Puasa

Suatu hari, di hari terakhir saya liburan di Balikpapan, saya melewati mesjid mungil di dekat kantor, dan membaca spanduk sederhana bertuliskan sbb :

“Hormatilah Orang yang Berpuasa”

Ehm, well, jujur aja, saya ga begitu suka dengan tulisan tsb.

Ingin dihormati karena puasa? Padahal, apa sih esensi puasa sesungguhnya?

Jalan2 ke mana pun, di saat puasa, akan meringankan beban saya kalo semua berjalan seperti biasa.

Berjalan seperti biasa di sini maksud saya adalah toko2 dan warung2 tetap buka layaknya hari non-Ramadhan, orang makan-minum dengan bebas, dan terserah aja lah mereka mo ngapain. Saya justru enjoy banget kalo semua berjalan normal. Yang ada malah saya yg ga enak karena ngebikin orang lain yang laper atau haus malah ngumpet2 sekadar untuk mengisi perutnya.

From my deepest heart honestly.. (ceilah…)

Kalo orang dah ngerti esensi puasa yg sesungguhnya, mereka ga akan pernah minta untuk dihormati, apalagi ampe masang spanduk dengan tulisan segede itu. Mereka ga akan melototin orang yang makan di angkot, ga akan tiba2 nyerang warung remang2 di malam shalat tarawih, ga akan ada yang tiba-tiba main hakim sendiri merazia pasangan-pasangan muda yang sedang berdua.

Karena (terinspirasi dari ucapan putri Indonesia tahun 2000 sekian, lupa namanya sapa, ntar kalo inget saya tambahin 😉 ) sebenernya nih, menurut saya pribadi, urusan keyakinan dan kepercayaan manusia itu pure urusan dia, si individu, vertikal tegak lurus dengan Allah SWT.

Kalo diibaratkan dalam Hukum I Newton, saat menghitung gaya arah vertikal, kita cukup resultankan gaya2 yang bekerja di arah vertikal. Dan saat menghitung gaya horizontal, kita cukup resultankan gaya2 yang bekerja di arah horizontal. Dan saat ada gaya yang membentuk sudut tertentu, kita harus memisahkan antara gaya vertikal dan horizontal agar perhitungan dapat dilakukan.

Apa artinya? Artinya : Aturan vertikal (hubungan dengan Allah SWT) ga bisa dicampur aduk dengan aturan horizontal (hubungan antar manusia dan umat lainnya di muka bumi).

Jadinya, kalo ada orang yg tiba-tiba nasehatin saya sesuatu (apa pun, yg berhubungan dengan romantisme saya dengan Allah SWT), belum tentu dapat langsung saya telan bulat-bulat. Saya balikkan lagi ke logika saya sendiri dan kebutuhan saya sendiri.

Bahkan mengenai puasa ini. Saya yakin, Allah SWT tidak pernah membebankan umatnya kesulitan karena Dia ingin dihormati. Dia selalu mebebankan kesulitan agar umatnya mencapai kemudahan dan kebahagiaan setelahnya. Dan tentu saja,saya yakin, Allah SWT bersama saya dan tahu niat saya.

Allah SWT tahu bahwa saya menulis blog ini hanya sebatas pemikiran pribadi, pemikiran polos seorang remaja yg masih perlu banyak belajar. Dan Allah SWT tahu bahwa saya sayang Dia, dan saya tahu bahwa cara kita mencintai Allah SWT tentu berbeda-beda.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yg menjalankan 😉

Puasa

3 thoughts on “Puasa

    1. dini ayudia says:

      Halo Rian, thanx dah nyempetin berkunjung..
      Hehe, no offense yaw..hanya pikiran anak ingusan di blog kecilnya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s