Video Porno dan Perilaku Manusia Sehari-hari

Jam tangan saya menunjukkan pukul 11 lebih 40 menit WITA. Selang beberapa menit yang lalu, saya menyaksikan TvOne : Apa Kabar Indonesia. Awalnya acaranya mengenai SBY yang datang ke Surabaya untuk memperingati hari Koperasi Nasional yg ke-63. Dan berhubung Jawa Timur merupakan lokasi perkembangan koperasi yang pesat sekali (Omzetnya mencapai 13 M lhooww), maka peringatannya dilaksanakan di Ibu Kota Jawa Timur. Wah, keren juga ya. Semoga provinsi2 lain juga bisa mengikutinya. 🙂

Lalu karena SBY belum datang (acaranya merupakan siaran langsung), maka TvOne bilang kira2 begini : “akan kami siarkan kembali setelah SBY datang dan menyampaikan pidatonya”. Oke deh, dan saya mengambil sapu untuk menyapu rumah (Lho?? Hehe).

Ya, sambil nyapu2 saya dengerin TvOne pagi ini. Di sela2 menunggu pidatonya Pak Presiden, presenternya ngomong gini ,”7 siswa SMP di Jember melakukan tindakan asusila. 6 diantaranya laki-laki berusia 15 tahun dan 1 adalah perempuan berusia 13 tahun. Mereka membuat video mesum meniru video porno Ariel”

Lalu saya liat tulisan di bagian bawah layar televisi (kira2 begini) : “Video Ariel Mempengaruhi Perilaku Negatif

What the duck? I think that so stupid to get a conclusion like that.

Oke, saya di sini bukan untuk membela Ariel atau Luna Maya atau Cut Tari, tapi saya bingung banget, kok bisa kesimpulan yang ditayangkan oleh media elektronik begitu tidak masuk akalnya. Kenapa saya menyebutnya tidak masuk akal? Ya, begini aja deh.

Video porno di Indonesia menyebar bukan cuman sejak video Ariel tuh nyebar di masyarakat. Coba aja jalan2 ke kolong jembatan di Glodok. Wuiiiiiidiiiiihhh, full tuh yang namanya VCD porno. Sampulnya aja dah ‘begitu’ (jujur aja waktu itu saya merinding lewat sana. Pengen ada pintu doraemon yang bisa saya pake buat langsung balik ke rumah).

Dan sekarang coba kita liat kembali si 7 remaja SMP dari Jember yang perilakunya asusila begini (No SARA ya teman2, ini hanya kebetulan contoh yang saya tulis dan baru saja saya dengar. Buat yang merasa orang Jember, mohon tidak tersinggung. Take the positif one, oke). Mereka membuat video serupa video Ariel tsb dengan menggunakan kamera hape. Astagfirullah. Sebagai remaja dan duduk di bangku SMP, seharusnya ya sudah bisa berpikir, mana yang baik mana yang buruk. Tapi kalo pengawasan dari orangtunya kurang, teman2nya sama aja bejatnya, dan sehari-hari yang diobrolin dan dipikirin cuman hal2 negatif, ya menurut saya wajar aja kalo mereka membuat video tsb. Jadi, jangan salahkan orang lain kalau diri sendiri yang tak mampu. Tak mampu di sini bisa diartikan tidak mampu menjaga sikap positif dan tidak mampu bersabar hingga waktu yang tepat.

Ada perkataan dari narasumber TvOne saat ditanya : bagaimana supaya remaja tidak terjerumus ke tindakan asusila? Trus si narasumber bilang begini,”Pentingnya pengawasan orangtua dan pendekatan rohani”. Nah, jadi kalo si remaja bertindak begitu, yang salah siapa? Orangtua dan agamanya? Ya kan nggak.

Semuanya balik ke diri masing2. Apalagi saat si narasumber ditanya : apakah ini artinya dampak teknologi yang terlalu canggih? (mengingat si bocah2 SMP merekam dengan kamera hape). Trus si narumber jawab ,”Kita tidak bisa menyalahkan teknologi. Yang perlu diperhatikan di sini adalah tindakan kita saat mmanfaatkan teknologi tersebut.” Saya tambahin ya…

Nah, jadi kalo teknologi kita manfaatkan untuk tujuan positif, hasilnya positif. Kalo tujuannya negatif, hasilnya negatif. Ya kan?

Balik lagi ke tindakan remaja bejat.

Saya kok gemes ya ama media yang semakin memojokkan satu pihak saja? Apalagi kalo bermunculan tindakan pemerkosaan dan penyebaran video yang menjamur setelah video porno si Ariel menyebar di masyarakat. Lha, kok salah si Ariel? (Saya bukan membela Ariel, hanya saja saya mencoba untuk mencari sudut pandang lain dibanding apa yang sudah diberitakan oleh media). Apalagi waktu itu saya sempat menonton televisi, trus ada anggota DPR yang termasuk artis papan atas Indonesia, tapi saya lupa namanya siapa, dia bilang,”Di daerah pemilihan saya, ada putri Kyai ikut2an bikin video begitu” Nah lho???!!! Trus itu salah si Ariel? Bukankah itu salah si Kyai ya selaku orangtua? (No offense, please. Just take another angle of a quotation). Saya tambah bingung sehabis menyaksikan omongan si anggota DPR itu.

Well, mungkin sekian uneg2 saya menanggapi pemberitaan media yang lebay dan menanggapi kesimpulan yang muncul dari satu sudut pandang saja oleh sebagian masyarakat.

Video Porno dan Perilaku Manusia Sehari-hari

2 thoughts on “Video Porno dan Perilaku Manusia Sehari-hari

  1. nice thought din.
    media2 itu memanfaatkan momen. karena berita jadi biasa aja kalo cuma ditulis sepasang siswi sma merekam video.

    satu lagi ariel dan teman2 videonya itu adalah figur publik. figur anak muda lebih spesifiknya. yang jadi contoh oleh anak2 zaman sekarang, mulai dari gaya rambut sampe cara ngomong. bisa jadi juga sampe cara bikin video. so?
    *bikin diskusi gini di boul deh. seru lho.

    1. dini ayudia says:

      Thanks ray tanggapannya.. 🙂

      Iya, memang sebagai public figure resiko si Ariel ditiru besaaaaaaaarrr sekaleeee. Ada juga anak SD nonton video Ariel rame2, bukankah itu mengartikan si orangtua yg tidak dapat mengawasi tontonan anak2nya??

      Mungkin ini dampak positif buat ortu2 Indonesia supaya lebih awas dalam menjaga anak.

      *O ya, thanks masukannya ya ray 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s