Selamat Datang Kembali! Peserta Kewiraan BPS Pertamina EP TA 2013-Bagian 1

Selamat Datang Kembali! Kewiraan BPS Pertamina EP TA 2013

Karena tulisan ini didedikasikan untuk Indonesia pada umumnya, dan Pertamina pada khususnya, maka dengan bangga, saya nyatakan tulisan ini saya buat dalam bahasa Indonesia.

Ini hari pertama saya (5 Januari 2014) saya bertemu lagi dengan laptop dan internet, setelah hampir 1 bulan (9 Des 2013-3 Jan 2014) saya dan kawan2 Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) PT Pertamina EP TA 2013 digembleng di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Cipatat, Padalarang, Jawa Barat.

Kegiatan ini disebut ‘Kewiraan’, yaitu masa dimana para peserta BPS dikenalkan dengan kedisiplinan, kekuatan mental, dan jiwa korsa.
Kalau kata para pelatih (pelatih: panggilan kami kepada para TNI-AD yg membimbing kami), diharapkan kami masuk sebagai kambing, keluar sebagai macan. Dan dalam proses perubahan itu, kami sempat berubah bentuk menjadi tekek, kadal, manusia kadal, manusia monyong, dan lain sebagainya. Bagi para peserta BPS, pasti mengerti maksud saya ini 😉
Well, secara keseluruhan, jujur saja, kegiatan ini menyenangkan.
Seolah-olah saya kembali ke masa SMA saya, dengan kadar yg lebih ringan tentunya. Kami menjadi lebih dekat dan kenal dengan rekan seangkatan yg berjumlah 108 orang. Putra 72, dan putri 36. Tidak adanya hape memaksa kami untuk berkomunikasi dengan rekan seangkatan. Kami menjadi lebih sering mengobrol dan curhat dengan teman. Perlahan namun pasti, kami dapat menilai pribadi seseorang karena kegiatan kami dari bangun hingga bangun lagi selalu bersama.
Di akhir kegiatan, saya muncul sebagai macan hitam alias terbakar total.

???????????????????????

Selama di Bumi Infanteri, kami diberi makan 5 kali sehari. 3x makan berat, 2x kudapan pagi dan malam.Meski kegiatan makan kami tergolong berlimpah, namun berdasarkan pengalaman saya, dengan mudahnya, kalori tsb terbakar. Hanya dengan melintasi jalanan di Pusdikif yang naik-turun untuk kegiatan apel, kelas, atau lapangan, semuanya digunakan sebagai energi.

Selain itu, hampir tiap pagi, diadakan senam pagi atau lari pagi.
Lari pagi di Bumi Cipatat tidak bisa dianggap main2.
Di Cipatat, memang ada lintasan lari dengan medan yg datar, namun khusus bagi siswa, medan yg digunakan adalah lintasan menurun-menanjak yang cenderung ekstrim. Sebagian lintasan lari kami sebut sebagai tanjakan aborsi. Saya tidak tau siapa yg mencetuskan istilah ini, namun begitulah kami menyebutnya. Sedangkan tanjakan lain yg kami lintasi untuk menuju lapangan apel, kami sebut tanjakan dosa. Istilah ini muncul dari rekan saya Hida Maulani. Katanya “Ya Allah, dosa apa aku harus melintasi tanjakan ini. Ini tanjakan dosa.”

???????????????????????

Setelah kegiatan kewiraan ini, kami menjadi lebih kenal 1 angkatan.
Selain itu, kami menjadi lebih mensyukuri rezeki yang kami peroleh hingga hari ini dan tidak menyepelekan keberadaan kami di Pertamina. Fasilitas harian yg kami peroleh di PLC (Pertamina Learning Center) tergolong mewah dibandingkan di Bumi Infanteri.
Kalo kata Kapt Inf. Sulaiman,”Kalo berbicara nasionalisme di tempat seperti ini (PLC) ga akan terasa apa2. Tapi kalo bicara nasionalisme di Bumi Cipatat, nasionalisme begitu terasa. Betul tidak?
Bersyukur Alhamdulillah sudah kembali ke Jakarta.
Bersyukur sempat menikmati Bumi Cipatat, tempat RI 1 pernah ditempa. Tempat di mana para pemimpin dilahirkan. Dan semoga, semua tulisan ini adalah doa, dan saya dapat memimpin diri saya sendiri menjadi orang yg lebih baik dari hari yg kemarin.

Namun, perlu diingat, sebaik/seburuk apa pun kondisi lingkungan, untuk menjadi seseorang yg berkarakter, semuanya kembali ke pribadi orang tsb. Mengingat ucapan seorang pelatih, Letda Inf Suprianto,”Jadilah pribadi yang keras, hingga lingkungan menjadi lemah terhadap kamu.”

Semoga hal-hal baik dari Bumi Cipatat bisa kami resapi bersama 😉

Image