Pembawa Baki

Because I dedicate this post for Indonesia, I would like to write this in Indonesian. Maybe I will post in English version later, if you (readers) would like to know more about my little tiny beautiful life (indeed).


Pagi itu sekitar pukul 10.25, saya duduk di kantor mekanik pemagaran, setelah berbincang bersama bos saya yang super keren, Pak Marthen Latuperissa, yang baru kembali masuk kantor setelah cuti selama 1 bulan di kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia.

Pak Bos Marthen Latuperissa bersama cincin batu akiknya yg nyentrik
Pak Bos Marthen Latuperissa bersama cincin batu akiknya yg nyentrik

Setelah mendiskusikan masalah yang berlarut-larut mengenai kecairannya kompresor nibung KN#3, akhirnya pak Bos menelpon anak buah bagian pipeline untuk membuat jalur kondensat di scrubber stage 1 dan stage 2 kompresor. Maaf, kalo mengenai kompresor nibung ini ceritanya cukup detail dan panjang, maka sebaiknya dibuat sendiri di pos selanjutnya. Intinya, Pak Bos Marthen mau tau masalah apa yg terjadi selama beliau tinggalkan dan apa yg bisa dia bantu sebelum beliau pensiun per tanggal 1 Januari 2016. Oke, kalo masalah pensiunnya ini saya sedih banget, dan semoga beliau diperpanjang masa kerjanya. Masih banyak yang harus saya pelajari dari beliau, mulai dari kepemimpinan dan kepremanan beliau di mekanik Bunyu.

Nah, lanjut.

Setelah Pak Marthen keluar ruangan, hp saya berdering (eh, ga berdering deng, bergetar aja soalnya saya pake silent mode), dan ternyata seorang rekan humas menelpon saya, mas Tulus Wildani.

Sebut saja, T: mas Tulus, dan D: saya, alias Dini 🙂

T: Din, lagi sibuk?

D: Ga mas, ada apa? (heran karena ga pernah berurusan dengan humas. Mekanik lebih sering berhubungan dengan bagian operasi, tapi kalo topografi sipil memang sering berhubungan dengan humas terkait penggusuran penduduk di lahan perusahaan atau pembukaan wilayah yang akan menjadi lokasi pemboran. Oleh sebab itu, saat itu saya cukup excited, penasaran, ada kegiatan apa gerangan? Ketahuan banget jarang ada kegiatan yg menguras passion seorang Dini. Haha)

T: Din, bisa ke Pantai Nibung?

D: Ngapain,Mas?

T: Kita butuh cewe nih buat bawa baki.

D: (Ketawa cantik) Jam berapa mas?

T: Jam 10.30, Din.

D: Okee, saya meluncur.

T: Makasi,Din.

*Telpon ditutup*

Maka, segera saya keluar kantor, masuk ke mobil PEP-25 (mobil mekanik kompresor), dan melaju menuju pantai Nibung.

Perjalanan dari kantor mekanik menuju pantai Nibung ga menghabiskan waktu yg lama (ya iyalaah. Ini Bunyu, bukan Jakarta 😥 ). Dalam waktu sekitar 6 menit, tibalah saya di lokasi acara. Ternyata akan dilaksanakan kegiatan serah terima bantuan pembukaan jalan umum dan jembatan di Pantai Nibung, dari perusahaan kepada pemda yang diwakili Pak Camat. PEP (perusahaan saya) diwakili Pak Rizal Risnul Wathan (selaku Bunyu Field Manager) dan Pak Chalid Said Salim (selaku General Manager Asset 5, yg kebetulan sedang berkunjung ke Bunyu), dan kalo di foto di bawah, ada saya juga selaku pemegang baki yang berisi gunting untuk potong pita :’)

Peresmian Jembatan Bunyu
Pembawa Baki di Acara Peresmian Jembatan Pantai Nibung di Kecamatan Pulau Bunyu

Asal muasal jalan dan jembatan umum pantai Nibung:

Awalnya, masyarakat umum kalo mau ke pantai Nibung, masuknya lewat komplek perusahaan. Saya sebagai warga komplek, jujur aja terganggu dan risih karena banyak orang asing keluar-masuk komplek secara bebas, pakai mobil/motor, dan biasanya pengguna motor melanggar aneka aturan dengan bonceng ber-3, tidak pakai helm, ngebut di komplek perumahan, parkir sembarangan, dan aneka pelanggaran lain. Padahal, di dalam komplek ada anak-anak yang sering bermain di luar rumah. Mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi sangat membahayakan si pengendara dan penghuni komplek tentunya. Selain itu, masuknya kendaraan umum ke dalam komplek bisa menjadi dalih “mau mengunjungi pantai Nibung” padahal bisa saja melakukan aktivitas lain. Yaa, intinya keamanan dan kenyamanan sangat terganggu karena banyak orang tak dikenal lalu-lalang di dalam komplek.

Oleh sebab itu, entah darimana usulan ini berasal, intinya perusahaan mau membantu pembukaan jalan umum agar masyarakat bisa ke pantai tapi ga masuk lewat komplek perusahaan. Jadi, ga ada lagi orang asing masuk komplek dengan alasan mau ke pantai. Silahkan pakai jalan umum yang sudah disediakan di sebelah komplek. Akhirnya, ada jenis bantuan sosial perusahaan yang saya setujui setelah beberapa bantuan lain yang saya pikir sebaiknya kita lebih melihat  ke aturan/perundang-undangan yg berlaku. Wah ini agak sensitif, jadi sebaiknya kita skip aja 🙂 Kalo mengenai ini, saya bisa membuat tulisan yang lebih detail dan lebih panjang dan lebih serius lagi, yang sebaiknya saya tulis di postingan lainnya :p

Ada cerita dari Pak Camat yang beliau utarakan di pagi mendung kelabu itu, cukup menarik dan cocok dikritisi.

“Kami sangat berterimakasih atas bantuan Pertamina membuka jalan umum ini. Dalam jangka waktu (sekitar) setahun, sudah jadi jalan dan jembatannya. Kalau kami usulkan hal ini ke pemerintah, pertama kami harus masukkan proposal yang di-review 2-3 tahun, lalu pembuatan jalan akan dilaksanakan.” Intinya, butuh waktu yg cukup panjang kalo mau meminta bantuan pemerintah, tapi kalo minta bantuan perusahaan, ga perlu selama itu. 

Hmmmm.

Lagi-lagi hal tsb ingin saya kritisi, tapi lagi-lagi pula, akan menjadi serius, detail, dan sebaiknya dituliskan di postingan selanjutnya.

Cheeers 😀

Pembawa Baki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s