usahakan berada bersama saya, saya menyadari bahwa banyak hal-hal baru lain yang tidak tersentuh oleh saya. Dimana mungkin bisa sama menyenangkan atau bahkan mungkin lebih menyenangkan dari yang sekarang saya kerjakan (Atau sebaliknya? Hmmmm…mungkin aja). Tapi, lagi-lagi, saya senang dunia menulis, membaca, menggambar, kamar kosan, kamar di rumah, masak kue, pokoknya semua yang cocok di hati saya, saya selalu excited melakukannya, meski orang terkadang heran ama saya. Bahkan ada temen saya saya yang ngomong,”Gak bosen Din kamu di situ-situ aja?”

Hahaha. Saya cuma bilang,” Saya senang sih melakukannya, jadi gak pernah merasa berat atau bosan.”

Well, pesan yang saya dapat dari pengalaman hidup saya yang nyaris 20 tahun, dan yang efektif baru 7 tahun, adalah : temukan zona nyaman kita, dan lakukan hal-hal yang menyenangkan dengannya.

Love writing so much.

🙂

Enggan Meninggalkan Zona Nyaman

Saat Beberapa Keyakinan Hanya Tertuju Pada Satu Zat yang Maha Agung

Assalamualaikum…
Met pagi menjelang siang semuanya…

Entah mengapa, Rabu pagi ini tiba2 saya ingin membuat tulisan ini. Dengan tema : Allah yang Maha Agung. (ceilaaaaahhh…saya. Lho?!)

To da poin yaaaaa.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya kerap kali bertemu dengan orang-orang yang kuat imannya. Baik itu sekeyakinan dengan saya atau yang berbeda keyakinan. Namun, ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala saya saat saya sedang merenung kisah sehari-hari tersebut.

“Mengapa kita sebagai manusia, sering (atau bahkan selalu) mempermasalahkan perbedaan keyakinan, dengan saling menyalahkan dan mengumbar kekurangan keyakinan orang lain, padahal zat yang disembah hanya satu, dan ajaran yang diajarkan pun selalu menuju kepada kebaikan?”

Nah, itu pertanyaan yang sekarang selalu muncul di batin saya, tiap kali ada orang yang mempermasalahkan hal tersebut. Sebenarnya hal tersebut muncul bukan akibat diskusi serius, tapi sekadar obrolan biasa di tengah canda. Atau saat saya sedang melihat situs jejaring sosial beberapa teman saya, dengan penuh ekspresinya dia memprmasalahkan hal tersebut. Atau saat saya membaca blog orang lain, yang (maaf) mengolok-olok keyakinan saya, Rasul saya, bahkan Allah SWT yang sangat saya cintai.

Padahal, apa guna agama itu sendiri?
Semua agama mengajarkan perdamaian, mengajarkan untuk cinta sesama. Lalu mengapa, kita manusia bisa, yang punya banyak kekurangan di mata Dia, dengan penuh ke-PD-annya, mengumbar kekurangan orang lain atau keyakinan orang lain. Pentingkah? Dan dimana rasa malu itu di dalam diri setiap manusia? Adakah Allah SWT yang aku cintai tersebut mempermasalahkan keyakinan manusia yang berbeda-beda?

Fiuuhh..entahlah.
Setau saya, manusia kalo meninggal, ruhnya akan kembali kepada-Nya. Zat yang menciptakan dan memiliki jiwa-raga ini seutuhnya. Lalu, apa lagi yang manusia olok-olok? (lagi-lagi) entahlah.

Seringkali penyebab pertikaian manusia di muka bumi terjadi akibat perbedaan keyakinan. Orang yang keyakinannya A tidak suka pada orang yang keyakinannya B. Lalu terjadi terorisme, pembunuhan, dan segala cara supaya si ‘lawan’ memiliki hidup yang tidak tentram. Haruskah kita, manusia yang hanya segelintir debu di hadapan Dia, menyakiti saudara sendiri?

Well….semoga saja bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.

🙂

Saat Beberapa Keyakinan Hanya Tertuju Pada Satu Zat yang Maha Agung