Dia adalah Dilanku 1990-1991

Aku menulis ini saat malam hari di pertengahan Mei 2016 di pulau Bunyu, Kalimantan Utara, dengan cuacanya dingin. Terasa dingin karena AC di kamar aku setel di tempratur 20 deg C.

Malam ini aku baru selesai membaca buku tulisannya Pidi Baiq, judulnya Dia adalah Dilanku 1990 (Buku pertama) dan Dia adalah Dilanku 1991 (Buku ke-2). Ke-2 buku ini aku habiskan dalam 3 hari, yang aku sempatkan membacanya di waktu senggangku setelah jam kantor atau saat aku telah tiba di rumah dinas. Yang aku ingat, kemarin aku baru dari lokasi yang panas (lebih tepatnya, terasa sumuk. Bahasa Jawa,artinya: gerah bikin keringetan lengket padahal cuaca mendung) plus digigitin nyamuk. Tiba di ruang kantor yang ber-AC, aku sempatkan santai sejenak. Meski bel berakhirnya jam kantor sudah dinyalakan, aku sempatkan minum air dingin di kantor dan melanjutkan membaca buku mang Pidi di kantor hingga sebelum magrib tiba.

Awalnya, aku mengetahui si mang Pidi Baiq ini adalah saat aku bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusku dulu (sekitar tahun 2008-2009), saat kami mau mengangkat tokoh mana yang mau kami ulas di edisi majalah Boulevard ITB  terbaru. Maka, terpilihlah si Pidi Baiq, yang akhirnya aku ketahui orang itu agak unik dari teman satu unit yang dapat tugas untuk menulis halaman tentang dia. Teman saya ini si anak elektro 2008, terus dengan hebohnya cerita pengalamannya,”Kan urang mau interview yah, terus dia (Pidi Bagiq) bilang,’Eh tunggu dulu, saya ga mau difoto. Saya ambilin foto saya aja ya.’” Saya dan kawan-kawan yang dengar itu spontan ketawa, plus aku pribadi mikir astagaa, ada ya orang kayak gitu? Hahaha.

Selanjutnya aku pernah bertemu beliau saat ikutan workshop yang diadakan Kompas Gramedia di salah satu cafe di daerah Dago (sekarang cafe ini sudah tutup, beberapa kali ganti nama usaha, kalo sekarang aku kurang tau jadi apa) pada tahun 2008-2009an juga. Saat itu tampillah band The Panasdalam, diimami oleh mang Pidi Baiq, yang lirik-liriknya bikin aku mikir. Bukan mikir apakah arti lirik lagu itu? , tapi lebih mikir ke astagaaa, ada ya lirik lagu kayak gitu? Maksudnya apa??? Hahahaha. Kocak. Asli. Tapi saat itu aku ga ketawa, soalnya aku sambil mikir saat mereka nyanyi.

Nah, lanjut.

Seminggu yang lalu aku sempatkan jalan ke Kwitang, Jakarta, melihat-lihat buku yang sekiranya bisa  dikonsumsi untuk menemaniku selama bertugas di Bunyu. Itulah pertama kalinya aku ke Kwitang, dan aku pun hampir kalap untuk membeli semua buku yang terlihat karena ditawari harga sangat murah dan masih bisa ditawar. Syukurlah, ku hanya ambil beberapa buku, dan godaan lainnya kutahan sambil membisikkan ke diri sendiri lihat dulu kualitas beberapa buku yang kamu beli, Din. Kalo oke, bisa lanjut beli di sini. Kesimpulan: ada harga, ada kualitas.

Nah, saat lagi melihat2 buku inilah, di salah satu toko, si abang buku nawarin,”Ini juga lagi laris lho, Dilan.” Sesaat aku jadi ingat cuplikan film Dilan yang akan tayang di bioskop dalam waktu dekat. Saat ditawari buku tsb, aku cuma lihat aja sampulnya, tapi ga beli di Kwitang. Aku akhirnya memilih membelinya di Gramedia Ambas, sehari sebelum kembali terbang bertugas. Cieeeeee, bertugas.

Dan malam ini, aku sudah membaca ke-2 buku tersebut secara berturut-turut, maka muncullah baper (kebawa perasaan. Bahasa gaul kekinian). Ada banyak hal menarik dari buku ini, beberapanya:

  1. Ini beneran ditulis Pidi Baiq, kan? Kalo bener, aku bener-bener kagum dan masih penasaran gimana caranya dia bisa ambil angel seorang wanita yang sedang mengenang masa SMA-nya. Sempat aku mengecek popularitas buku ini di instagram,dan menemukan, kebanyakan pembacanya adalah wanita yang ngasih komentar2 pribadi yang intinya: buku ini bagus. Bener2 bisa bikin cerita dari sudut pandang anak cewe labil yang dikit2 ngambek, dikit2 bete, dikit2 ngancem putus, drama, dan kekonyolan pacaran saat remaja. Lucu 🙂
  2. Setting-an buku ini berada di Bandung pada tahun 1990-1991, dilengkapi gambaran suasana Bandung saat itu yang sejuk, belum banyak gedung tinggi dan belum ada aneka keriweuhan Bandung hari ini. Maka buku ini berhasil membawa saya ke settingan emosi anak cewe abg, disertai dengan imajinasi saya berkeliling Bandung.

Setelah membaca buku ini, aku langsung flash back  ke masa-masa ku masih TK-SD di Bandung sekitar tahun 1994-1995an. Kenangan masa kecil di Bandung ini juga yang bikin aku punya cita-cita mau kuliah di Bandung (waktu SMA). Dulu belum benar-benar men-set mau kuliah di kampus mana, tapi pokoknya mau balik sekolah di Bandung karena pengen di Bandung lagi. Dan kenangan masa kecil itu benar-benar membuat saya selalu kembali ke Bandung, pada akhirnya.

Bandung itu ngangenin, dan akan selalu begitu.

Terimakasih, mang Pidi Baiq atas buku bapernya. Selanjutnya aku akan membaca semua buku-bukumu, termasuk kalo kisah Dilan-Milea ini berlanjut.

Rasanya kalo aku punya keinginan yang bisa terwujud dengan segera, maka aku mau besok sudah terbangun di Bandung, di kamar kosku saat masih kuliah, di Dago.

Selamat malam, kamu, yang sudah membaca tulisan ini. Terimakasih 🙂

Dia adalah Dilanku 1990-1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s