Telponan dengan Mas mas Call Center

Another post that I prefer to write in Indonesian.

If you would like to know more,I can write this down in English later 🙂


Pagi ini, sepulang senam, saya sempatkan menuangkan beberapa hal kecil yang terjadi di sekitar saya.

Senam di Jum'at pagi yang mendung kelabu
Senam di Jum’at pagi yang mendung kelabu
Sarapan Bareng sehabis senam. Menu pagi ini: bubur ayam hambar dengan irisan wortel, disiram kuah hambar juga.
Sarapan bareng sehabis senam. Menu pagi ini: bubur ayam hambar dengan irisan wortel, disiram kuah hambar juga. NB: Hambar untuk lidah saya, mungkin kalo di lidah yang masak dah cukup bumbunya 😛

Sebenarnya, hari Jum’at bukan hari yang terlalu produktif untuk bekerja, hal ini berlaku di Bunyu Field. Pagi hari, diawali dengan senam pagi yang dimulai pukul 6.30. Lalu dilanjutkan sarapan bersama yang berakhir pukul 7.30. Jika tidak ada kendala, dilanjutkan dengan kegiatan housekeeping dan morning meeting yang dipimpin astman (asisten manager) di lokasi yang telah ditentukan sebelumnya. Biasanya kegiatan ‘bersih2’ ini berakhir pukul 8.30. Pulang ke rumah dinas untuk mandi, saya biasanya ngantor lagi sekitar jam 9. Nanti jam 11.30, istrahat siang yang lebih cepat dari biasanya (jam 12.00) untuk menghormati mereka yang solat Jum’at. Pukul 13.30, ngantor lagi, dan jam kantor berakhir di pukul 16.00. Begitulah sekilas tentang hari Jum’at di kecamatan Pulau Bunyu.Ngomong-ngomong tentang kecamatan pulau Bunyu, ada sedikit cerita menarik (kenapa sedikit? Karena memang tak banyak, namun iseng ingin saya tuliskan 😛 )

Di awal tahun saya berada di Bunyu, saya mengubah beberapa data kartu kredit saya ke bank kesayangan saya sejak jaman kuliah. Kenapa bank kesayangan? Sebenarnya ga kesayangan juga sih, namun dari sekian bank yang saya masukkan aplikasi kartu kredit, cuma bank BNI yang mau meng-approve aplikasi saya dalam waktu yang sangat singkat, padahal saat ditelpon analis, saya malah gabisa jawab apa2 karena masih lupa nomer telpon meja kantor, kode pos kantor, dan beberapa hal baru di kantor baru. Sekitar 2 minggu, ternyata kartu kredit saya dikabulkan dan dikirim ke alamat rumah di Jakarta. Terimakasih BNI 🙂

Oh ya, postingan ini tidak disponsori oleh bank BNI, ini murni opini pribadi saya. Tapi kalo ada managemen BNI membaca ini dan berkenan menggunakan saya untuk menulis advertorial di suatu media, boleh2 aja, tanpa adanya aspek komersialitas (at least untuk saat ini)  🙂

Haha. *intermezo*

Nah, suatu ketika di bulan September 2014, saya menerima surat mutasi jabatan (SMJ) di meja kerja saya yang nyaman di kantor Jakarta. Tulisannya, saya punya jabatan baru di field di utara Kalimantan, yaitu di pulau Bunyu. Maka, tidak lama setelah itu, saya kemas barang2 dan berangkat ke perbatasan Indonesia. Ngomong2 tentang ladang minyak perbatasan, ada lagi cerita menarik yang bisa diulas sebagai tulisan sendiri.

Nah, kartu kredit BNI saya yang awalnya menggunakan alamat kantor Jakarta, mau saya ubah ke alamat kantor baru.

Sebut saja: MM: Mas mas call center BNI-nya, D: sayah

D: Mas, mau ubah alamat kantor.

MM: Alamat kantor lama?

D: *blablabla*

MM: Alamat kantor baru?

D: *nanananana*, di Pulau Bunyu.

MM: Kotanya?

D: Ga ada kota mas, adanya kecamatan.

MM: Oh, kecamatannya Pualu Bunyu, begitu ya?

D: iya, Mas.

MM: Ibu D, data sudah kami perbarui. Ada yg lain?

D: Ga ada, Mas. Maacih.

MM: Macama.

*Selesai*

Yang agak ribet2 sikit, waktu telponan (cieeee, telponan) ama call center (cieeee, ama call center) nya bank lain yang masih tergolong BUMN juga.

MB: Mas mas call centre Bank BUMN & D: Saya

*diawali dengan percakapan serupa di atas*

D: *nanananana* di pulau Bunyu.

MB: Kotanya kota Bunyu ya. Bu?

D: Bukan mas, ga ada kota, adanya kecamatan.

MB: Kotanya di mana ini Bu?

D: Ga ada kota mas. Kecamatan Pulau Bunyu, ada pulau sendiri di Kalimantan Utara.

MB: Oh begitu ya. Jadinya di Kabupaten Bulungan, Kecamatan Pulau Bunyu?

D: Iya Mas, ner ngetz (artinya : benar sekali)

MB: Provinsi?

D: Kalimantan Utara, Mas.

MB: *blablablabla*, Kalimantan Utara. *Entah kenapa saya denger nadanya kayak kurang-kurang yakin ama alamat saya*

D: Ner ngetz, Mas. Ntar kalo ada tagihan ato ada kiriman apa2 kirim kesini ya, Mas?

MB: Baik, Bu.

*Selesai*

Haha.

Pualu kecil di utara Borneo ini memang tak terkenal. Meski begitu, Bunyu field menyumbang 30% produksi migas Pertamina untuk Kawasan Timur Indonesia. Sepertinya, Bunyu menjadi terkenal kalo udah menjadi sengketa perusahaan minyak antar negara. Andaikan dulu Petronas masuk duluan, bersih2 duluan di sini, dan membangun di sini, baru deh yang namanya media kita berburu berita tentang Bunyu. Dengan membawa nama “cinta tanah air”, “ganyang negeri jiran”, dan jargon-jargon yang menyulut jiwa patriotik masyarakat Indonesia.

Patriotism (?)
Patriotism (?)

Well, kenapa jadi heroik begini postingan saya?

Well, no hard feeling 😛

Btw, fakta-fakta menarik tentang Bunyu juga bisa saya tuliskan di postingan sendiri 🙂

Telponan dengan Mas mas Call Center

Pembawa Baki

Because I dedicate this post for Indonesia, I would like to write this in Indonesian. Maybe I will post in English version later, if you (readers) would like to know more about my little tiny beautiful life (indeed).


Pagi itu sekitar pukul 10.25, saya duduk di kantor mekanik pemagaran, setelah berbincang bersama bos saya yang super keren, Pak Marthen Latuperissa, yang baru kembali masuk kantor setelah cuti selama 1 bulan di kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia.

Pak Bos Marthen Latuperissa bersama cincin batu akiknya yg nyentrik
Pak Bos Marthen Latuperissa bersama cincin batu akiknya yg nyentrik

Setelah mendiskusikan masalah yang berlarut-larut mengenai kecairannya kompresor nibung KN#3, akhirnya pak Bos menelpon anak buah bagian pipeline untuk membuat jalur kondensat di scrubber stage 1 dan stage 2 kompresor. Maaf, kalo mengenai kompresor nibung ini ceritanya cukup detail dan panjang, maka sebaiknya dibuat sendiri di pos selanjutnya. Intinya, Pak Bos Marthen mau tau masalah apa yg terjadi selama beliau tinggalkan dan apa yg bisa dia bantu sebelum beliau pensiun per tanggal 1 Januari 2016. Oke, kalo masalah pensiunnya ini saya sedih banget, dan semoga beliau diperpanjang masa kerjanya. Masih banyak yang harus saya pelajari dari beliau, mulai dari kepemimpinan dan kepremanan beliau di mekanik Bunyu.

Nah, lanjut.

Setelah Pak Marthen keluar ruangan, hp saya berdering (eh, ga berdering deng, bergetar aja soalnya saya pake silent mode), dan ternyata seorang rekan humas menelpon saya, mas Tulus Wildani.

Sebut saja, T: mas Tulus, dan D: saya, alias Dini 🙂

T: Din, lagi sibuk?

D: Ga mas, ada apa? (heran karena ga pernah berurusan dengan humas. Mekanik lebih sering berhubungan dengan bagian operasi, tapi kalo topografi sipil memang sering berhubungan dengan humas terkait penggusuran penduduk di lahan perusahaan atau pembukaan wilayah yang akan menjadi lokasi pemboran. Oleh sebab itu, saat itu saya cukup excited, penasaran, ada kegiatan apa gerangan? Ketahuan banget jarang ada kegiatan yg menguras passion seorang Dini. Haha)

T: Din, bisa ke Pantai Nibung?

D: Ngapain,Mas?

T: Kita butuh cewe nih buat bawa baki.

D: (Ketawa cantik) Jam berapa mas?

T: Jam 10.30, Din.

D: Okee, saya meluncur.

T: Makasi,Din.

*Telpon ditutup*

Maka, segera saya keluar kantor, masuk ke mobil PEP-25 (mobil mekanik kompresor), dan melaju menuju pantai Nibung.

Perjalanan dari kantor mekanik menuju pantai Nibung ga menghabiskan waktu yg lama (ya iyalaah. Ini Bunyu, bukan Jakarta 😥 ). Dalam waktu sekitar 6 menit, tibalah saya di lokasi acara. Ternyata akan dilaksanakan kegiatan serah terima bantuan pembukaan jalan umum dan jembatan di Pantai Nibung, dari perusahaan kepada pemda yang diwakili Pak Camat. PEP (perusahaan saya) diwakili Pak Rizal Risnul Wathan (selaku Bunyu Field Manager) dan Pak Chalid Said Salim (selaku General Manager Asset 5, yg kebetulan sedang berkunjung ke Bunyu), dan kalo di foto di bawah, ada saya juga selaku pemegang baki yang berisi gunting untuk potong pita :’)

Peresmian Jembatan Bunyu
Pembawa Baki di Acara Peresmian Jembatan Pantai Nibung di Kecamatan Pulau Bunyu

Asal muasal jalan dan jembatan umum pantai Nibung:

Awalnya, masyarakat umum kalo mau ke pantai Nibung, masuknya lewat komplek perusahaan. Saya sebagai warga komplek, jujur aja terganggu dan risih karena banyak orang asing keluar-masuk komplek secara bebas, pakai mobil/motor, dan biasanya pengguna motor melanggar aneka aturan dengan bonceng ber-3, tidak pakai helm, ngebut di komplek perumahan, parkir sembarangan, dan aneka pelanggaran lain. Padahal, di dalam komplek ada anak-anak yang sering bermain di luar rumah. Mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi sangat membahayakan si pengendara dan penghuni komplek tentunya. Selain itu, masuknya kendaraan umum ke dalam komplek bisa menjadi dalih “mau mengunjungi pantai Nibung” padahal bisa saja melakukan aktivitas lain. Yaa, intinya keamanan dan kenyamanan sangat terganggu karena banyak orang tak dikenal lalu-lalang di dalam komplek.

Oleh sebab itu, entah darimana usulan ini berasal, intinya perusahaan mau membantu pembukaan jalan umum agar masyarakat bisa ke pantai tapi ga masuk lewat komplek perusahaan. Jadi, ga ada lagi orang asing masuk komplek dengan alasan mau ke pantai. Silahkan pakai jalan umum yang sudah disediakan di sebelah komplek. Akhirnya, ada jenis bantuan sosial perusahaan yang saya setujui setelah beberapa bantuan lain yang saya pikir sebaiknya kita lebih melihat  ke aturan/perundang-undangan yg berlaku. Wah ini agak sensitif, jadi sebaiknya kita skip aja 🙂 Kalo mengenai ini, saya bisa membuat tulisan yang lebih detail dan lebih panjang dan lebih serius lagi, yang sebaiknya saya tulis di postingan lainnya :p

Ada cerita dari Pak Camat yang beliau utarakan di pagi mendung kelabu itu, cukup menarik dan cocok dikritisi.

“Kami sangat berterimakasih atas bantuan Pertamina membuka jalan umum ini. Dalam jangka waktu (sekitar) setahun, sudah jadi jalan dan jembatannya. Kalau kami usulkan hal ini ke pemerintah, pertama kami harus masukkan proposal yang di-review 2-3 tahun, lalu pembuatan jalan akan dilaksanakan.” Intinya, butuh waktu yg cukup panjang kalo mau meminta bantuan pemerintah, tapi kalo minta bantuan perusahaan, ga perlu selama itu. 

Hmmmm.

Lagi-lagi hal tsb ingin saya kritisi, tapi lagi-lagi pula, akan menjadi serius, detail, dan sebaiknya dituliskan di postingan selanjutnya.

Cheeers 😀

Pembawa Baki