Selayang Pandang – Gugun Blues Shelter

Kemarin saya sempatkan menonton film yang  baru keluar di Bioskop, kebetulan di momen lebaran kali ini, ada 4 film Indonesia yang muncul, yaitu:

  1. Jailangkung
  2. Insya Allah, Sah
  3. Sweet 20
  4. Surat Kecil untuk Tuhan

Dari ke-4 film itu, kemarin saya nonton ‘Sweet 20’ (baca: swit twenti).

poster sweet 20
Sweet 20

Saya milih film ini karena trailer-nya menarik, kayaknya lucu, dan sepertinya menghibur. Jadilah saya pesan tiket untuk saya di XXI di Gandaria City. Baru nyadar saat bayar, kalo hari itu hari Sabtu, dan harus bayar Rp 60 ribu per kursi. Ya udahlah gapapa ya, buat diri sendiri ini. Lagi pula ga sering2 juga nonton ke bioskop. (skip)

Opening filmnya menarik, saat si nenek (Niniek L Karim) bilang ke temennya, kira-kira begini,

“Dulu, aku pernah berdoa supaya umurku ga nyampe 30 tahun. Soalnya jadi tua, keriput, dan ga bisa apa-apa.”

In my head : Nice point. 

Lalu soundtrack-nya ada yang menarik, yang setelah saya google-ing, lagu ini di-cover ulang oleh Gugun Blues Shelter, dan dimasukkan ke album “Nusantara Berdendang”, idenya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (ceilah). Sayangnya, lagu2 di album ini ga dijual di iTunes dan ga ada di free music player lainnya. Jadilah saya streaming youtube untuk menikmati lagu ini.

Selayang Pandang di film ‘Sweet 20’

Pencipta: Lili Suhairi

Lirik: Hamiedan AC

Penyanyi: Gugun Blues Shelter

Arrenger: Aminoto Konsin

Album: Nusantara Berdendang

Produksi: CV. Nada Ciptakinarya Alami  (Source : here)

Kalo mau denger di youtube, bisa streaming di sini.

Kalo mau download mp3-nya, bisa di sini.

Liriknya, saya tulis manual. Dengan nadanya ceria dan menyenangkan, lagu ini berhasil menyampaikan makna yang baik bagi para pendengarnya 🙂

Lama sudah tidak ke ladang

Tinggi rumput jadilah lalang

Lama tak kupandang 

Hati tlah bimbang

Lama tak kupandang 

Hati tlah bimbang

(Reff: Layang-layang selayang pandang

Hati di dalam rasa bergoncang

Jangan ragu dan jangan bimbang

Ini lagu selayang pandang)

Burung layang terbang melayang

Singgah sebentar di tengah kali

Berbuku sayang diambil orang

Balangku ada sebagai ganti

(Reff)

Kalau tuan pergi berburu

Jadikan saya si kijang belang

Kalaulah tuan asyik merindu

Hatiku pula semakin bimbang

Layang-layang bertali benang

Benang ditenun menjadi kain

Kasih yang lepas jangan dikenang

Sanalah sana, mencari lain

(Reff)

Selayang Pandang – Gugun Blues Shelter

Rangga atau Trian?

Beberapa hari belakangan, euforia menyambut film Ada Apa dengan Cinta 2 (disingkat AADC 2), melanda kalangan anak muda Indonesia, dengan range usia remaja hingga 30-an.
Kok usia 30-an masuk? Karena film ini tumbuh bersama para penotnon AADC pertama yang dulu adalah remaja, dan saat film sekuelnya rilis, turut bertambah ‘senior’ sesenior Dian Sastro dan Nicholas Saputra (pemeran utamanya).

Sebenarnya saya termasuk generasi 90-an. Saat AADC yang pertama muncul di bioskop pada tahun 2002, saya baru lulus SD, masuk SMP kelas 1, usia sekitar 12 tahun (iiihh, imut kali). Kalo saya pernah baca majalah Bobo tahun 80-an, anak SMP itu masih baca majalah Bobo. Ga sengaja saya baca salah satu surat pembaca majalah Bobo jadul tsb di rumah nenek di Sumatra Barat.

Ada seorang anak mengirim surat dengan isinya begini,”Pak Dokter, saya mau tanya. Kalo saya mandi air dingin pagi-pagi, lalu langsung saya siramkan ke kepala, kok terasa pusing ya?” –Pengirim: Adi, SMP kelas 2 di kota Blabla.

Kalo saya di usia kelas 1 SMP, saat itu sudah mengonsumsi majalah KaWanku, Gadis, Aneka Yes, dan majalah sejenisnya, yang isi majalahnya udah telanjur puber, seperti: tips dapet pacar, model ini pacaran ama aktor itu, fashion untuk remaja, dan aneka hal centil lain. Jadinya, saat itu, saat AADC mengambil setting anak-anak SMA di awal tahun 2000-an, kami (saya dan teman-teman cewe centil lainnya) sudah ikut menyaksikan film tersebut. Saya agak lupa menonton film AADC dimana, tapi yang jelas, saya nggak ikutan nonton bareng teman-teman di bioskop Gelora Balikpapan (dulu belum ada yang namanya XXI atau CGV Blitz. Adanya Bioskop Gelora di dekat taman Bekapai, yang kadang kalo penontonnya kebanyakan, si bioskop ngasih kursi lipat ekstra di deret belakang supaya semua pemilik karcis bisa nonton –pengalaman pribadi. Dan ga kebayang, Balikpapan sekarang udah maju banget, sangat lengkap dan segalanya ada, dan saya masih heran, beberapa teman saya yang kerja di Balikpapan masih aja mengeluh kalo Balikpapan itu jauh dari keramaian. Oh come on, tuker posisi yuk ke Bunyu?)

Jangan ngelantur. Back in track.

Saat long weekend kemarin, saya sempatkan menonton AADC 2 di bioskop dekat rumah di Jakarta. Setelah nonton, entah kenapa ada yang mengganjal. Saya, secara pribadi, ga suka endingnya. Tapi saya gak tau mau diskusi ama siapa.
Nah, saat sudah tiba kembali bekerja di Bunyu, iseng2 saya mengecek Facebook saya, dan ternyata banyak yang mendiskusikan film ini. Mulai dari seseorang yang membuat artikel panjang lebar tentang “Perselingkuhan berbalut Puisi”, hingga ada semacam surat terbuka Trian untuk Cinta (yang entah siapa yang pertama kali memiliki ide ini, tapi saya suka banget. Cocok nih kalo ada lanjutan filmnya AADC dengan judul “Trian Menjawab”). Hahaha. Kocak (aslinya ga kosak sih. Kalo ini beneran ada, sakit banget jadi seorang Trian).

Tulisan-tulisan yang beredar di dunia maya tersebut, entah kenapa, sangat menjelaskan dengan jelas apa isi pikiran dan pendapat saya yang tidak tersampaikan.

Nah, ada satu tema menarik yang dijadikan bahan diskusi di grup kawan-kawan wanita saya:
“Kalo kalian jadi seorang Cinta di AADC 2, siapa yang kalian pilih? Trian atau Rangga?”
Dan, saya ngga nyangka, ternyata ada lho yang milih Rangga! Alasannya: hobi dan minat yang sama. Hahahahaha.

Well, realistis aja deh.

Jika kita seorang cewe, umur udah sangat dewasa, ditinggal highshool sweetheart (seorang Rangga) belasan tahun lalu yang ga jelasin apa2 saat putus. Trus suatu hari, ujug-ujug GA SENGAJA ketemu, trus jelasin semua kesalahannya dan minta maaf dan minta balikan, padahal kita udah dilamar orang (seorang Trian) dan lamaran orang tersebut udah kita terima (tentunya menerima lamaran seseorang itu sudah mempertimbangkan segala macamnya, mulai kejelasan masa depan, ekonomi, kelebihan dan kekurangan orang tsb yang bisa kita toleransi, dan lain-lain sebagainya). Ehh, terus tiba-tiba si mantan pacar datang, ngajak BALIKAN PACARAN, coy! NGAJAK JADI PACAR LAGI, pake selembar puisi!! Ngajak happy-happy bareng lagi. Padahal dulu, saat dihadapkan di situasi sangat sulit dan berat, si mantan ini ninggalin kita, ga cerita apa pun masalahnya, kita ditinggal. Trus saat ini, saat kondisi udah membaik, dia dateng, trus mengakui tindakan memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas itu adalah tindakannya yang salah. Oh come on. Memaafkan bukan berarti harus kembali bersama, kan?

Well, okay..

Kalo kamu jadi seorang Cinta, kamu pilih siapa?
Rangga atau Trian?

Rangga atau Trian?