Belajar Optimis

Sebelum memulai menulis postingan malam ini, saya ucapkan :

“Met Lebaran bagi yang merayakan. Maap lahir-bathin ya, dan semoga kita semakin baik setelah Ramadhan tahun ini.”

Huah. Akhirnya ini postingan pertama saya setelah 3 bulan belakangan.

Sebenarnya banyak yg ingin saya ceritakan, namun yang paling mendesak ya sebenernya tentang curhatan saya mengenai judul postingan ini (ceilaaah… Sok tua amat,Din)

Hmmm..oke, kita mulai dari : Kenapa judul postingan saya yg ini serius sekali?

Beginilah ceritanya..

Pagi itu, sekitar jam 9 pagi, saya lupa saya abis ngapain (padahal baru 2 hari yg lalu), tapi abis ngapain saya ini ga begitu penting sih. Yang ngena banget di saya hari itu adalah, saat saya sedang berjalan dari Pasar Simpang Dago menuju kosan saya di Kanayakan Baru dan melewati kantin Tegal (yang depan kantor Telkomsel Dago itu lho).

Saya berpapasan dengan seekor meong warna kuning, mirip Garfield gitu. Kucingnya besar, ga kurus lah pokoknya. Kucing kampung yang kotor gara2 emang kehidupannya ya cari makan di tempat sampah.

Meong kuning ini awalnya jalannya pincang saat berpapasan dengan saya. Namun setelah beberapa langkah, dia hanya menggunakan 3 kakinya yang lain, dan salah satu kaki depannya tak dia gunakan lagi.

Ternyata kaki kirinya patah (pas di tengah tungkai kakinya), jadi saat dia jalan dgn 4 kaki, terlihat lurus namun pincang. Dan saat berjalan dgn 3 kaki, kaki kirinya terlihat goyah dan terayun-ayun (Uuuuuuuhh…sedih banget liatnya).

Saat melihat itu, saya benar2 merasa ditegur.

Seekor meong kuning yang (yah ukurannya seberapa sih dibanding saya? Cuman sepersekian berat badan saya) pincang, kakinya patah, tubuhnya penuh luka, dan tentunya merasa kesakitan yg luar biasa akibat tulangnya yang patah, tetap berjalan entah kemana, mencari hal2 terbaik yang mampu dia kumpulkan untuk kebaikan dirinya sendiri.

Sapa yang peduli ama diri dia? Gak ada. Gak ada yang bantu dia dengan membawa dia ke dokter untuk ngobatin kakinya, dan gak ada rumah yang menampung dia untuk berteduh.

Tapi dia peduli dengan diri dia. Dia peduli dengan kelangsungan hidup dia besok.

Dia ga memohon iba kepada siapa pun yang dia temui di jalan. Dia (mungkin) hanya tau dan yakin, kalo masih ada tempat sampah atau kantong plastik di pinggir jalan yang berisi tulang ayam atau sisa makanan yang masih bisa dia makan demi hidup dia. Dia yakin masih ada genangan air yang bisa dia minum di saat dia haus. Karena dia tau, dia ga bakal bisa terus hidup kalo bukan dirinya yang berusaha.

Hiks.

Dan saya ternyata hanya manusia lemah.

Sedikit aja susah dah mengeluh ini-itu, komplain ini-itu, males ini-itu.

Padahal saya bisa makan dengan layak, bisa mencari teman untuk bercerita, bisa pergi ke dokter saat sakit, bisa tidur di tempat tidur yang nyaman dan teduh.

Yap, hari itu, detik itu, saya benar-benar belajar banyak hal.

Hanya dari 5 detik berpapasan dengan si Meong Kuning yang Pincang.

Bahwa hidup saya harus lebih optimis.

Karena hanya saya yang peduli dan tahu apa yang saya inginkan di masa depan.

Yang saya perlu pikirkan saat ini adalah usaha untuk mencapainya. Bagaimana itu di depan, biarlah itu menjadi misteri dan menjadi kejutan bagi saya.

Well, hidup hanya sekali,dan saya harus tahu mau dibawa kemana hidup ini.

Semoga kita semua bisa belajar dari hal-hal kecil dari kehidupan sehari-hari.

Belajar Optimis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s