Pintar

Kata guru agama saya waktu SD, tidak boleh menyimpan rasa iri kepada orang lain. Misalnya, teman saya punya sepatu baru yang bagus, maka kita tak boleh iri karena iri itu sifat setan (katanya). Namun, kalo dipikir-pikir lagi, iri memang akan menjadi buruk jika itu membawa kita ke perilaku dan niat yang tidak baik. Misalnya, karena liat si teman sepatunya bagus, maka kita minder bergaul dengan dia, atau menghasut teman yang lain untuk tidak bergaul dengan dia karena dia anak orang kaya yang sombong, kok beli sepatu baru dipamer-pamerin. Tapi, iri juga bisa membuat kita jauh lebih baik. Coba saja, melihat teman punya sepatu baru, diam-diam tentunya sebagai manusia yang punya hawa nafsu, ada keinginan untuk punya sepatu bagus juga. Apa yang bisa kita lakukan untuk si sepatu bagus? Artinya kita harus menabung atau mencari pekerjaan kecil-kecilan sampingan, yang nanti di akhir bulan, uangnya bisa digunakan untuk beli sepatu baru. Kita harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan punya sepatu baru, tidak bisa sekadar menuntut uang jajan ditambah, tapi ada usaha (effort) lebih untuk melebihi keadaan kita yang sekarang. Positif, bukan?

Beberapa hari yang lalu, secara random saya membaca blog seorang senior yang link-nya muncul di newsfeed facebook saya, Ardya Dipta Nandaviri.

Yang paling saya suka dari postingan tsb I can only think that if I have this kind of discussion everyday, I can only get smarter and smarter every day. Saya iri.

Seingat saya, percakapan yang membuat saya tambah pintar terakhir kali (hingga hari ini) adalah saat saya mendiskusikan topik tugas akhir saya bersama rekan seperjuangan saya, Rizky Ilhamsyah. Sebagai kenang-kenangan, ini poster seminar saya menjelang sidang Tugas Akhir 😀 image (12)

Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar? Entahlah.

Setelah membaca blog senior tsb, ditambah film Internship yang pernah saya tonton beberapa waktu lalu, ditambah buku sharing interview masuk Google yang saya peroleh dari toko buku Periplus di Terminal 2 F Bandara Soekarno-Hatta, disimpulkan bahwa masuk Google itu susah. Dalam artian, orang yang masuk ke sana adalah orang yang memang suka berlogika, punya banyak akal, bisa melihat segala sesuatu dari segala sisi untuk memecahkan suatu persoalan yang diberikan. Keren. Banget.

Sekilas teringat gimana praktikum bahasa pemrograman di tingkat satu dulu. Meski hanya 1 semester, namun jika berminat melanjutkannya, sebenarnya kalo hitung-hitungan permesinan digabungkan dengan pemrograman, bisa menjadi ilmu yang bagus sekali. Membuat bahasa yang hanya berupa titik, koma, tanda kurung, beberapa alphabet, dst, yang kalo gagal di-compile, gatau salah dimana, saat berhasil di-compile, amazed juga karena ada keraguan akan gagal. Begitulah bahasa pemrograman. Lucu dan seru, sih.

Lagi, suatu hari muncul newsfeed di facebook saya, senior saya (jurusan informatika) yang dulu satu unit di penerbitan majalah kampus. Dia memposting transferan yang masuk ke rekening dia, dalam dollar, yang kalo dikonversi ke pegawai macam saya, kita-kira saya perlu waktu 10 tahun untuk mengumpulkan uang yang sama, tanpa makan-minum, tanpa mandi, yang ada cuma kerja dan kerja, demi dedikasi kepada perusahaan dan Negara. Pastinya, muncul nasihat bijak yang bilang,Ah segala sesuatu itu ga bisa diukur dengan duit kali, Din.” You are right. Itu nasehat yang baik banget untuk saya yang masih bertahan di pulau terpencil, demi duit. Sedangkan senior saya itu, kerja bermodalkan komputer, internet, jam bekerja yang cenderung bebas, di lokasi yang dia suka, kapan saja dia mau. Dia dapat bekerja kapan pun dia suka, di kota yang dia suka, dengan pekerjaan yang membuatnya semakin pintar (sedangkan transferan yang masuk itu seperti bonus dari dedikasi kepada ilmu yang dia terapkan dengan baik). Tetap dekat dengan orang-orang yang dia sayang, tanpa adanya batasan harus ke pulau terpencil dan resiko ga ada warung makan yang buka saat ada tanggal merah buat libur natal (hal yang menjadi rahasia perusahaan hingga si pegawai sadar emang ga ada makanan yang bisa dibeli. Bersyukur ada minimarket yang buka overtime 😀 ).

Setidaknya, ada satu hal yang membuat saya iri dan harus segera dijawab dalam waktu dekat: Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar?

Pintar

2 thoughts on “Pintar

  1. ikhwanalim says:

    iya din. saya di konsultan kerasa banget sering punya percakapan pintar. tapi klo ngobrol ma teman-teman di industri lain agak ga enak juga. soale mereka cuma ngerti kejar target atau kejar omzet. mereka sering gada waktu untuk percakapan pintar.

    1. Dini Ayudia Erwin says:

      Betul, Bang Alim. Perlu bgt smarter conversation buat pegawai2 kantoran spy pikiran lebih terbuka😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s