Dream

Image

Winter Dreaming

picture taken from : josephinewall.co.uk

Now, 3 o’clock in the morning, and I still can’t sleep.

Whereas I’m going to do an exam today (calm down, it begin at 7.00 pm),and now I feel so fresh and I can do many things. So I opened up my lappy and writing something here.

May be I wanna share about my fun English conversation class at BLCI Tamansari Bandung. This class really made my day (my day? I though really made my night correctly because it starts every 7-8.30 pm. Haha). I have 8 new smart friends and a fun teacher. My English teacher was born at England (Oh yeaaah, England) and she is another girl at the class. Yeah, from 9 students, I’m the one and only girl. I’d never known that untill I came to the class and realized there was no girl came in after my self. Haha.

Another students are studying at the same institute like me, and they are really really ‘crazy’. They are Joy and Bagus from Petroleum Eng 2008, Kamil from Mining Eng 2008,Wisnu,Wildan,Boy from Telecommunication Eng 2009, Aim from Telecommunication Eng 2010, and Alip from Industrial Eng 2010. They are spontaneous people and Mel (my English teacher) is just the same.

We always have a lot of laugh during the class, especially tonight, when we discussed about dream that we ever had.

Bagus, who really love sharing his stories, told us about his freak dream couple years ago. It was about ‘bloody short message’. He said, in his dream, he received a message at his cell phone that written : “You will die…..” He felt the dream so real and he remembered the phone number. Suddenly, he woke up and he phoned that number. He heard kinda sound, then silent. No sound. Just silent. Then a few days later, he had been told that one of his relative just passed away.

He told us his story expressively, and you, readers, should know others reaction.

Kamil’s face was really ugly,which as though he felt so scared and didn’t want it happened to him.

Suddenly, Joy inhaled in the middle of story, and the entire people in that room laughed spontaniously, but Bagus still told his story seriously. What a crazy and fun moment.

After we shared our dream,we did another game.

We should guessed about others personality from some sentences that we had made using grammar focus in one of sub-chapter from our book.

Mel gathered all students sentences, read one per number, than we should guess who wrote it.

At one from five sentences,when we still trying to make a decision, Kamil made a very ugly expression again. Suddenly Joy said,”Hey, your face looks like a duck.” And, again, the entire class got laught.

What a fun class. U can feel it when you were there. HAHA. This class just broke up my routinity from my final project, exams, lab, and my lectures class.

Hummmm, I should go to bed, unless I feel so fresh rigth now.

Good nigth 😉

Dream

Menangis

Image

sumber gambar : http://babyphotos.co.in

Beberapa hari yang lalu, saat saya sedang iseng cuci mata di BIP, saya berpapasan dengan seorang ayah yang menggendong putranya, dan berjalan beriringan dengan putranya yang lebih besar. Putranya yang lebih besar ini merengek-rengek meminta sesuatu (entah apa), yang jelas ayahnya tidak mau menuruti. Putranya ini lalu menangis (pura-pura menangis lebih tepatnya), berhenti di tempat ia berjalan, sehingga tertinggal oleh ayahnya beberapa langkah.

Ayahnya berhenti, dan entah apa yang beliau omongkan, tapi yang jelas dia gak mau nurutin si anaknya ini. Adik si bocah yang menangis (terlalu besar sih untuk digendong menurut saya) cuman diam melihat kakaknya nangis. Innocent gitu lah muka si adik.

Saya pergi saja, sambil lalu dan tidak begitu memperhatikan, karena jujur aja, saya ga tahan denger suara bocah menangis, apalagi disertai dengan teriak-teriak dan merengek-rengek (persis seperti anak mbak kosan saya. -HELP ME GET OUT OF HERE PLEASE!!!!-). Biasanya kalo sudah terlalu banyak bocah di sekitar tempat saya berada, entah itu saat saya duduk di warung kopi atau restoran cepat saji, saya memilih untuk membawa makanan/minuman saya keluar dari tempat itu, memakan/meminumnya sambil berjalan atau disimpan di tas untuk dimakan di kosan.

Ngomong2 tentang menangis, saya sendiri bukan orang yang suka menampakkan saya terharu atau sedih sejak saya kecil. Posisi saya juga anak pertama (sama dengan posisi si bocah yang berpapasan dengan saya di BIP), namun saya tidak pernah suka mencari perhatian orang dewasa di sekitar saya dengan menangis. Karena sejak kecil, saya selalu berpikir bahwa saya ini orang dewasa. (Wew! Bisa dibayangkan? Di dalam pikiran saya, mungkin sejak saya memiliki adik, saya selalu berpikir saya ini dewasa dan lebih tua, saya gak mau terlihat rapuh dan gak mau orang tau apa yang saya rasa).

Pikiran itu muncul secara alami di dalam otak saya, dan bahkan saya masih ingat sekali, mungkin usia saya saat itu adalah 5 atau 6 tahun, saat melihat iklan biskuit Toddler di tivi. Kalo ga salah ada bocah umur sekitar 3-4 tahun, nonton atraksi lumba2 sambil makan biskuit Toddler. Trus dia mengimajinasikan biskuit itu sebagai sejenis hoola-hoop (bener gini gak sih nulisnya?) sehingga saat ada lumba2 yang loncat, si anak ini seolah2 melewatkan lumba2 melalui hoola-hoop biskuitnya. -Btw ngerti/ingat ga apa yang saya omongin?- Ya pokoknya begitulah. Pada intinya, si iklan mo ngasi tau kalo biskuit Toddler bikin bocah cerdas dan pandai berimajinasi yang positif. Nah, di akhir iklan, si suara ngomong,”Biskuit yang tepat untuk bayi dan balita.”

Dalam pikiran saya, mucul ungkapan : “Yah, Dini ga bisa nyobain dong. Kan Dini udah gede.”

 Akhirnya, meskipun saya ngiler liat tuh iklan, saya kubur dalam2 untuk mencicipi biskuit bayi dan balita (di usia saya yang baru 5 atau 6 tahun) karena saya takut adanya bahan2 dalam biskuit itu yang ga cocok buat saya yang sudah dewasa. bahkan untuk bertanya pada ibu saya sendiri saja saya gengsi (pertanyaan kayak : Ma,Dini bole ga makan biskuit bayi?) karena saya yakin, saya mengerti maksud si iklan, bahwa biskuit itu hanya boleh dikonsumsi bocah2 kecil, dan saya bukanlah seorang bocah.

Bahkan jika saya dan adik saya yang cewe berantem waktu kecil dulu, saya ga pernah suka nyari perhatian ayah/ibu saya dengan menangis. Misalnya saya dan adik saya mau berbagi kartu Sailormoon,si adik saya merasa pembagian ga adil (saya dapet sekitar 5 biji kartu, adik saya dapet 20 lebih), dan dia ga terima. Padahal dah saya jelasin dengan nada yang sabar (tuh kan, umur 5 tahun dah ngerti tata cara bicara yang sabar) bahwa saya dapet kartu dah seupil banget, tapi si adik tetep aja merengek2, dan akhirnya dia nangis.

Waktu itu tante saya lagi di rumah, dan beliau menghampiri kami. Setelah menanyakan apa yang terjadi, dia mengucapkan hal yang serupa dengan apa yang saya bilang, bahwa kartu saya udah lebih dikit. Si adik saya baru berhenti nangis (kayaknya dia lebih percaya apa yang diomongin orang tua dibanding kakak sendiri. Atau mungki salah satu bentuk konspirasi penolakan? Haha).

Saya ga ngomong apa2 waktu itu karena ya itu tadi, saya ga suka menampakkan sedih atau kesal saya lewat nangis atau kata2 secara langsung ke orang yang bersangkutan. Saya cuman ngomel dalam hati : halah, dudul.

Ya, begitulah.

Peace! 😉

Menangis