Aura Toga Wisudawan

Waktu menunjukkan pukul 12 kurang 18 menit malam hari, dan saya iseng membuka account situs jejaring sosial saya. Musik laptop saya mengalunkan lagu ‘Waving Flag’ yang dipopulerkan Knaan (buat yang agak asing ama judul lagu ini, pastinya tau lagunya. Iya lah, lagu ini soundtracknya World Cup 2010 yang semakin mendekat :-D)

Nah, ngomong2 tentang account jejaring sosial saya itu, di home saya bermunculan berbagai news feed (buat yang agak asing ama istilah ini, news feed adalah hal-hal yang dituliskan atau dilampirkan teman-teman saya supaya bisa dilihat oleh orang lain. Bisa berupa pendapat, cerpen, foto, bahkan video). Dan yang sedang heboh di news feed ini adalah foto-foto wisuda kemarin. Saya senang melihat foto-foto wisudawan-wisudawati yang mengenakan toga kebanggan institut terbaik bangsa. Buat yang pria, kegagahan bertambah beberapa derajat, apalagi ditambah dengan setelan jas dan sepatu yang rapi. Buat yang perempuan, jadi angguuuuun banget dengan kebaya dan konde atau kerudung yang ditata apik. Raut wajah mereka menampakkan kesenangan, puas, bangga, akhirnya bisa lulus juga. Hmmmm…. Dan ketika saya mengucapkan selamat kepada teman saya yang diwisuda, dia bilang begini,”….semoga cepat menyusul ya.”  Amiiinnn… 🙂

Tapi, ngomong2 tentang ‘segera nyusul’ itu,saya tidak terlalu menargetkan harus cepat selesai dari kampus ini. Meski ada teman2 saya yang membuat status di twitter atau facebook mereka untuk segera lulus, tapi kalo saya pribadi, jalani saja dulu. Haha. Entah mengapa, saya ingin semua ini enjoy aja. Saya ingin menikmati semua jalan hidup saya tanpa harus memaksakan cepat selesai.  Well, apa si tujuan masuk kampus terbaik bangsa? Nyari jodoh? Lulus dan lanjut lagi S-2, S-3 hingga S-teler? Ngikutin apa maunya ortu? (Kalo saya sih yang ini. Haha). Atau gampang nyari kerja??

Well, semuanya balik ke diri sendiri lagi kok. Gak masalah mau apa pun tujuannya masuk kampus tercinta, tapi yang terpenting adalah kepuasan batin dapat memenuhi target kehidupan. Karena ukuran sukses dan bahagia tiap orang beda-beda. Kalo melihat kehidupan saya sehari-hari, dari hidup teman-teman saya yang satu jurusan, ada orang yang senang bisa ambil SKS banyak banget semester ini. IP-nya bagus, bisa ambil sampe 24. Senang karena yakin bisa cepat lulus, kerja, dan tidak merepotkan orangtua. Ada juga teman saya yang lain, senang bisa lulus suatu mata kuliah ‘gila’ meski hanya dapat nilai di perbatasan. Saking senangnya lulus di mata kuliah ‘gila’ itu, main game-nya jadi kebanyakan (untuk merayakan kesenangan), eh ternyata ga lulus di mata kuliah lain. Meski gitu, dia tetep hepi, aktif di himpunan, dan jadi penggerak acara2 himpunan. Di sana dia memperoleh kesenangan. Nah, ukuran kebahagiaan tiap orang berbeda-beda kan?

Begitu pula untuk wisuda. Teman saya yang kakaknya diwisuda tahun lalu, malah bilang,”Kakakku malah lebih seneng jadi mahasiswa karena ga dibilang pengangguran”.

Ada juga yang senang banget diwisuda. Akhirnya bisa lulus setelah melewati tahun-tahun perjuangan yang tidak mudah.

Tapi dari semua suasana hati itu, saya sendiri sebagai panitia, melihat bahwa acara di hari wisuda begitu sakral dan suka-cita. Semua senang, semua gembira. Semua senior yang mengenakan toga terlihat dewasa dan oke banget. Aura dewasa-nya memancar, seakan-akan siap melaksanakan tugas selanjutnya, sebagai mantan mahasiswa (atau pengangguran?? Entahlah). Yang jelas, saya senang bisa masuk kampus yang hebat dan penuh tradisi ini, dan semoga tradisi yang baik dapat diteruskan oleh generasi2 selanjutnya. 🙂

Aura Toga Wisudawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s