Memilih Rahim

Rahim berasal dari bahasa Arab, yang digunakan sebagai salah satu nama Allah SWT yang menggambarkan 100 sifat-Nya, yang artinya Penyayang.

Biasanya kalau sedang berdoa atau memuja, kita melafalkannya “Ar-Rahim” (baca: arrohim) yang artinya Maha Penyayang. Kalau kamu mengaku penyayang, maka sayangmu masih kalah dari Allah SWT, karena Dia adalah Maha Penyayang, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sayang-Nya. Kalau kamu merasa tak ada manusia yang sayang kepadamu, maka kembalilah kepada Allah SWT karena Ia-lah Maha Penyayang itu.

Gitu si yang saya pahami dan saya yakini hingga saat saya menulis ini. Kalau kamu seorang atheis atau berbeda pandangan, saya hargai dan tetaplah kita berbuat baik.

Kalo menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):

rahim1/ra·him/n kantong selaput dalam perut, tempat janin (bayi); peranakan; kandungan

Nah kalo kata KBBI, rahim itu tempat menampung bayi, adanya di dalam seorang tubuh wanita.

Kalo kata pelajaran Bahasa Indonesia saya waktu SD dulu, ada banyak kata di bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa lain, contohnya: rahim (dari bahasa Arab). Namun, yang saya heran, dari sekian bahasa yang ada, kenapa di orang Indonesia, kantong penampung anak yang ada di dalam diri wanita, disebut rahim?

Yaaaaaaa, kalo yang saya pahami dan analisis cupu kecil-kecilan, wanita yang mengandung anak itu akan menampung calon manusia baru tersebut dengan rasa kasih dan sayang, selama 9 bulan lamanya. Serupa dengan sifat Allah SWT, maka organ tubuh tersebut dinamakan rahim alias penyayang.

 

Nah, ngomong2 tentang rahim, saya jadi ingat ceramah seorang ustadz waktu saya masih SMP dulu, sekitar tahun 2003. Usia saya mungkin sekitar 12-13 tahun. Saya agak lupa itu hari besar apa.

Yang saya ingat, ceramah ustadz tersebut digelar di lapangan basket sekolah saya di SMP Nasional KPS di Balikpapan, Kalimantan Timur. Supaya ga panas, di lapangan basket tersebut didirikan tenda dan digelar tikar untuk para murid yang datang. Sambil duduk bersila, saya duduk di dekat teman-teman saya, mendengarkan si ustadz ngomong.

Ada bagian yang beliau bilang gini,”Ga akan masuk surga, orang kafir itu.”

Saya, si bocah 12 tahun, yang ilmu agamanya dangkal, mikirin itu kalimat.

Di penghujung ceramah, ada tanya-jawab, dan saya sebenernya mau bertanya, mau mempertanyakan kalimat itu. Tapi saya bingung, boleh ga si saya nanya gitu? Sampe saya ngomong ke temen di sebelah saya, dan dia cuma bilang,”Coba aja ditanyain,Din.”

Namun, hingga acara selesai, pertanyaan itu masih saya urungkan untuk saya tanyakan ke ustadz yang bersangkutan. Apalah saya, seorang bocah ingusan kelas 2 SMP?

Sebenarnya, pertanyaan saya saat itu, bahkan hingga saat ini pun masih sama, yang kira-kira bunyinya begini:

“Pak Ustadz, kita sebagai makhluk Allah SWT ini kan ga pernah bisa milih lahir dari rahim wanita yang mana? Ya kebetulan mama saya muslim, saya jadi seorang muslim. Kalo mama saya non-muslim, saya juga ga akan hadir di acara bapak karena saya pasti gabung ama temen-temen non-muslim lain, iya kan? Terus kenapa saya harus masuk neraka hanya gara-gara saya ga punya kuasa untuk memilih rahim tersebut? Kan itu kehendak Allah SWT meletakkan kita di rahim yang mana? Iya,kan?”

Meski pertanyaan ini ga pernah saya tanyakan ke ustadz tersebut, saya mencoba mencari tahu jawabannya dari ceramah-ceramah lain. Biasanya, jawaban klasiknya dan udah berkali-kali saya dengar, bunyinya gini,”Kalo ga dapet hidayah, ya ga akan masuk Islam. Maka orang tersebut kafir, non-muslim, ga akan bisa dia masuk surga.”

Lalu, sebenarnya jawaban itu memunculkan pertanyaan baru lagi di saya. Sebenci itukah Allah SWT yang memiliki sifat Maha Penyayang? Semarah itukah Allah SWT yang Maha Mengetahui isi hati manusia?

Atau kita yang manusia ini, terlalu angkuh hingga lupa norma-norma untuk menjaga lisan dan menjaga perasaan manusia lain?

Entah kenapa hingga hari ini, terlalu banyak orang yang yakin masuk surga, hingga mengklaim beberapa kavling di sana dan memperingatkan orang lain di dunia kalo kamu ga ngikutin keyakinan dan budaya mereka, ga akan dapet rumah di sana.

Seperti lagunya (Alm.) Chrisye:

“Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?”

Memilih Rahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s