Sabtu Pagi di Pertengahan Januari 2016

Jum’at sore (seperti biasa ketika mengejar pesawat terakhir) dari Tarakan, saya sudah siap di dermaga pulau Bunyu, Kalimantan Utara, untuk menyebrangi lautan menggunakan speed terakhir jurusan Pulau Bunyu-Pulau Tarakan. Lalu sesaat setelah menginjak tanah Tarakan, saya dengan sigap mengambil ojek terdekat untuk segera melaju menuju Bandara Juwata Tarakan. Selang 1 jam, saya masuk pesawat, duduk dengan tenang. Menghabiskan waktu +/- 3 jam hingga medarat di ibukota Jakarta, Indonesia. Mengambil mobil travel jurusan Cengkareng-Bandung dgn jam keberangkatan paling segera, mendaratlah saya di Bandung pukul 2 pagi, di hari Sabtu. Menghabiskan sekitar 10 jam dari Pulau Bunyu hingga tiba di Bandung.

Perjalanan saya tadi malam cukup beruntung, mengingat saat long weekend 3 minggu lalu, saya menggunakan mobil travel dari Cengkareng menuju Bandung menghabiskan waktu 10 jam. Macet di sepanjang jalan tol (jalan tol tsb macet, sodara2), mengakibatkan saya menghabiskan waktu total 20 jam dari Pulau Bunyu ke Bandung. Kalo ini penerbangan internasional, dengan total waktu yg sama, saya udah sampai di belahan dunia lain.

Well, oke.

Pagi ini, untuk pertama kalinya, saya menjejakkan kaki di Starbucks Cihampelas Walk, menyesap kopi dingin. Sesaat saya flash back ke masa selama 4,5 tahun di Bandung. Waktu kuliah, Ciwalk merupakan mall yang cukup sering saya kunjungi bersama teman2, tapi kalo menatap Starbucks ini cuma dari luar, dan ga pernah kepikiran buat masuk. Well, inilah pertama kalinya masuk ke Starbucks Ciwalk! Haha. *Lebay* *Sorry* Saya dan teman2 kuliah biasanya ke Ciwalk untuk nonton di XXI setelah ujian atau sekadar cuci mata.

Ciwalk pun telah melakukan beberapa renovasi, terutama di pintu masuknya yang dibuat lebar, dan langit2 pintu masuknya dijebol membentuk void sehingga terasa lebih terang. Kesannya lebih menyambut pengunjung (kalo dulu pintu masuk agak sempit dan langit2nya pendek).

Jadi inget, suatu hari di tahun 2010, temen sekosan ngebicarain anak2 kampus yang suka ngemall ke Ciwalk (biasanya serombongan mahasiswa di akhir pekan). Si temen ini, dengen ekspresi sedikit heran, ngomong,”Kemarin aku ke Ciwalk, masak ada yang pakek jahim?!” (Jahim: Jaket himpunan).

Oke, jadi jahim ini bukan jaket yang umum dikenakan di ruang umum karena ini salah satu senjata himpunan di kampus untuk menunjukkan arogansi antar himpunan. Tersirat semacam,”Ini lho gue, anak jurusan XXX yang bakal dapet banyak duit kalo udah lulus, bisa beliin apa aja yg kamu mau?!” atau “Gue anak jurusan XXX, temen2 gue banyak, awas aja Lo senggol, gue gelut Lo rame2.”

Dan ada juga obrolan temen2 cewe di sekitar saya kalo bicarain anak2 jurusan lain. “EH yang jaketnya warna ini donk, bau duit, bau duit.” (Ngarep ditraktir dan dijanjikan masa depan yang cerah).

Saya, dalam hati,”Eyalaaah. Hari gini.”

Hahaha. (Mengenang masa2 indah zaman dahulu).

Semakin ke sini, teman2 yang biasa menghabiskan waktu bersama kita perlahan mulai menghilang, tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya, kesibukan dengan keluarga kecil barunya, dan ada juga yang pergi ke balahan dunia lain untuk melanjutkan studi masternya di luar negri. Pada akhirnya, kita akan dihadapkan pada situasi dimana kita dipaksa untuk menciptakan kesenangan kita sendiri, menghabiskan waktu bersama seseorang yang mau menciptakan kesenangan tersebut bersama kita.

Well…

Selamat hari ini,kamu,yang sedang membaca tulisan random melankolis seorang mantan mahasiswa di Bandung. Haha.

Cheers ­čśë

 

Sabtu Pagi di Pertengahan Januari 2016

Si Bayi

Minggu lalu ponakan saya main ke Jakarta, berbarengan dengan kerjaan kantor saya yg kebetulan juga ke Jakarta, sehingga saya bisa bertemu dengan si ponakan yg terakhir saya lihat 5 bulan lalu (sekarang usianya sudah 8 bulan). Ponakan saya biasa dipanggil Efan. Bulu mata si bayi Efan ini panjang sekali, seperti gorden, lucu.

IMG_3029[1].jpg

Namanya juga anak bayi, si Efan menyatakan segala kesenangan atau ketidaksukaannya secara langsung. Lapar, ngantuk, marah, ga senang, sampe ekspresi nangis lebay-nya saat kepala kejedot lantai gara2 gerakan badannya sendiri yang belum sempurna ­čÖé

Nah, karena saat Efan main ke Jakarta berbarengan dengan kunjungan dinas saya, maka saya mendapat fasilitas penginapan. Untuk memudahkan mobilisasi barang2 kami yang cukup banyak, supaya ga repot, saya pilih hotel yang dekat apartemen.

Di hotel, saya mendapatkan bath tub dengan fasilitas air panas. Dan si Efan ini senang banget mandi ­čÖé Setelah tiga hari di apartemen dia mandi di ember kecil diisi air panas yg direbus, lalu pindah ke hotel dan bisa mandi dengan air panas mengalir, si Efan mengekspresikan kesenangannya setiap saat akan mandi. Si bayi Efan ngoceh sendiri, nggak tau ngomong apa, tapi seneng banget kalo masuk ke kamar mandi. Baru aja mau dibukain bajunya, ngomongnya ga berhenti-henti. Dicelupin ke air hangat, dia diem, ngapung, sambil kakinya gerak-gerak kayak mau berenang, trus diem aja. Beres mandi, dia dikeringkan, trus lanjut bobo nyenyak sampai pagi.

Nah, ada juga kejadian dia nangis heboh yang jejeritan ampe air matanya yang sebesar biji jagung menetes dan kita ga tega ngeliatnya. Itu saat dia kejeduk ke pintu lemari sepatu. Selang beberapa detik setelah kejeduk, Efan┬ánangis sambil teriak. Si bayi Efan ditenangin sambil digendong, trus sama Mama, kepalanya yang kejeduknya┬ádidinginin, trus sama Ines (si mama Efan), si Efan dikasi mimik. Beberapa menit kemudian, si Efan udah senyum2 dengan tambahan benjolan merah besar di dahinya. Kasian liatnya, tapi ekspresinya udah seneng dan lucu, jadi ya kita ikut seneng ­čśÇ

Melihat si bayi Efan yang mendapatkan kasih sayang berlimpah dan pelukan dari orang2 terdekat, membuat saya mencoba mengingat, kapan terakhir kali saya sebahagia dan setenang itu? Beberapa hari ini pun saya jadi kangen Mama, ingin dipeluk dan dimanja seperti bayi lagi.

Saat bayi, jika kita tidak mendapat apa yang kita mau, kita akan┬ánangis dan menjerit, lalu semua orang berusaha menenangkan sesegera mungkin. Saat kita beranjak dewasa, ternyata hidup tak semudah di masa bayi. Bahwa hidup ini ternyata memberi kita banyak kegetiran, kesedihan, rasa marah, yang seringkali butuh waktu yang tidak sebentar untuk menenangkan diri sendiri. Makanya, banyak buku2 psikologi yang temanya kebanyakan ‘How to Deal with Stress’.

Di suatu malam di rumah dinas saya di pulau terpencil, saya menyaksikan metro TV yang sedang menayangkan talk show ‘Kick Andy’. Salah satu bintang tamunya malam itu seorang anthropologhist forensic (ahli tulang belulang manusia yang keahliannya dimanfaatkan utk membantu analisis forensik kecelakaan, pembunuhan, dan kejadian sejenis) yang lalu mulai mempelajari dan menulis mengenai psikologi manusia.

Om Andi F. Noya bertanya,”Kenapa Anda sekarang mempelajari antropologi kebahagiaan?”

Sang ahli (namanya Mrs Etty)┬áberkata,”Saya mengherankan, ilmu psikologi sangat banyak mempelajari cara mengobati stress, depresi, rasa takut, dan sejenisnya. Kenapa kok bukan mencegah itu terjadi? Yaitu, dengan menciptakan kebahagiaan itu sendiri?”

“Jadi, gimana supaya kita bahagia┬á(tanpa perlu stress duluan.red) ?”

Lalu sang ahli ucapkan 3 kuncinya:

  1. Apa yg paling penting dalam hidup kamu? Utamakan.
  2. Apa yang kamu sukai? Lakukanlah.
  3. Apa talenta yang kamu punya dan  jika kamu lakukan, dapat bermanfaat bagi orang banyak? Lakukanlah.

Nice tips untuk saya, seorang manusia yg baru memasuki realita kehidupan dunia yang ternyata bertolak belakang dengan realita di masa bayi.

Semoga saya dan kamu (yang membaca tulisan ini), selalu bahagia.

Amin.

Si Bayi