Pelangi dan Jari Telunjukku

Setiap hari di masa SD, saya selalu pulang dengan bis sekolah bersama2 teman2 yang satu kompleks dengan saya.

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang bis sekolah. Mungkin hanya tentang bis sekolah yang berganti mobil hingga 3 kali (menurut pengalamannya saya hingga lulus dari sekolah dengan institusi yang sama), dan om supir bis yang berganti satu kali, awalnya om supir bis 40 (Om Burhan) lalu berganti jadi om supir bis 31(Om Junaedi). Kalo tak salah namanya begitu.

Di suatu hari di masa2 SD, antara kelas 3-5, seperti biasa, pulang sekolah sekitar pukul 2 siang. Cuaca agak gelap, awan kelabu masih menutupi langit, dan ada tetesan rintik-rintik air yang tidak terlalu deras masih menetes. Kemudian teman saya berteriak,”Eh, ada pelangi.”

Satu bus pun heboh (maklum, bocah2 polos dan lugu),”Mana? Mana? Mana?”

Saya yang telah melihat, lalu menujuk. “Itu tuh pelanginya.”

Pelangi itu membelah awan2 kelabu. Kakinya yang terlihat oleh saya terletak di belakang kilang minyak Pertamina. Mungkin di lautan yang pandangannya tertutup oleh pohon-pohon hijau di sekitar kilang minyak. Indah. Cantik sekali.

Lalu teman saya bilang,”Jangan ditunjuk pelanginya, ntar hilang.”

Saking polosnya, saya segera tarik tangan saya, langsung membatin dalam hati,”Ya Tuhan, jangan hilang dulu dong. Saya masi ingin lihat.”

Saat itu saya senang sekali. Ternyata pelangi itu nyata, tidak hanya ada di dalam lagu, namun ternyata benar-benar ada wujudnya, meski hanya berupa warna yang tidak bisa disentuh. Saat itu saya terus memandangi pelangi cantik itu, hingga akhirnya tidak terlihat lagi oleh pandangan saya karena bis yang semakin menjauh dari kilang minyak.

Saat bis tiba di depan rumah, segera saya tengadahkan wajah ke langit, mencari-cari pelangi yang tadi saya lihat. Ternyata sudah tidak ada. Sudah hilang. Saya pun kecewa. Saya pun mengambil kesimpulan,”Pasti pelanginya hilang gara2 saya tunjuk.”

Sejak saat itu, saya percaya bahwa pelangi tidak boleh ditunjuk agar tak hilang. (Haha. lugu sekali. Bersyukur sekarang saya sudah sedikit logis dan menganggap itu hanya mitos bocah2 kecil)

Ngomong-ngomong tentang logis, saya jadi teringat berbagai mata kuliah yang menghadang saya minggu ini dan beberapa minggu selanjutnya. Banyak sekali. Ditambah lagi laporan praktikum yg harus dikumpulkan di hari2 yang seharusnya dapat saya pergunakan untuk menyicil pelajaran.

Kata dosen saya sih,apabila kita mengerti suatu mata kuliah, kita hanya cukup menggunakan akal pikiran karena segala sesuatu itu adalah logis. Menumpuknya rumus Perpindahan Panas, Mekanika Fluida, Elemen Mesin, dan kawan-kawannya yang lain menjadi tidak berarti bila kita tidak mengerti. Yeah, dimana artinya kita juga belum bisa menyerap hal-hal logis dari hal tersebut.

Hmmmmm…dan hari2 itu semakin mendekat, dan tidak ada waktu untuk mengeluh.

Hidup adalah masalah. Jika hidup tanpa masalah, itulah masalahnya *kata-kata dari teman saya yang dia tuliskan di buku angkatan SMA*

Well, wish me luck yeah.

😉

Pelangi dan Jari Telunjukku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s