Selayang Pandang – Gugun Blues Shelter

Kemarin saya sempatkan menonton film yang  baru keluar di Bioskop, kebetulan di momen lebaran kali ini, ada 4 film Indonesia yang muncul, yaitu:

  1. Jailangkung
  2. Insya Allah, Sah
  3. Sweet 20
  4. Surat Kecil untuk Tuhan

Dari ke-4 film itu, kemarin saya nonton ‘Sweet 20’ (baca: swit twenti).

poster sweet 20
Sweet 20

Saya milih film ini karena trailer-nya menarik, kayaknya lucu, dan sepertinya menghibur. Jadilah saya pesan tiket untuk saya di XXI di Gandaria City. Baru nyadar saat bayar, kalo hari itu hari Sabtu, dan harus bayar Rp 60 ribu per kursi. Ya udahlah gapapa ya, buat diri sendiri ini. Lagi pula ga sering2 juga nonton ke bioskop. (skip)

Opening filmnya menarik, saat si nenek (Niniek L Karim) bilang ke temennya, kira-kira begini,

“Dulu, aku pernah berdoa supaya umurku ga nyampe 30 tahun. Soalnya jadi tua, keriput, dan ga bisa apa-apa.”

In my head : Nice point. 

Lalu soundtrack-nya ada yang menarik, yang setelah saya google-ing, lagu ini di-cover ulang oleh Gugun Blues Shelter, dan dimasukkan ke album “Nusantara Berdendang”, idenya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (ceilah). Sayangnya, lagu2 di album ini ga dijual di iTunes dan ga ada di free music player lainnya. Jadilah saya streaming youtube untuk menikmati lagu ini.

Selayang Pandang di film ‘Sweet 20’

Pencipta: Lili Suhairi

Lirik: Hamiedan AC

Penyanyi: Gugun Blues Shelter

Arrenger: Aminoto Konsin

Album: Nusantara Berdendang

Produksi: CV. Nada Ciptakinarya Alami  (Source : here)

Kalo mau denger di youtube, bisa streaming di sini.

Kalo mau download mp3-nya, bisa di sini.

Liriknya, saya tulis manual. Dengan nadanya ceria dan menyenangkan, lagu ini berhasil menyampaikan makna yang baik bagi para pendengarnya 🙂

Lama sudah tidak ke ladang

Tinggi rumput jadilah lalang

Lama tak kupandang 

Hati tlah bimbang

Lama tak kupandang 

Hati tlah bimbang

(Reff: Layang-layang selayang pandang

Hati di dalam rasa bergoncang

Jangan ragu dan jangan bimbang

Ini lagu selayang pandang)

Burung layang terbang melayang

Singgah sebentar di tengah kali

Berbuku sayang diambil orang

Balangku ada sebagai ganti

(Reff)

Kalau tuan pergi berburu

Jadikan saya si kijang belang

Kalaulah tuan asyik merindu

Hatiku pula semakin bimbang

Layang-layang bertali benang

Benang ditenun menjadi kain

Kasih yang lepas jangan dikenang

Sanalah sana, mencari lain

(Reff)

Selayang Pandang – Gugun Blues Shelter

Memilih Rahim

Rahim berasal dari bahasa Arab, yang digunakan sebagai salah satu nama Allah SWT yang menggambarkan 100 sifat-Nya, yang artinya Penyayang.

Biasanya kalau sedang berdoa atau memuja, kita melafalkannya “Ar-Rahim” (baca: arrohim) yang artinya Maha Penyayang. Kalau kamu mengaku penyayang, maka sayangmu masih kalah dari Allah SWT, karena Dia adalah Maha Penyayang, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sayang-Nya. Kalau kamu merasa tak ada manusia yang sayang kepadamu, maka kembalilah kepada Allah SWT karena Ia-lah Maha Penyayang itu.

Gitu si yang saya pahami dan saya yakini hingga saat saya menulis ini. Kalau kamu seorang atheis atau berbeda pandangan, saya hargai dan tetaplah kita berbuat baik.

Kalo menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):

rahim1/ra·him/n kantong selaput dalam perut, tempat janin (bayi); peranakan; kandungan

Nah kalo kata KBBI, rahim itu tempat menampung bayi, adanya di dalam seorang tubuh wanita.

Kalo kata pelajaran Bahasa Indonesia saya waktu SD dulu, ada banyak kata di bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa lain, contohnya: rahim (dari bahasa Arab). Namun, yang saya heran, dari sekian bahasa yang ada, kenapa di orang Indonesia, kantong penampung anak yang ada di dalam diri wanita, disebut rahim?

Yaaaaaaa, kalo yang saya pahami dan analisis cupu kecil-kecilan, wanita yang mengandung anak itu akan menampung calon manusia baru tersebut dengan rasa kasih dan sayang, selama 9 bulan lamanya. Serupa dengan sifat Allah SWT, maka organ tubuh tersebut dinamakan rahim alias penyayang.

 

Nah, ngomong2 tentang rahim, saya jadi ingat ceramah seorang ustadz waktu saya masih SMP dulu, sekitar tahun 2003. Usia saya mungkin sekitar 12-13 tahun. Saya agak lupa itu hari besar apa.

Yang saya ingat, ceramah ustadz tersebut digelar di lapangan basket sekolah saya di SMP Nasional KPS di Balikpapan, Kalimantan Timur. Supaya ga panas, di lapangan basket tersebut didirikan tenda dan digelar tikar untuk para murid yang datang. Sambil duduk bersila, saya duduk di dekat teman-teman saya, mendengarkan si ustadz ngomong.

Ada bagian yang beliau bilang gini,”Ga akan masuk surga, orang kafir itu.”

Saya, si bocah 12 tahun, yang ilmu agamanya dangkal, mikirin itu kalimat.

Di penghujung ceramah, ada tanya-jawab, dan saya sebenernya mau bertanya, mau mempertanyakan kalimat itu. Tapi saya bingung, boleh ga si saya nanya gitu? Sampe saya ngomong ke temen di sebelah saya, dan dia cuma bilang,”Coba aja ditanyain,Din.”

Namun, hingga acara selesai, pertanyaan itu masih saya urungkan untuk saya tanyakan ke ustadz yang bersangkutan. Apalah saya, seorang bocah ingusan kelas 2 SMP?

Sebenarnya, pertanyaan saya saat itu, bahkan hingga saat ini pun masih sama, yang kira-kira bunyinya begini:

“Pak Ustadz, kita sebagai makhluk Allah SWT ini kan ga pernah bisa milih lahir dari rahim wanita yang mana? Ya kebetulan mama saya muslim, saya jadi seorang muslim. Kalo mama saya non-muslim, saya juga ga akan hadir di acara bapak karena saya pasti gabung ama temen-temen non-muslim lain, iya kan? Terus kenapa saya harus masuk neraka hanya gara-gara saya ga punya kuasa untuk memilih rahim tersebut? Kan itu kehendak Allah SWT meletakkan kita di rahim yang mana? Iya,kan?”

Meski pertanyaan ini ga pernah saya tanyakan ke ustadz tersebut, saya mencoba mencari tahu jawabannya dari ceramah-ceramah lain. Biasanya, jawaban klasiknya dan udah berkali-kali saya dengar, bunyinya gini,”Kalo ga dapet hidayah, ya ga akan masuk Islam. Maka orang tersebut kafir, non-muslim, ga akan bisa dia masuk surga.”

Lalu, sebenarnya jawaban itu memunculkan pertanyaan baru lagi di saya. Sebenci itukah Allah SWT yang memiliki sifat Maha Penyayang? Semarah itukah Allah SWT yang Maha Mengetahui isi hati manusia?

Atau kita yang manusia ini, terlalu angkuh hingga lupa norma-norma untuk menjaga lisan dan menjaga perasaan manusia lain?

Entah kenapa hingga hari ini, terlalu banyak orang yang yakin masuk surga, hingga mengklaim beberapa kavling di sana dan memperingatkan orang lain di dunia kalo kamu ga ngikutin keyakinan dan budaya mereka, ga akan dapet rumah di sana.

Seperti lagunya (Alm.) Chrisye:

“Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?”

Memilih Rahim

Merasakan Cinta dan Khusyuknya Doa

Di suatu malam yang seperti biasa sunyi di pulau Bunyu, terjadi percakapan antara saya dan seorang teman baik saya, mengenai kagumnya dia kepada rekan kerjanya yang selalu diantarkan keluarganya saat perpisahan di bandara.

Sesaat hal ini mengingatkan saya kepada kata-kata bijak yang entah siapa yang menuliskannya, namun saya rasa layak untuk dibagikan.

Indahnya cinta tak terlihat di megahnya pesta pernikahan, namun turut kita rasakan saat melihat perpisahan di bandara. Khusuknya doa tak terlihat di rumah ibadah, namun turut kita rasakan saat berada di rumah sakit.

Semoga hari saya dan kamu menyenangkan 🙂

Merasakan Cinta dan Khusyuknya Doa

Ngebengkel

Waktu kuliah di Bandung, ada praktikum wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa Teknik Mesin yang diadakan sekitar semester 3 atau 5, saya lupa. Pokoknya di pertengahan ajaran kuliah.

Nama mata kuliahnya adalah Proses Manufaktur 1 dan Proses Manufaktur 2. Biasanya disingkat Prosman. Selain kuliah wajib, kampus mengadakan praktikumnya juga, yang penilaian praktikum nyaris ga ngaruh ke indeks kumulatif karena cuma dibobotkan sekitar 10%, tapi ngaruh ke syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Syaratnya, supaya lulus Prosman, kami harus hadir di semua praktikumnya.

Jaman dulu, saya ga ngerti apa gunanya Prosman dan aplikasinya di dunia nyata. Waktu praktikumnya pun, saya ga berminat sama sekali ngikutin praktikumnya karena terlalu bengkel banget yang dikombinasikan dengan teori metrologi industri yang ternyata oh ternyata, njilemit luar biasaahh.

Prosman itu sebenarnya udah paket sederhananya kegiatan bengkel, tapi kalo mau tau alasan apa dan kenapa bisa menggunakan tools seperti di bengkel, maka bisa belajar di metrologi industri (mata kuliah paling absurb tapi berguna di bidang manufaktur. Gampangnya, kalo ga ada ilmu metro, maka kita ga akan bisa naik mobil/motor/pesawat/kapal kayak sekarang).

Praktikum Prosman itu sebenarnya, bahasa awamnya, bisa dibilang: “Ngebengkel“. Kami belajar membubut, memahat, mengelas, memotong, mengecat, mengebor, hingga kerja pertukangan yaitu kerja bangku (atau bahasa kerennya: work bench).

Dulu saya pikir, ya ampun, ngapain sih saya kotor2 gini, emang mo dipake di mana?

Jawabannya: Dimana-mana.

Ngelas
Pengelasan Support Pipa

Kalo di Pertamina, khususnya di Pertamina EP Bunyu, kegiatan bengkel ini dilakukan oleh Mekanik, lebih tepatnya, dilakukan oleh Mekanik – Bengkel Umum (BU).

Apa aja yang mau kita perbaiki, kita bawa aja ke BU. Misalnya, kalao saya: mau ngasah pisau dapur yang mulai tumpul.  Saya bawa aja tu pisau ke BU. Minta tolong pak Hairul atau Pak Dahlan atau Pak Marjito, maka akan mereka gerinda sebentar, dan langsung tajam lagi pisaunya. Atau misalnya kita kehilangan tutup botol, maka kita bisa minta  dibuatkan tutup botol baru di BU. Pak Marjito akan membubut sebentar, dan tutup botol tsb bisa segera kita gunakan.

Pasang Papan
Pasang Papan

Nah tadi pagi, saya ngemonitor kerjaan BU yang dibantu oleh tim kompresor dan tim pipeline. Bersyukur, load kerjaan di bagian lain sedang low sehingga tenaganya bisa dialihkan untuk membantu kegiatan di dermaga. Pekerjaan kami mulai pada pukul 8 pagi.

Struktur dermaga ini mulai rapuh. Kalo tiang-tiang bajanya itu kita hammer, maka karatnya langsung rontok dan berhamburan ke laut. Hal yang menahan dermaga tsb masih belum ambruk adalah beton yang dicor di dalam selongsong pipa baja yang tertancap hingga ke dasar laut.

Nancap
Tiang-tiang yang Mulai Rapuh
Mancing
Break bentar sambil mancing

Dari dulu, kalo praktikum Prosman (alias ngebengkel), saya paling menghindari kegiatan yang menimbulkan panas dan bunga api, yaitu: pengelasan. Pengelasan itu sulit, kalo ga pinter (dan ga punya sertifikat), maka filler las itu ga akan mengisi daerah yang mau kita sambung. Oleh sebab itu, para anggota mekanik yang dedicated untuk mengerjakan pengelasan selalu disertifikasi secara rutin oleh kantor.

Saat melakukan pengelasan, orang ybs juga musti pake face shielded karena bunga api yang timbul dari pengelasan itu bisa membahayakan penglihatan. Mirip kayak kalo kita memandang matahari. Ga kuat kan? Iyah, itu memang berbahaya dan bisa bikin mata kita katarak. Makanya face shielded ini musti dipake.

Ngelas(3)
Ngelas pipa

Dan pengalaman saya, saking protektifnya face shielded ini terhadap penglihatan, maka saya ga bisa ngeliat sebenarnya filler las saya itu ngisi kemana 😐 Ribet? Iya. Banget.

Jadi, buat yang punya sertifikasi ngelas dan selalu lulus tes x-ray hasil pengelasannya, thumbs up. You are super cool. 

 

Cutting
Motong plat dengan gas oxygen-acetilen
Ngelas(2)
Bloopers: Warna-warni coverall anggota

Ngomong-ngomong soal coverall yang warna-warni, anggota saya sempat nyeletuk kayak gini:

Mas Budi: “Mbak Din, orang-orang ni heran kali kalo liat kita kerja. Ini yang kerja PT apa? Kok bajunya lain-lain.”

Pak Hairul: “Iya lah, orang-orang ni sambil mikir juga,’Hebat ya Pertamina, ngontrak vendor banyak kali buat ngerjain satu kerjaan aja'”

Saya: Diem aja, gatau mo ngomong apa menanggapi sinisme anggota.

Ujung-ujungnya, kami cuma menertawakan kehidupan, sambil terus melanjutkan kegiatan.

Makan Siang
Makan siang di pinggir laut. Urutan dari atas ke bawah: Pak Maryono (mekanik SKG), Pak Sagiman (driver mekanik), Mas Budi (mekanik SKG), Pak Hairul (mandor BU)

Pekerjaan ini akhirnya selesai pukul 5 sore berkat mandor Hairul yang lincah dan sangat disiplin. Super cool. 

Akhirnya, besok kembali kerja (lagi), dan memasuki bulan Ramadhan (lagi).

Selamat malam, selamat istirahat, selamat bekerja (lagi), dan selamat berpuasa 😀

 

Ngebengkel

Jalan-jalan

Kalo orang2 butuh modal (uang dan waktu) yang relatif sangat besar berlibur ke Derawan, hal ini tak berlaku bagi kami2 di pulau terpencil ini karena Derawan juga sama2 terpencil. Haha. Tawa datar.

Di akhir bulan April 2016, kami, rombongan kecil ber-15 orang dari Bunyu, mengunjungi Maratua-Derawan-Kakaban. Cukup dengan modal sekitar 1,5 juta per orang, kami sudah dapat bermalam di Maratua dan Derawan selama 3 hari 2 malam.

Mengunjunginya pun tanpa perlu mengambil cuti karena kami mengambil jatah day-off 1 hari di hari Jum’at. Kami memanfaatkan waktu selama Jumat-Sabtu-Minggu di pulau Maratua, Kakaban, dan Derawan. Dengan harga segitu, sudah termasuk layanan speed pulang pergi Bunyu-Derawan, layanan snorkeling Derawan-Maratua-Kakaban, menyewa alat snorkeling, kamar tidur, dan makan. Lengkap dan ga kelaparan.

Hari pertama, kami mendarat di pulau Maratua.

Maratua
Mendarat di Maratua Paradise Resort
Setelah menempuh waktu selama 4 jam Bunyu-Maratua, akhirnya kami mendarat di Maratua Paradise Resort (MPR), tapi tentunya bukan di resort tsb kami menginap. Kami menginap di losmen sederhana berjarak sekitar 2 kilo dari dermaga MPR. Satu kamar berisi 2-3 orang, kamar mandi dalam, air payau, dan listrik dari genset solar. Air payau ini maksudnya bersumber dari air laut yang udah difilter. Kalo sempat nyicip, rasanya mirip2 oralit (itu lho, obat kalo diare).

Sore harinya, kami langsung jalan kaki dari losmen menuju MPR untuk snorkeling.

Maratua(2)
Foto Dulu. Dessy-Atina-Saya. Photo taken by Fauzi.
Cuacanya panas banget ga santai. Bahasa pelancongnya, cuaca cerah banget, cocok untuk nikmatin laut dan pantainya. Yang jelas, saat itu cuaca sangat bersahabat dan sedang low season. 

 

Esok harinya, pak Alfiyan (bos SCM kala itu), udah mondar-mandir di depan kamar losmen. Fauzi bantuin mengetuk pintu kamar kami sehabis subuh. Siapa yang telat, mereka tinggal karena mereka mau berburu matahari terbit pagi itu.

Maratua(6)
Jalan kaki menuju sebelah timur pulau Maratua
Kalo ada yang bilang Indonesia itu indah, sayangnya, saya ga bisa bilang gitu. Saya ga bisa boong dan ga bisa ikut-ikutan. Indonesia itu ga mampu menjaga kebersihan 🙂

Kalo semua orang berebut memotret yang indah, saya ga bisa mendiamkan diri dan pura-pura ga liat tumpukan sampah yang terdampar di pojok Maratua. Sampah ini mengumpul di pojok dermaga.

Padahal, sepanjang perjalanan kami menuju pojok timur, kami melihat banyak penyu. Beberapa kali mereka menampakkan diri dan berenang di sekitar kami. Daerah yang mereka renangi masih bersih, tapi sampah2 yang menumpuk di pojok2 pulau ini, kalo dibiarin dan semua pura-pura menutup mata, saya gatau apa lagi yang mau dijual dari pulau ini.

Maratua(7)
Tambahan Jalur Dermaga Baru
Saat tiba di ujung dermaga, pak Alfiyan terkagum-kagum dengan tambahan dermaga ini. Maklum, beliau diver sejati yang udah beberapa kali ke pulau ini, dan baru hari itu beliau melihat tambahan dermaga yang bagus. Ternyata, dermaga tsb memang baru saja ditambah oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan di tahun 2015 (sesuai papan namanya). Ditambah lagi, Maratua saat ini sedang dibangun bandara untuk memudahkan akses transportasi ke pulau ini.

Maratua(9)
Resort terpencil yang menghadap matahari terbit

Maratua(10)
Udah kesiangan, mataharinya mulai tinggi
Lalu kami snorkeling lagi seharian sambil melanjutkan perjalanan ke Kakaban dan Derawan.

Derawan
Mendarat di Derawan saat magrib

Derawan(5)
Resort MKI Derawan saat malam hari
Resort MKI Derawan ini cukup hi class dan diisi banyak bule.

Kami hanya lewat MKI sebentar, menikmati bulan penuh, selonjoran di pojok dermaga, sambil ngobrol2 dan menertawakan kehidupan. Malam itu kami hanya berlima, yaitu Saya, Dessy, Atina, Uda Hendrizal, dan Fauzi.

Kami melanjutkan jalan santai mengelilingi pulau Derawan di sepanjang jalur pantainya yang cuma butuh waktu sekitar 2 jam (saking santainya jalan kaki). Kalo sambil lari atau jalan cepat, sepertinya cuma butuh 30-45 menit untuk mengelilingi pulau ini.

Di Derawan dan Maratua, meski sama-sama terpencil, tapi mereka ga ada hiburan malam seperti di Gili Trawangan (kalau kalian pernah ke sana). Saya akui, untuk urusan kebersihan dan ketertiban, Gili Trawangan masih lebih baik dibanding Derawan dan Maratua. Pengaruh asing itu memang perlu sih.

Malam itu sebenarnya kami berencana melihat penyu bertelur di pantai Derawan, yang katanya bisa dilihat sekitar tengah malam. Namun, karena kami sangat lelah, kami putuskan kembali ke kamar dan beristirahat untuk fun diving esok hari.

Fun Divers(2)
Sayaaa
Besok paginya, kami sempatkan fun diving bersama mas Icuk.

Selain Pak Alfiyan dan Uda Hendrizal, kami (Saya, Dessy, Atina, Fauzi, Benny, dan istri Benny), belum ada yang punya sertifikat diving. Nah, mas Icuk (instruktur diving kami hari itu) ngasi jasa instruktur dan penyewaan alat diving di sekitar MKI resort. Kedalamannya hanya sekitar 4 meter, jadi ga terlalu bahaya kalo tiba-tiba kita ngapung ke atas. Untuk menyiasati tekanan di telinga yang terasa semakin membesar saat menyelam, bisa disiasati dengan menelan sambil tahan napas (kayak sedang naik pesawat) untuk menyiasati perubahan tekanan antara permukaan air dengan bawah laut.

Fun Divers
Istri Benny, Benny, Saya, Dessy, Atina. Mas Icuk yang sedang melayang di atas kami
Foto selama fun diving credit to Uda Hendri.

Ternyata si Uda Hendri udah menyiapkan poster sederhana untuk bisa kami pakai foto-foto di dalam air. Poster ini berisi ucapan selamat berpisah buat pak Alfiyan karena beliau akan segera dimutasi ke Pertamina Geotermal Kamojang. Pak Alfiyan, saya ikut dong,Pak.

Kesimpulannya: Diving itu ternyata SERU BANGET!

Buat yang masih ragu mau ambil sertifikasi diving karena biayanya yang ga murah (yang mencapai 5 jutaan rupiah) dan masih ragu apakah diving akan cocok/tidak sebagai hiburan, fun diving ini bisa digunakan untuk mencari tau. Cukup dengan 350ribu ajah, kita dah bisa diving dengan aman di sekitar MKI Resort Derawan, udah termasuk perlengkapan dan instruktur yang keren asik kayak mas Icuk.

Hari itu asik banget.

Jauh lebih asik daripada snorkeling di permukaan laut ajah.

Kalo snorkeling, sebenernya saya lebih sering ngerasa mabuk gara-gara terombang-ambing di permukaan air. Ada perahu dan orang-orang yang bergerak-gerak di permukaan air menyebabkan airnya naik-turun ga tentu. Tapi, kalo diving, rasanya asik banget. Cuma ada diri kita sendiri yang sedang menikmati isi laut 🙂

Saya ga nyangka ternyata diving semenyenangkan itu. Super fun.

Setelah diving, kami berkemas, makan siang (yang sederhana tapi enak banget), dan melanjutkan perjalanan menuju Bunyu yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam.

Bersyukur, hari itu speed kami melaju lancar tanpa hambatan mengarungi lautan Kalimantan.

Cheers.

Jalan-jalan

Dermaga

Bad Move
Paulo Coelho’s Words

Seberapa sering, saat kita bekerja, saat kita melakukan yang terbaik, tidak ada orang yang merasa bahwa kita telah berbuat banyak hal baik, hingga suatu hari kita melakukan kesalahan?

Kadang-kadang, saya pikir, berbuat kesalahan itu perlu juga ya? Jangan kesalahan deh ya, contoh sederhana, misalnya, ketidakhadiran kita.

Ya, misalnya aja, biasanya ada kegiatan yang selalu kita atur dan selalu kita komunikasikan. Lalu suatu hari, kita ga datang ke kegiatan tersebut, tidak bisa dihubungi lewat telepon, dan tidak bisa ditemukan secara fisik. Entah karena kita tiba-tiba sakit, atau ada keperluan mendadak keluar kota dan hape ga dicas. Pernah kebayang atau pernah ngalamin, orang2 kalang kabut nyariin kita, dan berharap kita ngasi kabar? Berharap adanya kabar progres kegiatan atau kabar baik dari kegiatan tsb?

Buat yang sering berinteraksi dalam organisasi di kampus atau sudah bekerja, biasanya pernah mengalami hal tsb.

Seringkali hanya kegiatan simpel, sederhana banget, ga perlu expertise, tapi jarang ada orang yang mau datang dan melihat langsung lokasi, ngobrol dengan anak buah, menganalisis masalah tsb bareng anak buah dan langsung pecahkan di tempat. Jarang.

Makanya, saat biasanya kita mau melakukan hal tsb lalu tiba-tiba kita ga ada, orang2 yang biasa nelpon2 dan tau beres, jadi panik. Kegiatan itu udah jalan, atau ada kendala, atau udah selesai? 

Contoh biasa sih.

Ga ada orang yang ga melakukan kesalahan.

Tapi mengapresiasi kerja keras orang itu perlu.

Well,

Beberapa hari ini saya membantu mengoordinir perbaikan dermaga milik PT Pertamina (Persero) RU V yang biasa disebut Dermaga Tidung Bunyu. Meski dermaga ini secara resmi adalah milik saudara perusahaan, namun kegiatan di dermaga ini terbuka untuk umum dan bongkar-muat barang.

Kadang saya mikir, saya kerja di perusahaan sosial atau energi?

Kalo nilai sosial dan ekonominya perusahaan ini dihitung, saya yakin, kontribusi perusahaan di bidang CSR (Corporate Social Responsibility) udah lebih dari cukup. Bahkan wilayah abu2 antara kewajiban negara atau sukarela perusahaan seringkali ga jelas. Ahhh, sudahlah. nanti kalo ngebahas ini lagi, mirip dengan postingan saya di Rasa-rasanya.

Lanjut.

Suasana Bunyu pagi ini sejuk2 adem sehabis hujan subuh tadi. Jalanan sedikit basah namun udara terasa sejuk, hati ikut adem. Begitu pula suasana di dermaga.

dermaga(2)
Suasana Dermaga Pagi Ini

Langit biru bersih dan tak panas.

dermaga(3)
Kapal Angkutan

Suasana di sekitar dermaga, ada kapal angkutan yang mengangkut mobil-mobil proyek non-PEP.

Nah, kalo ini, suasana dermaga kemarin siang saat tidak ada hujan seharian.

dermaga
Dermaga Tidung

Kalo dilihat di daratan di kejauhan, ada bangunan tinggi yang dikelilingi pepohonan, itulah Kilang Methanol milik PT. Pertamina (Persero) yang sempat berada pada masa kejayaannya 20 tahun yang lalu. Kalo sekarang, kilang tsb tidak aktif dan hanya dijaga sekuriti. Saya secara pribadi juga tidak tahu mau dikemanakan aset negara tersebut, semoga ga hanya teronggok sebagai Besi Tua.

pasang ban
Pasang Ban untuk Sandaran Speed

Kemarin, ban yang kami pasang merupakan stok ban bekas dan ban yang sudah lama teronggok di gudang. Kami lubangi ban di bengkel, lalu dipasang tali, lalu kami ikatkan di tiang sandaran speed. Karena pada pukul 3 sore air mulai pasang, maka kami agak sulit mengikat ban di posisi yang diinginkan. Oleh sebab itu, kegiatan kami undur ke hari ini.

Tadi pagi, saya sempat ngobrol2 sedikit dengan seorang bapak yang biasa kerja di kapal. Biasanya beliau mudah ditemui di dermaga. Bapak ini (sebut saja pak Budi), pernah saya tumpangi speednya saat saya ikut co-man rig drilling yang datang dari Jakarta.

Pak Budi komentar,“Kalo ada apa2 di Bunyu ini, paling enak memang minta tolong ke Pertamina, semua bisa segera ditindak lanjut. Kalo kita ngomong sama Pemda, mana ada ditanggapi. Tapi ya itu, orang sini tu banyak maunya. Apa2 semua sudah dibantu perusahaan, tapi kalo ada moving alat berat perusahaan, semua ribut2 (terlalu manja.red) karena rumahnya kena debu jalan.” 

Hmmmmm.

Well…

Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, selamat hari Sabtu, selamat bekerja!

 

 

 

 

*Semoga kebijakan mengenai kompensasi on-call segera berlaku. Amen.

Dermaga

Besi Tua

Hi there, readers!

It’s me.

Selfie lagi
Selfie di kantor

Skip.

Btw, di Bunyu sekarang ada sarapan enak selain nasi kuning di jembatan 30 ton. Jenis makanannya sekarang makin variatif dibanding (hampir) 2 tahun yang lalu saya datang ke mari, salah satunya adalah si bubur ayam yang dikemas praktis dan siap makan.

Bubur Ayam Bunyu
Bubur Ayam Khas Bunyu

Dari foto di atas, bubur ayam ini didampingi kuah bening. Keliatan kan?

Entah kenapa, bubur ayam di Bunyu (dan Tarakan) yang saya temui selama ini, semua selalu didampingi kuah bening. Lama2 saya jadi terbiasa juga karena ga terlalu seret pas buburnya melewati tenggorokan. Buburnya ga terlalu asin, cenderung hambar. Namun, bubur ayam langganan saya ini tingkat keasinannya cukup bagi saya. Tapi, tentu aja, bubur ayam Kosambi langganan saya pas masi kuliah di Bandung masih menempati posisi teratas sebagai bubur ayam favorit saya.

Okee, lanjut.

Begini.

Jadi ceritanya, kemarin ada teman-teman dari DJKN (Direktorat Jenderal Keuangan Negara) main ke Bunyu. Ga main juga siy, soalnya kalo main sebenarnya lebih enak ke Jakarta kan yey. Okelah, bisa dibilang, mereka kerja ke Bunyu.

Minggu lalu, sebelum teman-teman DJKN ini datang, rekan kerja saya dari finance, Muhammad Muslimulhakim atau biasa dipanggil Muslim, mengirim email berupa excel sederet daftar aset milik PEP Bunyu kepada saya. Saya diminta mencermati data tersebut, lalu dia bilang,”Sekitar 1-3 Juni, aset tersebut mau diliat ama DJKN, lu yang anter ya Din, sesuai daftar PIC (Person In Charge).”

Saya iya-in aja, sambil saya cek tu daftar excel super panjang yang dia kirim.

Dari sepanjang daftar aset tsb, bersyukur saya, hanya ada 3 aset yang perlu saya cek keberadaannya. Dan, tentu saja, aset ini sudah ada jauuuuh tahun sebelum saya datang ke mari. Ditanya-tanya mengenai keberadaan aset ini ga cuma sekali ini, tapi udah berkali-kali. Saking seringnya saya ditanyakan hal ini tanpa adanya pegangan data , sampai-sampai saya mikir,”Orang-orang ini pikir saya punya ilmu cenayang ya?”

Lanjut.

Akhirnya, di hari Kamis yang sejuk mendung dan sesekali disertai rintik hujan yang bersahabat, datanglah teman2 DJKN tersebut ke kantor saya. Berhubung saya sendiri ga pernah megang aset tsb dan ga paham posisinya ada dimana, maka saya ajak anggota saya yang sudah jauh lebih senior daripada saya untuk membantu mereka mengecek asset tsb.

Dari 3 asset yang mau dicek, 2 asset ada di bengkel pompa di Pemagaran. Salah satunya adalah mesin welding yang masih digunakan, yang kedua adalah elmot pompa yang terduduk tak digunakan di bengkel. Debunya tebal dan ditaruh di pojok bengkel. Nah, untuk aset yang ke-3 adalah milling machine (mesin bubut) yang sudah dipindahkan ke Yard. Sebenarnya, Yard ini berupa lapangan super luas yang digunakan untuk menampung barang-barang yang sudah tak digunakan. Mau dipakai tapi sudah rusak, mau dibuang sayang, maka dipindahkan saja ke Yard. Dan sepertinya, ada banyak asset yang memang sengaja tak dibuang untuk keperluan pengecekan dari kantor negara seperti ini.

Berikut perjuangan teman DJKN (baju oren) bersama pak Sudirman (baju biru) ngecek mesin bubut yang sudah terkubur bersama equipment lain.

besi tuir
Ngecek si Besi Tua

Mereka manjat-manjat di sana selama beberapa menit, lalu si teman DJKN (namanya Mas Rudi), menyelinap di antara besi tua tsb untuk mencari nameplate yang menunjukkan bahwa asset tsb memang barang yang dia mau. Trus dia ambil foto selama beberapa detik, lalu selesailah.

Sebenarnya, saya lupa mengingatkan beliau untuk perlu berhati-hati menyelinap di antara besi-besi tua tsb karena masih rawannya biological hazard berupa ular, kalajengking, dan kadang ada anjing liar. God saves us, semua berjalan baik hingga kami kembali ke kantor.

Kalo ngomongin besi tua, sebenarnya meski mereka terlihat teronggok dan tak berdaya dan sepertinya sudah tak berguna, justru mereka sudah membantu kita mengumpulkan pundi-pundi rupiah selama berpuluh-puluh tahun belakangan. Dan juga, kalo ada trouble mendesak, tapi kami ga bisa beli barang baru, maka kami akan mencari barang yang dulu pernah dibuang ke Yard. Tentunya, ide mencari barang ini ga datang dari saya, tapi dari anggota2 saya yang usianya jauh lebih senior dari saya. Mereka (para anggota mekanik) selain ahli sebagai pekerja di lapangan, mereka juga ahli sejarah besi tua. Mereka ingat siapa yang saat itu mimpin, siapa yang nyuruh asset tsb harus diganti, hingga posisinya dibuang dimana dan kekubur apa. Super coolThumbs up buat semua orang yang bisa menyimpan data-data tak tertulis itu dan bisa membantu perusahaan ini berhemat dari segi uang dan waktu.

 

Sayangnya, besi-besi tua ini ga punya mulut buat ngomong, ga punya tangan buat menulis. Mungkin kalo mereka punya kesempatan untuk bercerita, mereka ga mau kalah untuk dimasukkan ke dalam sejarah Indonesia ini saat membangun Pertamina bersama pak Ibnu Sutowo.

Well…

Sekian kisah random seorang pekerja yang besok harus bangun pagi lagi untuk bekerja.

Selamat bekerja!

 

Besi Tua