Hei,hei,hei! Hei kawan!

Entah mengapa judul post kali ini saya adopsi dari lagu ‘Marilah Kemari’ yang dipopulerkan Titiek Puspa.

Btw  teman2, follow saya ya : http://twitter.com/ayudiadini

Ada hal yang ingin saya komentari tentang berbagai situs jejaring sosial yang sedang heboh-hebohnya saat ini. Bermula dari friendster (Subhanallah, ini jaman saya kelas tiga SMP, dimana saya minta temen2 saya ngisi testimoni saya dan nge-add saya. Sayangnya saat ini sudah non-aktif gara2 kebanyakan alay. Huahahaha) dan yang paling update sekarang adalah facebook. Lalu situs ‘ganti-ganti status’ seperti twitter, plurk, dan situs ‘nanya-nanya hal yang kurang penting’ seperti formspring. Fiuuhh…cepat sekali informasi menyebar.

Well, pertama saya pengen ngomentarin orang-orang yang saya follow di twitter. Bayangkan, dalam waktu yang sangat singkat, bahkan nyaris tidak ada jeda waktu, beberapa dari orang2 tersebut mengganti statusnya. (Status adalah pernyataan seseorang yang ingin dia publikasikan ke khalayak ramai).

Orang yang rajin ganti status ini sebagian besar adalah bocah2. (Bocah di sini adalah siswa SMP-SMA). Bocah2 ini merupakan sepupu saya dan adik teman kuliah saya. Info yang amat-sangat-super-duper tidak penting bahkan dipublikasikan.

Misalnya nih :

1. Detik pertama : ngantuuuk

2. Detik kedua : gosok gigi dulu ahh

3. Detik ketiga : mau bobo, berdoa dulu. Moga bisa mimpi indah

4. Detik keempat : hehe.ga jagi bobo. abang pulang bawa martabak 😛

5. Detik kelima : ambil martabak pisang atao keju? Dua-duanya aja 😀

6. Detik keenam : @abangku : makasi ya martabaknya enaaaak

7. Detik ketujuh : (dan seterusnya, dapat Anda perkirakan sendiri)

Well, jujur aja, itu agak mengganggu pemandangan home saya di twitter. Bahkan mengucapkan terimakasih ke sodara sendiri yang sedang duduk di samping kanan meja makan saja harus lewat twitter. Wuaduh. Labil luar biasa.

Selain itu, ada juga teman2 kuliah saya yang hobi ganti status di twitter. Biasanya mengenai permasalahan kuliah. Tugas yang banyak. Waktu ujian yang semakin dekat. Ato nanya data laporan praktikum. Ato ngebales pertanyaan teman tentang kuis tadi siang. Ato apa pun. Dimana hal2 tersebut efektif kalo sama2 online. Ya, nggak masalah, asalkan benar-benar memberi manfaat kepada yang menggunakan.

Mungkin yang menjadi permasalahan dari amat sangat majunya teknologi komunikasi di dunia adalah (menurut pendapat saya pribadi) manusia menjadi semakin kurang bersosialisasi secara fisik, dimana maksud saya ‘fisik’ di sini adalah bertatap muka dan mengobrol. Dunia semakin dikompress dalam notebook yang bisa dibawa kemana-mana. Semua jadi serba mudah. Menyapa teman di kutub utara cukup dengan online di warnet atau hape.

Namun, menurut saya, kurangnya sosialisasi secara fisik menyebabkan manusia menjadi semakin mendekati anti-sosial, sibuk dengan diri sendiri dan malas bergerak, meski situs jejaring sosial makin banyak macamnya.

Misalnya nih, dalam kehidupan nyata yang saya rasakan, dalam kegiatan di kampus. Pengumuman suatu kegiatan penting disebarkan lewat facebook. Seringkali facebook membantu (bahkan amat sangat menolong) apabila semua orang yang kita tuju punya facebook. Tapi akan sangat mis-komunikasi apabila ternyata ada yang tidak punya facebook karena si orang yang memberi pengumuman merasa dia sudah menyebarluaskan, tapi ada temannya yang tidak dapat info. Akibatnya si orang ini tidak ‘mengomongkan’ hal penting itu kepada teman yang tidak punya akun facebook, yang akibatnya dia menjadi tidak tau ada hal penting sedang terjadi di angkatannya.

Akibat lain dari makin berkembangnya situs jejaring sosial di dunia maya adalah menjadi kurang akrabnya manusia satu sama lain. Hal ini menurut saya terjadi karena manusia makin canggung mengobrol tatap muka, dan lebih senang ngobrol ‘pake tangan’ a.k.a ngetik di laptop.

Namun, bisa juga terjadi sebaliknya. Manusia menjadi merasa semakin dekat satu sama lain karena sudah terlalu sering komunikasi di dunia maya, di dunia nyata pun semakin akrab.

Nah, hal negatif lain akibat situs jejaring sosial dan berkembangnya teknologi komunikasi adalah : manusia menyepelekan pengumuman. Pengumuman lewat tatap muka dianggap repot. Pengumuman dianggap lebih hemat tenaga apabila disebarkan lewat SMS, note facebook, atau website. Sayangnya, belum tentu semua orang bisa mengakses internet di saat pengumuman itu disebarkan. Teman2 saya masih banyak di kosannya tidak ada sambungan internet, jadi harus ke warnet apabila memang perlu.  Nah, itulah yang mengecewakan saya.

Jujur aja, saya kecewa di poin paling akhir, yaitu tentang menyepelekan pengumuman secara tatap muka. Entah lewat poster, pawai keliling kampus, hingga nyamperin langsung si calon undangan suatu acara. Manusia menjadi malas melakukan sesuatu yang lebih real di dunia nyata. Akibatnya feel suatu acara oke menjadi kurang terasa. Tidak heboh dan tidak menggigit.

Acara ITB Fair 2010 yang heboh menurut panitia, tidak heboh menurut orang-orang di luar kepanitiaannya. Bahkan seorang dosen farmasi yang sempat saya wawancara bilang, dengan kalimat yang sudah saya singkat dan pada intinya begini : Di ITB sekarang kalo ada acara tidak terasa apa pun. Beda ama jaman dulu. Kalo ada acara, satu ITB tuh tau. Bahkan orang-orang di luar ITB bisa tau.

Bisa Anda simpulkan?

Padahal jaman dulu belum ada hape, bahkan internet. Tapi orang2 jaman dulu lebih bekerja-keras demi mempopulerkan sesuatu. Tidak cuman ambil hape dan nge-sms, tapi pasti lebih dari itu. Saya kagum, dan saya harap saya bisa mencontoh semangat mahasiswa zaman dahulu. Pantang menyerah, ikhlas dan totalitas dalam mengerjakan sesuatu.

Oke, sekian dulu cerita-cerita saya.

Btw, tulisan di atas adalah pendapat pribadi, bila ada hal yang kurang berkenan mohon dimaafkan dan dimaklumi. Mari kita bertukar pikiran !

😀

Hei,hei,hei! Hei kawan!

Detik2 Menjelang Mengerjakan pe-er

Haiiii.. 🙂

Baru bangun tidur dan sedang makan siang, padahal jam baru saja menunjukkan pukul 9 lewat 19 menit di pagi hari.

Hmmm. Cerita apa ya.

Mungkin tentang diri saya yang sedang akan mulai aktif lagi di unit saya yang sempat saya ‘cuekin’ selama semester kemarin, yaitu Boulevard-ITB. Hummm… semoga saya bisa berkarya yang terbaik buat organisasi yang saya ikuti.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang himpunan, jaket himpunan saya masih ada slayer putih2nya. Hal yang menyebabkan saya enggan mengenakan jahim gara-gara ada slayer putih cuih-nggak banget-nggak oke-yang melambai-lambai kalo ikatan di bawah ketek lepas. Ya, begitulah realita.

Saya akan pakai kalo sudah melewati upacara pelepasan slayer putih itu. Upacara? ho oh, kata senior2 di himpunan si gitu. Ada upacaranya lagi untuk melepas slayer. Oke lah. Saya tunggu saja.

Kemudian angkatan saya di himpunan sekarang sedang menjabat untuk mengkader angkatan selnjutnya, yaitu angkatan 2009. Semoga kami sukses membentuk kader-kader HMM yang lebih baik ya. 🙂

Lalu…apa lagi ya.

Oh ya, saya harus segera mengerjakan pe-er analisis numerik dan pemrograman. Wish me luck.

Detik2 Menjelang Mengerjakan pe-er