Rasa-rasanya

Sudah 3 bulan belakangan di penghujung tahun 2014, saya ditempatkan di pulau Bunyu, Kalimantan Utara, Indonesia. Banyak yang tidak tahu pulau Bunyu itu dimana. Dan saya pun, yang sedari kecil merupakan pendatang lama di Kalimantan Timur (Kaltara merupakan propinsi baru, dimana dahulu merupakan bagian dari Kaltim), baru tahu ternyata pulau Bunyu itu di situ loh.

Tapi mengenai nama Bunyu, saya tidak asing.

Di perumahan Pertamina di Balikpapan, ada beberapa nama field yg dijadikan nama jalan di dalam komplek. Komplek pertamina yang dapat dilintasi khalayak umum, memiliki nama2 jalan yang diambil dari nama beberapa field eksplorasi yang mereka punya seperti ‘Jalan Bunyu’ itu sendiri, yang di jaman saya kerja praktek (KP) di Balikpapan, saya sering pulang pergi kantor-rumah melintasi jalan itu. Dan yang agak-agak horror gimana, jalan di komplek Pertamina, meski terbuka utk umum, suasananya sepi-sepi temaram dan jarang dilintasi kendaraan atau orang berjalan kaki. Padahal di komplek sebelahnya (milik KKKS asing), meski lebih privacy, namun suasana lebih terang dan lebih aman. Dan ternyata, suasana komplek Pertamina di Bunyu mirip2 dengan komplek Pertamina di Balikpapan, dan di sini ditambah babi hutan, anjing liar, biawak, dan monyet yang sesekali terlihat melintas di depan rumah.

Okay, back in track.

Nah, pulau Bunyu ini hanya kecamatan yang merupakan bagian dari kabupaten Bulungan di utara Kalimantan. Pulau kecil ini sumber daya alamnya melimpah, berupa minyak bumi, gas bumi, dan batu bara. Produksi gas Bunyu lebih dari cukup untuk dikonsumsi di dalam pulau sendiri, oleh sebab itu, sebagian besar gas dikirim ke pulau Tarakan (kota terdekat dengan Bunyu) melalui saluran pipa bawah laut. Jadi, kalo ada perawatan stasiun kompresor gas atau trouble di pipa transfer gas ke tarakan, sebagian besar kota Tarakan akan mati lampu.

Dan namanya juga kecamatan, di sini tidak ada pusat administrasi pemerintahan. Kalo kata seorang aktivis lingkungan di Jakarta,”Negara itu hanya ada saat kampanye dan menagih pajak.” I can’t agree more. Harga bahan pangan disini sangat tinggi. Mau beli mentah (yang variasinya terbatas) atau beli nasi jadi (yang rasanya biasa-biasa saja), harganya tidak sebanding dengan apa yang diperoleh. Ditambah, harga speed boat menuju kota terdekat pun naik signifikan sejak harga BBM menyesuaikan. Ditambah lagi, pajak yang dipotong dari penghasilan saya naik 3 kali lipat dari potongan saat saya masih bekerja di Jakarta. Tapi yaaa, kok gini-gini aja fasilitas dari pemerintah. Saya baru tau ternyata Bunyu adalah bagian dari Indonesia kalo liat potongan pajak di slip gaji.

Hari Minggu kemarin, saya menyaksikan Metro TV, ada percakapan antara Panji Pragiwaksono dan Andini Effendi (News Anchor-nya). Ceritanya Panji (dulu pernah bawain acara Provokatif Proaktif di Metro, tp sayang dah discontinue) ini sekarang jadi aktivis Indonesia (yeah, aktivis Indonesia!), dimana dia keliling negara-negara di dunia untuk mengunjungi para ekspatriat asal Indonesia (kalo bahasa awamnya, mengunjungi TKI) sambil ‘membujuk’ para eskpat tsb kembali ke Indonesia, untuk membangun Indonesia. Begitu banyak hal-hal baik di luar negri yang bisa diadaptasi di Indonesia karena Indonesia butuh orang-orang yang paham kondisi yang baik dan mau membawanya kembali pulang. Ya, kira-kira begitulah sepintas kegiatan Panji.

panjiUniknya, diskusi ringan antara Panji-Andini menggunakan bahasa Inggris. Keeewwwwl (baca: keren.red) karena lancar dan enak banget dengernya. Ada ucapan Panji yang saya inget bingitz,”Indonesian doesn’t realize it’s not normal to buy mineral water, meanwhile in overseas, they can get free water everywhere. How could this country with a vast sea couldn’t give any free water for the citizens? We pay tax, and we can do protest to government, but we don’t.” Yaa, kira-kira begitulah, omongan Panji yang saya sesuaikan dengan ingatan saya 🙂 Kalau di-translate ke bahasa Indonesia, kira-kira: “Masyarakat Indonesia ga sadar bahwa membeli air minum itu tidak wajar, dimana kalau di negara maju, masyarakatnya bisa dapat air minum dimana saja. Bagaimana mungkin, negara yang lautnya seluas ini tidak bisa menyediakan air bersih untuk penduduknya? Kita bayar pajak, dan kita bisa protes kepada pemerintah untuk mempertanggungjawabkannya, tetapi (sayangnya) kita tidak melakukannya.”

Iya, kita bisa protes. Segala barang yang kita beli itu ada pajaknya. Perusahaan tempat kita bekerja, ditagih pajak oleh Negara. Gaji bulanan pun kena pajak. Kalau punya rumah, tanah, dan property lain, wajib iuran pajak tahunan. Nabung di bank, kena pajak tiap bulan. Kalo ke bandara mau naik pesawat, ada lagi pajak memakai bandara meski cuma numpang lewat 30 menit. Order barang dari luar negri, kena lagi pajak barang masuk (padahal pajak barang sebelum masuk pun sudah ditagihkan). Rasa-rasanya, kalo semua pajak yang kita bayarkan seumur hidup diakumulasikan, mungkin seperti dapat hadiah uang tunai dari tabungan berjangka.

Lalu muncul pertanyaan: pajak ini untuk negara. Negara yang mana? Negara itu apakah hanya ibukota Negara, ibukota provinsi, atau Negara itu apakah sekumpulan pegawai negeri sipil, atau Negara itu berupa jalan raya yang hancur (entah karena kualitas aspal atau system drainase yang tidak diperhitungkan)? Sampai saat ini, katanya pajak digunakan untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur dimana? Saya bayar pajak di sini, di pulau Bunyu. Lalu, muncul lagi pertanyaan tadi. Infrastruktur di ibukotakah? Apa sih yang disebut infrastruktur? Kalau saya mau jalanan di pulau Bunyu ini bagus, kira-kira iuran pajaknya berapa ya? Plus penerangan di jalan raya yang layak dan system drainase yang baik. Habis berapa ya, kira-kira? Trus kalau pajak yang saya bayar ini untuk perbaikan dermaga pulau Bunyu, kira-kira investasi berapa tahun ya? Katanya pajak yang ditarik dari kami untuk infrastruktur Negara kan? (balik lagi ke pertanyaan: negara yang mana?)

Lalu, muncul lagi pertanyaan: kalau mau protes, protes kepada siapa?

Sepertinya masyarakat semakin apatis dengan siapa yang memimpin, sejak ‘katanya’ ada reformasi di tahun 1998. Sejak tahun itu, tiba-tiba muncul spanduk-spanduk partai yang jumlahnya membengkak dan lambang partainya serupa tapi tak sama. Menjelang pilkada, muncul foto-foto orang yang tidak jelas siapa dia, mencantumkan gelar yang panjangnya seperti kereta, memakai kopiah, berjas, dan berdasi. Oh ya, dulu saya pernah tanya ke mama saya,”Ma, kenapa si orang-orang itu di foto kampanye pake kopiah?” Mama cuma diem trus jawab,”Gatau juga ya.”

Lalu beberapa hari yang lalu, ada teman saya yang jawab, kalau kopiah itu adalah ciri khas orang Indonesia. Makanya, dulu presiden pertama kita mengenakan kopiah dan jas serta dasi, lalu diteruskan ke foto-foto penjabat presiden dan wakil daerah lainnya. Namun, ada juga teman saya yang komentar bernada sinisme sambil menertawakan, yang menyatakan, kalo dulu sih iya pakai kopiah untuk melestarikan budaya. Kalo sekarang, rasa-rasanya lebih ke pencitraan agar kesannya banyak ilmu dan amanah. Wallhualam.

16 tahun telah berlalu dan kita semakin tidak paham mau mengadu ke siapa atas segala masalah di sekitar. Daripada capek mengadu, akhirnya banyak yang mementingkan diri sendiri. Yang penting perut kenyang dan besok masih bisa makan. Lagi-lagi, meski prinsip sesederhana “yang penting bisa makan” saja, Negara toh masi menagih pajak dari orang yang hidupnya paling susah sekalipun (balik lagi yah :P).

My favorite quote of this post,”Negara itu hanya ada saat kampanye dan menagih pajak.”

Rasa-rasanya

4 thoughts on “Rasa-rasanya

    1. Dini Ayudia Erwin says:

      Bang ihwan,trims udah mampir.
      Ternyata sudah lama ya saya tidak update lokasi saya.
      Kabari ya bang,kalau mampir kemari 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s