Tajam

Ada yang bilang kalo diam itu emas. Memang diam tidak selalu emas, namun jika memang kita tak dapat berkata yang baik untuk tujuan yang baik, maka sebaiknya diam.

Sering dengar kan, orang-orang sukses yang jika ditanya “Apa yang bisa membuat Anda seperti sekarang?

Biasanya, mereka akan menjawab,”Dulu, orangtua saya pernah bilang…” atau “Dulu, guru saya menasehati…” atau “Dulu, dosen saya menegur…” dan lain sebagainya, yang isinya merupakan kata-kata yang menginspirasi orang-orang yang kagum kepada si orang sukses tersebut. Hingga muncul di dalam diri si pengagum¬†motivasi semacam,”Keren banget! Gue juga musti bisa seperti dia.

Well, kata-kata dapat mempengaruhi hidup seseorang.

Saya pernah membaca sebuah cerita pendek, namun lupa cerita tersebut saya dapatkan darimana. Bagi pembaca yang ingat, mohon ditambahkan ūüôā

Ada dua ekor katak terjebak di sebuah lubang yang dalam.¬†Satu ekor katak adalah katak normal (semua indranya berfungsi dengan baik), sedangkan katak lain merupakan katak yang tuli. Ternyata,¬†permukaan tanah tak dapat dicapai hanya dengan lompatan biasa, sehingga mereka berusaha sangat keras untuk melompat setinggi-tingginya. Saat sedang sibuk melompat, beberapa teman katak menyaksikan dari permukaan lubang, sambil mencemooh,”Hei, ini terlalu tinggi! Sudahlah, kalian tidak akan berhasil!” Mereka terus berteriak dan tertawa selama melihat temannya yang terjebak di lubang melompat tanpa kenal lelah. Katak yang mendengar ucapan teman-temannya, lambat laun merasa sedih. Dia merasa bahwa dia tidak akan selamat, dia merasa usaha yg ia lakukan sia-sia, dan dia merasa bahwa cemoohan teman-temannya di atas benar adanya. Setiap dia hampir mencapai permukaan, teriakan dan tawa olok-olok temannya terdengar jelas sekali. Dia semakin sedih, dan akhirnya dia merasa sangat lelah. Dia tau dia akan mati, dan dia berhenti melompat. Terlalu lelah dan sedih, si katak normal ini mati di dasar lubang.¬†

Sementara, si katak tuli, tidak dapat mendengar ucapan teman-temannya. Dia pikir, teman-temannya sedang menyemangatinya. Dia melihat teman-temannya tertawa-tawa dan membuka mulut mereka seperti mengucapkan sesuatu. Dia yakin, teman-temannya sedang menunggu di atas, dan akan merayakan kesuksesannya jika dia berhasil mencapai permukaan. Semakin dekat si katak tuli ke permukaan, semakin jelas dia melihat teman-temannya berteriak dan tertawa, dan semakin semangat pula dia melompat. Tanpa kenal lelah, dia terus melompat, dan akhirnya berhasil mencapai permukaan. Teman-teman si katak tertegun, lalu menyelamatinya. Si katak tuli merasa senang dan bangga, ternyata teman-teman di sekitarnya sangat mendukung dia.

Bisa dilihat perbedaannya?

Yes, kata-kata itu memiliki pengaruh. Kita bisa membuat orang lain termotivasi hingga sukses, atau membuat orang lain menyerah dan mematikan harapannya, dalam hal apa pun dan kapan pun.

Lalu, bagaimana jika kita berhadap dengan orang yang bermulut tajam, layaknya pisau?

pisau

Gambar pisau yang saya peroleh dari dagangan online di indowebster.com, namun saya tidak mencatat nama sellernya. Bagi pembaca yang berminat, silahkan dicari secara manual ūüôā

Layaknya cerita pendek si katak, ada baiknya kita menjadi tuli. Kita tuli terhadap kata-kata demotivasi, dan anggaplah kata-kata demotivasi itu merupakan cambuk bagi diri kita sendiri untuk mampu membuktikan bahwa kata-kata itu salah. Jika kita menyerah, maka olok-olok orang itu benar, dan kita terbukti gagal. Balas dendam terbaik adalah dengan pembuktian. No more. At least, hingga detik ini, saya yakin dengan kalimat pendek tersebut.

Menjaga kata itu sulit. Bahkan celetukan yang kita anggap angin lalu, bisa berbeda penafsirannya oleh orang yang mendengar. Apalagi di hari ini, dimana orang-orang mulai putus urat malunya, dengan mudah berkata-kata melalui status di media sosialnya. Tidak ada tatap muka secara langsung menyebabkan orang lupa jika dia punya rasa malu. Coba perhatikan, pernahkah melihat seorang pria di media sosial menuliskan kata-kata indah untuk pujaan hatinya (yang bisa dibaca oleh siapa pun di dunia), tapi tetap aja, si pria ini jomblo dan belum pernah benar-benar menyatakan hal tersebut kepada si calon kekasih. Siapa yang sudah membaca status tersebut? Semua orang.  Tapi, bisakah dia menyatakan tersebut secara langsung? Belum tentu karena dia punya rasa malu, rasa khawatir, dan rasa sedih ketika ternyata cintanya tidak diterima (bahkan sepatah kata iya atau tidak dapat menentukan kondisi psikologis orang di masa yang akan datang).

Diam itu emas, saat kita tak mampu berkata-kata yang baik. Bagitu pula, menjadi tuli itu perlu saat banyaknya ucapan tak menyenangkan ditujukan kepada diri kita.

Selamat mempraktekkannya karena praktek itu sulit, namun perlu ūüėÄ

Tajam

Dimadu

Syarat Ijin PoligamiSyarat Ijin Poligami yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Baru-baru ini, santer diberitakan melalui televisi mengenai legalisasi poligami bagi pegawai negeri sipil di salah satu daerah di Indonesia. Awalnya, saya pikir hanya lelucon belaka, hingga akhirnya seorang teman di grup Whatsapp saya memposting gambar di atas, yang isinya surat-surat yang harus dilengkapi untuk mengajukan izin poligami. Freak.

Lalu saya share gambar tersebut di grup alumni perempuan, yang isinya hampir semuanya telah menjadi seorang ibu, sambil menambahkan: “Jaman dulu mana ada (pemerintah daerah) yang berani bikin aturan sendiri-sendiri.”

Dan salah seorang ibu mengomentari,”Dulu katanya karena Bu Tin galak bgt urusan kayak gini. Laki-laki hebat karena perempuan (yang menghebatkan) di sampingnya. Itu gue yakini banget.

Seketika, saya teringat SMA saya di Magelang, Jawa Tengah, yang telah lama tidak saya jenguk (terakhir saya kunjungi pada akhir tahun 2008, enam tahun yang lalu, untuk mengurus legalisir ijazah kelulusan).

SMA saya secara resmi melaksanakan pendidikan pada tahun 1990, yang awal mulanya menerima siswa khusus pria karena pada masa itu, muncul keprihatinan dari Jend. L.B. Moerdani mengenai calon taruna Akademi Militer yang rata-rata bermodalkan fisik dan terbatasnya calon taruna yang memiliki kapasitas pendidikan serta fisik sekaligus. Jend L.B Moerdani yang dekat dengan Pak Harto di zaman itu, mengusulkan investasi manusia di bidang pendidikan, yang akhirnya disetujui, dan mengambil sekian hektar lahan Akmil di Magelang, untuk membangun sekolah, asrama, lapangan olahraga, rumah pengajar, kolam renang, dan fasilitas lainnya, yang digunakan untuk memndidik para siswa yang baru lulus SMP untuk mengenyam pendidikan setara kurikulum SMA di sana. Diharapakan, lulusannya sebagian besar masuk ke Akademi Militer, dan dapat menjadi penerus kemiliteran yang cerdas dan dapat dibanggakan. Yaaa, gitu lah sejarah singkatnya.

Lalu, pada suatu hari pada tahun 1995 (kalo tidak salah), Pak Harto dan Bu Tin berkunjung ke SMA di Magelang tsb. Konon, Bu Tin¬†nyeletuk, “Kok tidak ada siswi (siswa perempuan), ya?”

Dan dalam waktu yang singkat, pada tahun 1996, SMA saya mulai menerima siswa perempuan. Dan 9 tahun kemudian, pada tahun 2005, saya berkesempatan menikmati fasilitas yang diperjuangkan oleh Jend. L.B Moerdani dahulu. Jika Bu Tin tidak mengutarakan uneg-unegnya kala itu, mungkin saya tidak sempat masuk ke sana, dan hanya menyimpan rasa penasaran saja :p

Jadi, apa hubungannya selebaran syarat poligami dengan sejarah SMA saya?

Pak Harto merupakan bagian sejarah dari bangsa kita (cieee, berat dikit).

Sejarah membuktikan, betapa orang segan (dan takut) pada Pak Harto. Tidak ada yang namanya geng motor (selain pada jaman dulu yang namanya motor adalah barang mewah), tidak ada yang berani keluar pada malam hari karena banyaknya kabar mengenai korban sniper dan orang hilang. Apalagi, mana ada orang yang berani iseng demo ke jalan demi di-interview televisi. Kalo pun ada yang demo, esoknya kita tak tahu kabarnya kemana.

Namun, ada pendapat yang selalu didengar Pak Harto, ada perintah yang lebih kuat dari perintah Pak Harto, yaitu permintaan istrinya sendiri. Yang jika memang permintaan itu menyangkut kepentingan yang ada di bawah Presiden, maka dibuatlah aturan yang wajib dipatuhi bawahannya. Siapa yang berani menentang atau dapat mengubah aturan pemerintah pada masa itu? Tidak ada, kecuali Bu Tin. Uneg-uneg, saran,, dan kritik yang disampaikan Bu Tin, didengar oleh suaminya. Betapa hebatnya Pak Harto pada masanya, tidak lepas dari peran istrinya, yang semakin menghebatkan Pak Harto sendiri. Semua orang hormat pada Pak Harto, dan Pak Harto sangat hormat kepada istrinya sendiri.

Yang mengherankan, masih ada orang yang tidak menangkap pesan positif dari mantan presiden kita tersebut. Lelaki gagah adalah lelaki yang sangat disegani saat dia berada di luar rumah, namun saat ia berada di rumah bersama istrinya, dia hanyalah pria biasa yang lembut dan penuh kasih sayang.

Dimadu

Nggeget

Malam hari, 5 Okt 2014, sekitar pukul 9 WITA, seperti biasa, saya menyaksikan salah satu acara di Metro TV.

Ada istilah baru yang saya pahami pada malam itu, yaitu: “Nggeget

It’s a slank Javanese word, which means: rapatkan rahan (hingga gigi menggeletuk satu sama lain).

Apa maksudnya?

Let’s see this little pict that I’ve got from my personal Path:

People

Translation: Jangan pernah meremehkan kekuatan orang-orang bodoh yang bersatu dalam satu kelompok yang sama.

Dengan sangat demokrasinya pemerintahan hari ini, di mana kegiatan rapat di gedung Senayan (yang katanya berisi anggota terhormat dan dapat menyuarakan keinginan masyarakat) dengan mudah dapat kita saksikan dari media cetak dan elektronik yang ada. Well, sadarkah Anda, ternyata yang berada di sana tidak jauh lebih cerdas dari kita, namun kok bisa dibilang terhormat dan bisa menyuarakan isi pikiran kita? Setelah bertahun-tahun dipimpin DPR, lalu ada DPRD, lalu muncul lagi yang namanya DPD, tidak ada perubahan yang signifikan. Toh sudah ada yang namanya otonomi daerah, di mana pemimpin daerah tersebut juga difasilitasi untuk meeting dan studi banding ke ibukota dan/atau negara lain. Lalu, buat apa organsasi perwakilan rakyat yang gemuknya ugal-ugalan?

Ah, terlalu berat. Saya rasa pembaca sudah paham arah tulisan ini mau ke mana.

Kita semua pernah sekolah. Misalnya saja, suatu hari, kita memperoleh tugas kelompok. Semua tugas dikerjakan bersama, namun kita yang paling rajin dibanding yang lain untuk mencari informasi, pasti berusaha untuk mengerjakannya tepat waktu, dan paling bersemangat saat ada tugas baru. Namun saat ujian datang, ternyata nilai tertinggi diperoleh rekan kita yang paling malas mengerjakan tugas, modalnya cuma datang, duduk, dan menulis, minim berpikir, paling tidak semangat (kecuali mau ujian). Dan ternyata, rekan kita tersebut terpilih mewakili sekolah  untuk jamuan makan malam di rumah walikota. Gimana rasanya? Gemas sekali. Kalau pernah merasakan, mungkin seperti ada bola tenis nyangkut di kerongkongan, antara sedih dan marah, kenapa kondisinya bisa begini. Tidak adil. Kita tau kita lebih jujur, kita lebih cerdas, dan pasti kita merasa lebih layak mewakili sekolah.

Inilah saatnya nggeget.

Rapatkan rahang, tahan rasa marah dan sedih, simpan di kamar. Jika ingin menangis, menangislah. Jika ingin marah, sabarlah, hingga gigimu bergemeletuk satu sama lain.

Namun, saat harus keluar dan tampil di depan orang lain, tetap laksanakan tugas sebaik mungkin, dan laksakan tugas melebihi penghasilan yang diperoleh. Orang yang melaksanakan tugas melebihi salary yang ia dapatkan, sebenarnya sedang membuka pintu untuk rezeki-rezeki lain, yang akan datang pada saatnya.

Pernah melihat orang-orang baik, namun tidak terduga-duga, tiba-tiba jabatannya naik,dan dihormati orang lain?

success

Lihat saja calon presiden kita yang akan dilantik pada 20 Oktober 2014 mendatang. Pada tahun 2011 lalu, beliau cuma walikota di salah satu kota di Jawa Tengah. Siapa yang menduga, dalam waktu 3 tahun, beliau berada di Jakarta dan (akan segera) dilantik menjadi presiden? Cool.

Beliau fokus melaksanakan tugasnya, mengerjakan amanah yang diperolehnya. Banyak yang melihat bahwa karir beliau di politik seperti anak panah yang melesat mulus ke atas. Padahal, siapa yang tau sedih dan marahnya beliau, saat banyak  fitnah beredar di masyarakat? Siapa yang pernah melihat beliau curhat di media, dan menyatakan kesulitan hidupnya? Kita tidak pernah tahu, karena pemimpin yang baik (dan orang sukses), selalu menyimpan hal tersebut untuk dirinya.

Biarlah keluah kesah dan sedih itu kita yang tahu. Jika merasakan ketidakadilan, nggeget-lah. Namun tetap laksanakan tugas sebaik mungkin, dan yakinlah rezeki itu bisa datang kapan pun, darimana pun.

Semoga tulisan random ini bisa menjadi inspirasi untuk saya sendiri, dan para pembaca sekalian. Bismillah ūüôā

Nggeget

The Red Thread

m08

Foto M’08 satu angkatan komplit, ada 130 orang, sebelum ospek masuk HMM. Foto ini salah satu syarat masuk himpunan. Musti pake baju putih dan harus lengkap satu angkatan. Ampe temen di sebelah saya nyeletuk,”Eh cepetan dong bubar, keliatan nih pake baju putih rame2, cupu masi ospek.”

Dulu, waktu masih ospek buat masuk himpunan, ada tuh motto yang ditekankan kepada kami, bunyinya: “Open mind!

Saya inget banget nih, doktrin ini dicoba ditanamkan sekitar 5 tahun lalu, sore2 di daerah sekitar gedung kuliah. Pake baju kaos angkatan M2008 biru dongker, celana training pembagian kampus jaman TPB, sambil menyandang tas ransel yang isinya hampir selalu sama (1 botol Aqua 1500 ml, ponco/jas hujan, 2 pcs roti Rp 1000-an, sama apa lagi ya. Lupa. Tapi yang jelas ini tas berat banget).

Waktu itu kami diajarkan salah satu tradisi HMM, dimana tradisi tersebut merupakan pesan yang ingin disampaikan dari himpunan, untuk selalu open mind dalam menyelesaikan problema kehidupan (cieee, berat dikit).

Artinya: liat masalah dari segala sudut, jangan langsung ambil kesimpulan dari satu sisi saja.

Kalo saya tambahkan, selalu cari the red thread (benang merah) dari masalah tersebut, sehingga kita tau, kenapa bisa muncul persepsi 1, muncul persepsi 2, muncul persepsi 3, dan seterusnya.

Kalo sudah paham benang merahnya, maka ketika kita melihat media yang menuliskan/menayangkan masalah dengan persepsi 1, maka kita tidak mudah terpancing dan tidak mengambil kesimpulan begitu saja. Kita lebih tenang dan lebih dalam melihat masalah. Dan ke depannya, kita bisa lebih bijak dalam mengambil kesimpulan. Kita menjadi tahu alasannya, mengapa media tsb tidak menuliskan persepsi 2 atau persepsi yang lain, karena kita tahu si media berada di pihak siapa, dan kita tahu si media bermaksud mengarahkan pembaca memahami apa (kalo dari bidang jurnalistik yang pernah saya geluti di masa kuliah dulu, ini istilahnya angle. Media punya peran menggerakkan massa dan mengerahkan emosi orang. Makanya, jangan mudah percaya ama media :p )

Bagi orang-orang yang belum melihat benang merah dari suatu masalah, maka akan mudah berkomentar (bahasa kerennya, men-judge) orang lain yang punya persepsi berbeda.

Namun, bagi orang yang memahami benang merahnya, akan lebih santai, dan cuma komentar,”Lo ngomong doang bisanya. Kayak politisi.

The Red Thread