Ngebengkel

Waktu kuliah di Bandung, ada praktikum wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa Teknik Mesin yang diadakan sekitar semester 3 atau 5, saya lupa. Pokoknya di pertengahan ajaran kuliah.

Nama mata kuliahnya adalah Proses Manufaktur 1 dan Proses Manufaktur 2. Biasanya disingkat Prosman. Selain kuliah wajib, kampus mengadakan praktikumnya juga, yang penilaian praktikum nyaris ga ngaruh ke indeks kumulatif karena cuma dibobotkan sekitar 10%, tapi ngaruh ke syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Syaratnya, supaya lulus Prosman, kami harus hadir di semua praktikumnya.

Jaman dulu, saya ga ngerti apa gunanya Prosman dan aplikasinya di dunia nyata. Waktu praktikumnya pun, saya ga berminat sama sekali ngikutin praktikumnya karena terlalu bengkel banget yang dikombinasikan dengan teori metrologi industri yang ternyata oh ternyata, njilemit luar biasaahh.

Prosman itu sebenarnya udah paket sederhananya kegiatan bengkel, tapi kalo mau tau alasan apa dan kenapa bisa menggunakan tools seperti di bengkel, maka bisa belajar di metrologi industri (mata kuliah paling absurb tapi berguna di bidang manufaktur. Gampangnya, kalo ga ada ilmu metro, maka kita ga akan bisa naik mobil/motor/pesawat/kapal kayak sekarang).

Praktikum Prosman itu sebenarnya, bahasa awamnya, bisa dibilang: “Ngebengkel“. Kami belajar membubut, memahat, mengelas, memotong, mengecat, mengebor, hingga kerja pertukangan yaitu kerja bangku (atau bahasa kerennya: work bench).

Dulu saya pikir, ya ampun, ngapain sih saya kotor2 gini, emang mo dipake di mana?

Jawabannya: Dimana-mana.

Ngelas
Pengelasan Support Pipa

Kalo di Pertamina, khususnya di Pertamina EP Bunyu, kegiatan bengkel ini dilakukan oleh Mekanik, lebih tepatnya, dilakukan oleh Mekanik – Bengkel Umum (BU).

Apa aja yang mau kita perbaiki, kita bawa aja ke BU. Misalnya, kalao saya: mau ngasah pisau dapur yang mulai tumpul.  Saya bawa aja tu pisau ke BU. Minta tolong pak Hairul atau Pak Dahlan atau Pak Marjito, maka akan mereka gerinda sebentar, dan langsung tajam lagi pisaunya. Atau misalnya kita kehilangan tutup botol, maka kita bisa minta  dibuatkan tutup botol baru di BU. Pak Marjito akan membubut sebentar, dan tutup botol tsb bisa segera kita gunakan.

Pasang Papan
Pasang Papan

Nah tadi pagi, saya ngemonitor kerjaan BU yang dibantu oleh tim kompresor dan tim pipeline. Bersyukur, load kerjaan di bagian lain sedang low sehingga tenaganya bisa dialihkan untuk membantu kegiatan di dermaga. Pekerjaan kami mulai pada pukul 8 pagi.

Struktur dermaga ini mulai rapuh. Kalo tiang-tiang bajanya itu kita hammer, maka karatnya langsung rontok dan berhamburan ke laut. Hal yang menahan dermaga tsb masih belum ambruk adalah beton yang dicor di dalam selongsong pipa baja yang tertancap hingga ke dasar laut.

Nancap
Tiang-tiang yang Mulai Rapuh
Mancing
Break bentar sambil mancing

Dari dulu, kalo praktikum Prosman (alias ngebengkel), saya paling menghindari kegiatan yang menimbulkan panas dan bunga api, yaitu: pengelasan. Pengelasan itu sulit, kalo ga pinter (dan ga punya sertifikat), maka filler las itu ga akan mengisi daerah yang mau kita sambung. Oleh sebab itu, para anggota mekanik yang dedicated untuk mengerjakan pengelasan selalu disertifikasi secara rutin oleh kantor.

Saat melakukan pengelasan, orang ybs juga musti pake face shielded karena bunga api yang timbul dari pengelasan itu bisa membahayakan penglihatan. Mirip kayak kalo kita memandang matahari. Ga kuat kan? Iyah, itu memang berbahaya dan bisa bikin mata kita katarak. Makanya face shielded ini musti dipake.

Ngelas(3)
Ngelas pipa

Dan pengalaman saya, saking protektifnya face shielded ini terhadap penglihatan, maka saya ga bisa ngeliat sebenarnya filler las saya itu ngisi kemana 😐 Ribet? Iya. Banget.

Jadi, buat yang punya sertifikasi ngelas dan selalu lulus tes x-ray hasil pengelasannya, thumbs up. You are super cool. 

 

Cutting
Motong plat dengan gas oxygen-acetilen
Ngelas(2)
Bloopers: Warna-warni coverall anggota

Ngomong-ngomong soal coverall yang warna-warni, anggota saya sempat nyeletuk kayak gini:

Mas Budi: “Mbak Din, orang-orang ni heran kali kalo liat kita kerja. Ini yang kerja PT apa? Kok bajunya lain-lain.”

Pak Hairul: “Iya lah, orang-orang ni sambil mikir juga,’Hebat ya Pertamina, ngontrak vendor banyak kali buat ngerjain satu kerjaan aja'”

Saya: Diem aja, gatau mo ngomong apa menanggapi sinisme anggota.

Ujung-ujungnya, kami cuma menertawakan kehidupan, sambil terus melanjutkan kegiatan.

Makan Siang
Makan siang di pinggir laut. Urutan dari atas ke bawah: Pak Maryono (mekanik SKG), Pak Sagiman (driver mekanik), Mas Budi (mekanik SKG), Pak Hairul (mandor BU)

Pekerjaan ini akhirnya selesai pukul 5 sore berkat mandor Hairul yang lincah dan sangat disiplin. Super cool. 

Akhirnya, besok kembali kerja (lagi), dan memasuki bulan Ramadhan (lagi).

Selamat malam, selamat istirahat, selamat bekerja (lagi), dan selamat berpuasa 😀

 

Ngebengkel

Jalan-jalan

Kalo orang2 butuh modal (uang dan waktu) yang relatif sangat besar berlibur ke Derawan, hal ini tak berlaku bagi kami2 di pulau terpencil ini karena Derawan juga sama2 terpencil. Haha. Tawa datar.

Di akhir bulan April 2016, kami, rombongan kecil ber-15 orang dari Bunyu, mengunjungi Maratua-Derawan-Kakaban. Cukup dengan modal sekitar 1,5 juta per orang, kami sudah dapat bermalam di Maratua dan Derawan selama 3 hari 2 malam.

Mengunjunginya pun tanpa perlu mengambil cuti karena kami mengambil jatah day-off 1 hari di hari Jum’at. Kami memanfaatkan waktu selama Jumat-Sabtu-Minggu di pulau Maratua, Kakaban, dan Derawan. Dengan harga segitu, sudah termasuk layanan speed pulang pergi Bunyu-Derawan, layanan snorkeling Derawan-Maratua-Kakaban, menyewa alat snorkeling, kamar tidur, dan makan. Lengkap dan ga kelaparan.

Hari pertama, kami mendarat di pulau Maratua.

Maratua
Mendarat di Maratua Paradise Resort
Setelah menempuh waktu selama 4 jam Bunyu-Maratua, akhirnya kami mendarat di Maratua Paradise Resort (MPR), tapi tentunya bukan di resort tsb kami menginap. Kami menginap di losmen sederhana berjarak sekitar 2 kilo dari dermaga MPR. Satu kamar berisi 2-3 orang, kamar mandi dalam, air payau, dan listrik dari genset solar. Air payau ini maksudnya bersumber dari air laut yang udah difilter. Kalo sempat nyicip, rasanya mirip2 oralit (itu lho, obat kalo diare).

Sore harinya, kami langsung jalan kaki dari losmen menuju MPR untuk snorkeling.

Maratua(2)
Foto Dulu. Dessy-Atina-Saya. Photo taken by Fauzi.
Cuacanya panas banget ga santai. Bahasa pelancongnya, cuaca cerah banget, cocok untuk nikmatin laut dan pantainya. Yang jelas, saat itu cuaca sangat bersahabat dan sedang low season. 

 

Esok harinya, pak Alfiyan (bos SCM kala itu), udah mondar-mandir di depan kamar losmen. Fauzi bantuin mengetuk pintu kamar kami sehabis subuh. Siapa yang telat, mereka tinggal karena mereka mau berburu matahari terbit pagi itu.

Maratua(6)
Jalan kaki menuju sebelah timur pulau Maratua
Kalo ada yang bilang Indonesia itu indah, sayangnya, saya ga bisa bilang gitu. Saya ga bisa boong dan ga bisa ikut-ikutan. Indonesia itu ga mampu menjaga kebersihan 🙂

Kalo semua orang berebut memotret yang indah, saya ga bisa mendiamkan diri dan pura-pura ga liat tumpukan sampah yang terdampar di pojok Maratua. Sampah ini mengumpul di pojok dermaga.

Padahal, sepanjang perjalanan kami menuju pojok timur, kami melihat banyak penyu. Beberapa kali mereka menampakkan diri dan berenang di sekitar kami. Daerah yang mereka renangi masih bersih, tapi sampah2 yang menumpuk di pojok2 pulau ini, kalo dibiarin dan semua pura-pura menutup mata, saya gatau apa lagi yang mau dijual dari pulau ini.

Maratua(7)
Tambahan Jalur Dermaga Baru
Saat tiba di ujung dermaga, pak Alfiyan terkagum-kagum dengan tambahan dermaga ini. Maklum, beliau diver sejati yang udah beberapa kali ke pulau ini, dan baru hari itu beliau melihat tambahan dermaga yang bagus. Ternyata, dermaga tsb memang baru saja ditambah oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan di tahun 2015 (sesuai papan namanya). Ditambah lagi, Maratua saat ini sedang dibangun bandara untuk memudahkan akses transportasi ke pulau ini.

Maratua(9)
Resort terpencil yang menghadap matahari terbit

Maratua(10)
Udah kesiangan, mataharinya mulai tinggi
Lalu kami snorkeling lagi seharian sambil melanjutkan perjalanan ke Kakaban dan Derawan.

Derawan
Mendarat di Derawan saat magrib

Derawan(5)
Resort MKI Derawan saat malam hari
Resort MKI Derawan ini cukup hi class dan diisi banyak bule.

Kami hanya lewat MKI sebentar, menikmati bulan penuh, selonjoran di pojok dermaga, sambil ngobrol2 dan menertawakan kehidupan. Malam itu kami hanya berlima, yaitu Saya, Dessy, Atina, Uda Hendrizal, dan Fauzi.

Kami melanjutkan jalan santai mengelilingi pulau Derawan di sepanjang jalur pantainya yang cuma butuh waktu sekitar 2 jam (saking santainya jalan kaki). Kalo sambil lari atau jalan cepat, sepertinya cuma butuh 30-45 menit untuk mengelilingi pulau ini.

Di Derawan dan Maratua, meski sama-sama terpencil, tapi mereka ga ada hiburan malam seperti di Gili Trawangan (kalau kalian pernah ke sana). Saya akui, untuk urusan kebersihan dan ketertiban, Gili Trawangan masih lebih baik dibanding Derawan dan Maratua. Pengaruh asing itu memang perlu sih.

Malam itu sebenarnya kami berencana melihat penyu bertelur di pantai Derawan, yang katanya bisa dilihat sekitar tengah malam. Namun, karena kami sangat lelah, kami putuskan kembali ke kamar dan beristirahat untuk fun diving esok hari.

Fun Divers(2)
Sayaaa
Besok paginya, kami sempatkan fun diving bersama mas Icuk.

Selain Pak Alfiyan dan Uda Hendrizal, kami (Saya, Dessy, Atina, Fauzi, Benny, dan istri Benny), belum ada yang punya sertifikat diving. Nah, mas Icuk (instruktur diving kami hari itu) ngasi jasa instruktur dan penyewaan alat diving di sekitar MKI resort. Kedalamannya hanya sekitar 4 meter, jadi ga terlalu bahaya kalo tiba-tiba kita ngapung ke atas. Untuk menyiasati tekanan di telinga yang terasa semakin membesar saat menyelam, bisa disiasati dengan menelan sambil tahan napas (kayak sedang naik pesawat) untuk menyiasati perubahan tekanan antara permukaan air dengan bawah laut.

Fun Divers
Istri Benny, Benny, Saya, Dessy, Atina. Mas Icuk yang sedang melayang di atas kami
Foto selama fun diving credit to Uda Hendri.

Ternyata si Uda Hendri udah menyiapkan poster sederhana untuk bisa kami pakai foto-foto di dalam air. Poster ini berisi ucapan selamat berpisah buat pak Alfiyan karena beliau akan segera dimutasi ke Pertamina Geotermal Kamojang. Pak Alfiyan, saya ikut dong,Pak.

Kesimpulannya: Diving itu ternyata SERU BANGET!

Buat yang masih ragu mau ambil sertifikasi diving karena biayanya yang ga murah (yang mencapai 5 jutaan rupiah) dan masih ragu apakah diving akan cocok/tidak sebagai hiburan, fun diving ini bisa digunakan untuk mencari tau. Cukup dengan 350ribu ajah, kita dah bisa diving dengan aman di sekitar MKI Resort Derawan, udah termasuk perlengkapan dan instruktur yang keren asik kayak mas Icuk.

Hari itu asik banget.

Jauh lebih asik daripada snorkeling di permukaan laut ajah.

Kalo snorkeling, sebenernya saya lebih sering ngerasa mabuk gara-gara terombang-ambing di permukaan air. Ada perahu dan orang-orang yang bergerak-gerak di permukaan air menyebabkan airnya naik-turun ga tentu. Tapi, kalo diving, rasanya asik banget. Cuma ada diri kita sendiri yang sedang menikmati isi laut 🙂

Saya ga nyangka ternyata diving semenyenangkan itu. Super fun.

Setelah diving, kami berkemas, makan siang (yang sederhana tapi enak banget), dan melanjutkan perjalanan menuju Bunyu yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam.

Bersyukur, hari itu speed kami melaju lancar tanpa hambatan mengarungi lautan Kalimantan.

Cheers.

Jalan-jalan

Dia adalah Dilanku 1990-1991

Aku menulis ini saat malam hari di pertengahan Mei 2016 di pulau Bunyu, Kalimantan Utara, dengan cuacanya dingin. Terasa dingin karena AC di kamar aku setel di tempratur 20 deg C.

Malam ini aku baru selesai membaca buku tulisannya Pidi Baiq, judulnya Dia adalah Dilanku 1990 (Buku pertama) dan Dia adalah Dilanku 1991 (Buku ke-2). Ke-2 buku ini aku habiskan dalam 3 hari, yang aku sempatkan membacanya di waktu senggangku setelah jam kantor atau saat aku telah tiba di rumah dinas. Yang aku ingat, kemarin aku baru dari lokasi yang panas (lebih tepatnya, terasa sumuk. Bahasa Jawa,artinya: gerah bikin keringetan lengket padahal cuaca mendung) plus digigitin nyamuk. Tiba di ruang kantor yang ber-AC, aku sempatkan santai sejenak. Meski bel berakhirnya jam kantor sudah dinyalakan, aku sempatkan minum air dingin di kantor dan melanjutkan membaca buku mang Pidi di kantor hingga sebelum magrib tiba.

Awalnya, aku mengetahui si mang Pidi Baiq ini adalah saat aku bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusku dulu (sekitar tahun 2008-2009), saat kami mau mengangkat tokoh mana yang mau kami ulas di edisi majalah Boulevard ITB  terbaru. Maka, terpilihlah si Pidi Baiq, yang akhirnya aku ketahui orang itu agak unik dari teman satu unit yang dapat tugas untuk menulis halaman tentang dia. Teman saya ini si anak elektro 2008, terus dengan hebohnya cerita pengalamannya,”Kan urang mau interview yah, terus dia (Pidi Bagiq) bilang,’Eh tunggu dulu, saya ga mau difoto. Saya ambilin foto saya aja ya.’” Saya dan kawan-kawan yang dengar itu spontan ketawa, plus aku pribadi mikir astagaa, ada ya orang kayak gitu? Hahaha.

Selanjutnya aku pernah bertemu beliau saat ikutan workshop yang diadakan Kompas Gramedia di salah satu cafe di daerah Dago (sekarang cafe ini sudah tutup, beberapa kali ganti nama usaha, kalo sekarang aku kurang tau jadi apa) pada tahun 2008-2009an juga. Saat itu tampillah band The Panasdalam, diimami oleh mang Pidi Baiq, yang lirik-liriknya bikin aku mikir. Bukan mikir apakah arti lirik lagu itu? , tapi lebih mikir ke astagaaa, ada ya lirik lagu kayak gitu? Maksudnya apa??? Hahahaha. Kocak. Asli. Tapi saat itu aku ga ketawa, soalnya aku sambil mikir saat mereka nyanyi.

Nah, lanjut.

Seminggu yang lalu aku sempatkan jalan ke Kwitang, Jakarta, melihat-lihat buku yang sekiranya bisa  dikonsumsi untuk menemaniku selama bertugas di Bunyu. Itulah pertama kalinya aku ke Kwitang, dan aku pun hampir kalap untuk membeli semua buku yang terlihat karena ditawari harga sangat murah dan masih bisa ditawar. Syukurlah, ku hanya ambil beberapa buku, dan godaan lainnya kutahan sambil membisikkan ke diri sendiri lihat dulu kualitas beberapa buku yang kamu beli, Din. Kalo oke, bisa lanjut beli di sini. Kesimpulan: ada harga, ada kualitas.

Nah, saat lagi melihat2 buku inilah, di salah satu toko, si abang buku nawarin,”Ini juga lagi laris lho, Dilan.” Sesaat aku jadi ingat cuplikan film Dilan yang akan tayang di bioskop dalam waktu dekat. Saat ditawari buku tsb, aku cuma lihat aja sampulnya, tapi ga beli di Kwitang. Aku akhirnya memilih membelinya di Gramedia Ambas, sehari sebelum kembali terbang bertugas. Cieeeeee, bertugas.

Dan malam ini, aku sudah membaca ke-2 buku tersebut secara berturut-turut, maka muncullah baper (kebawa perasaan. Bahasa gaul kekinian). Ada banyak hal menarik dari buku ini, beberapanya:

  1. Ini beneran ditulis Pidi Baiq, kan? Kalo bener, aku bener-bener kagum dan masih penasaran gimana caranya dia bisa ambil angel seorang wanita yang sedang mengenang masa SMA-nya. Sempat aku mengecek popularitas buku ini di instagram,dan menemukan, kebanyakan pembacanya adalah wanita yang ngasih komentar2 pribadi yang intinya: buku ini bagus. Bener2 bisa bikin cerita dari sudut pandang anak cewe labil yang dikit2 ngambek, dikit2 bete, dikit2 ngancem putus, drama, dan kekonyolan pacaran saat remaja. Lucu 🙂
  2. Setting-an buku ini berada di Bandung pada tahun 1990-1991, dilengkapi gambaran suasana Bandung saat itu yang sejuk, belum banyak gedung tinggi dan belum ada aneka keriweuhan Bandung hari ini. Maka buku ini berhasil membawa saya ke settingan emosi anak cewe abg, disertai dengan imajinasi saya berkeliling Bandung.

Setelah membaca buku ini, aku langsung flash back  ke masa-masa ku masih TK-SD di Bandung sekitar tahun 1994-1995an. Kenangan masa kecil di Bandung ini juga yang bikin aku punya cita-cita mau kuliah di Bandung (waktu SMA). Dulu belum benar-benar men-set mau kuliah di kampus mana, tapi pokoknya mau balik sekolah di Bandung karena pengen di Bandung lagi. Dan kenangan masa kecil itu benar-benar membuat saya selalu kembali ke Bandung, pada akhirnya.

Bandung itu ngangenin, dan akan selalu begitu.

Terimakasih, mang Pidi Baiq atas buku bapernya. Selanjutnya aku akan membaca semua buku-bukumu, termasuk kalo kisah Dilan-Milea ini berlanjut.

Rasanya kalo aku punya keinginan yang bisa terwujud dengan segera, maka aku mau besok sudah terbangun di Bandung, di kamar kosku saat masih kuliah, di Dago.

Selamat malam, kamu, yang sudah membaca tulisan ini. Terimakasih 🙂

Dia adalah Dilanku 1990-1991

Pintar

Kata guru agama saya waktu SD, tidak boleh menyimpan rasa iri kepada orang lain. Misalnya, teman saya punya sepatu baru yang bagus, maka kita tak boleh iri karena iri itu sifat setan (katanya). Namun, kalo dipikir-pikir lagi, iri memang akan menjadi buruk jika itu membawa kita ke perilaku dan niat yang tidak baik. Misalnya, karena liat si teman sepatunya bagus, maka kita minder bergaul dengan dia, atau menghasut teman yang lain untuk tidak bergaul dengan dia karena dia anak orang kaya yang sombong, kok beli sepatu baru dipamer-pamerin. Tapi, iri juga bisa membuat kita jauh lebih baik. Coba saja, melihat teman punya sepatu baru, diam-diam tentunya sebagai manusia yang punya hawa nafsu, ada keinginan untuk punya sepatu bagus juga. Apa yang bisa kita lakukan untuk si sepatu bagus? Artinya kita harus menabung atau mencari pekerjaan kecil-kecilan sampingan, yang nanti di akhir bulan, uangnya bisa digunakan untuk beli sepatu baru. Kita harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan punya sepatu baru, tidak bisa sekadar menuntut uang jajan ditambah, tapi ada usaha (effort) lebih untuk melebihi keadaan kita yang sekarang. Positif, bukan?

Beberapa hari yang lalu, secara random saya membaca blog seorang senior yang link-nya muncul di newsfeed facebook saya, Ardya Dipta Nandaviri.

Yang paling saya suka dari postingan tsb I can only think that if I have this kind of discussion everyday, I can only get smarter and smarter every day. Saya iri.

Seingat saya, percakapan yang membuat saya tambah pintar terakhir kali (hingga hari ini) adalah saat saya mendiskusikan topik tugas akhir saya bersama rekan seperjuangan saya, Rizky Ilhamsyah. Sebagai kenang-kenangan, ini poster seminar saya menjelang sidang Tugas Akhir 😀 image (12)

Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar? Entahlah.

Setelah membaca blog senior tsb, ditambah film Internship yang pernah saya tonton beberapa waktu lalu, ditambah buku sharing interview masuk Google yang saya peroleh dari toko buku Periplus di Terminal 2 F Bandara Soekarno-Hatta, disimpulkan bahwa masuk Google itu susah. Dalam artian, orang yang masuk ke sana adalah orang yang memang suka berlogika, punya banyak akal, bisa melihat segala sesuatu dari segala sisi untuk memecahkan suatu persoalan yang diberikan. Keren. Banget.

Sekilas teringat gimana praktikum bahasa pemrograman di tingkat satu dulu. Meski hanya 1 semester, namun jika berminat melanjutkannya, sebenarnya kalo hitung-hitungan permesinan digabungkan dengan pemrograman, bisa menjadi ilmu yang bagus sekali. Membuat bahasa yang hanya berupa titik, koma, tanda kurung, beberapa alphabet, dst, yang kalo gagal di-compile, gatau salah dimana, saat berhasil di-compile, amazed juga karena ada keraguan akan gagal. Begitulah bahasa pemrograman. Lucu dan seru, sih.

Lagi, suatu hari muncul newsfeed di facebook saya, senior saya (jurusan informatika) yang dulu satu unit di penerbitan majalah kampus. Dia memposting transferan yang masuk ke rekening dia, dalam dollar, yang kalo dikonversi ke pegawai macam saya, kita-kira saya perlu waktu 10 tahun untuk mengumpulkan uang yang sama, tanpa makan-minum, tanpa mandi, yang ada cuma kerja dan kerja, demi dedikasi kepada perusahaan dan Negara. Pastinya, muncul nasihat bijak yang bilang,Ah segala sesuatu itu ga bisa diukur dengan duit kali, Din.” You are right. Itu nasehat yang baik banget untuk saya yang masih bertahan di pulau terpencil, demi duit. Sedangkan senior saya itu, kerja bermodalkan komputer, internet, jam bekerja yang cenderung bebas, di lokasi yang dia suka, kapan saja dia mau. Dia dapat bekerja kapan pun dia suka, di kota yang dia suka, dengan pekerjaan yang membuatnya semakin pintar (sedangkan transferan yang masuk itu seperti bonus dari dedikasi kepada ilmu yang dia terapkan dengan baik). Tetap dekat dengan orang-orang yang dia sayang, tanpa adanya batasan harus ke pulau terpencil dan resiko ga ada warung makan yang buka saat ada tanggal merah buat libur natal (hal yang menjadi rahasia perusahaan hingga si pegawai sadar emang ga ada makanan yang bisa dibeli. Bersyukur ada minimarket yang buka overtime 😀 ).

Setidaknya, ada satu hal yang membuat saya iri dan harus segera dijawab dalam waktu dekat: Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar?

Pintar

Rasa-rasanya

Sudah 3 bulan belakangan di penghujung tahun 2014, saya ditempatkan di pulau Bunyu, Kalimantan Utara, Indonesia. Banyak yang tidak tahu pulau Bunyu itu dimana. Dan saya pun, yang sedari kecil merupakan pendatang lama di Kalimantan Timur (Kaltara merupakan propinsi baru, dimana dahulu merupakan bagian dari Kaltim), baru tahu ternyata pulau Bunyu itu di situ loh.

Tapi mengenai nama Bunyu, saya tidak asing.

Di perumahan Pertamina di Balikpapan, ada beberapa nama field yg dijadikan nama jalan di dalam komplek. Komplek pertamina yang dapat dilintasi khalayak umum, memiliki nama2 jalan yang diambil dari nama beberapa field eksplorasi yang mereka punya seperti ‘Jalan Bunyu’ itu sendiri, yang di jaman saya kerja praktek (KP) di Balikpapan, saya sering pulang pergi kantor-rumah melintasi jalan itu. Dan yang agak-agak horror gimana, jalan di komplek Pertamina, meski terbuka utk umum, suasananya sepi-sepi temaram dan jarang dilintasi kendaraan atau orang berjalan kaki. Padahal di komplek sebelahnya (milik KKKS asing), meski lebih privacy, namun suasana lebih terang dan lebih aman. Dan ternyata, suasana komplek Pertamina di Bunyu mirip2 dengan komplek Pertamina di Balikpapan, dan di sini ditambah babi hutan, anjing liar, biawak, dan monyet yang sesekali terlihat melintas di depan rumah.

Okay, back in track.

Nah, pulau Bunyu ini hanya kecamatan yang merupakan bagian dari kabupaten Bulungan di utara Kalimantan. Pulau kecil ini sumber daya alamnya melimpah, berupa minyak bumi, gas bumi, dan batu bara. Produksi gas Bunyu lebih dari cukup untuk dikonsumsi di dalam pulau sendiri, oleh sebab itu, sebagian besar gas dikirim ke pulau Tarakan (kota terdekat dengan Bunyu) melalui saluran pipa bawah laut. Jadi, kalo ada perawatan stasiun kompresor gas atau trouble di pipa transfer gas ke tarakan, sebagian besar kota Tarakan akan mati lampu.

Dan namanya juga kecamatan, di sini tidak ada pusat administrasi pemerintahan. Kalo kata seorang aktivis lingkungan di Jakarta,”Negara itu hanya ada saat kampanye dan menagih pajak.” I can’t agree more. Harga bahan pangan disini sangat tinggi. Mau beli mentah (yang variasinya terbatas) atau beli nasi jadi (yang rasanya biasa-biasa saja), harganya tidak sebanding dengan apa yang diperoleh. Ditambah, harga speed boat menuju kota terdekat pun naik signifikan sejak harga BBM menyesuaikan. Ditambah lagi, pajak yang dipotong dari penghasilan saya naik 3 kali lipat dari potongan saat saya masih bekerja di Jakarta. Tapi yaaa, kok gini-gini aja fasilitas dari pemerintah. Saya baru tau ternyata Bunyu adalah bagian dari Indonesia kalo liat potongan pajak di slip gaji.

Hari Minggu kemarin, saya menyaksikan Metro TV, ada percakapan antara Panji Pragiwaksono dan Andini Effendi (News Anchor-nya). Ceritanya Panji (dulu pernah bawain acara Provokatif Proaktif di Metro, tp sayang dah discontinue) ini sekarang jadi aktivis Indonesia (yeah, aktivis Indonesia!), dimana dia keliling negara-negara di dunia untuk mengunjungi para ekspatriat asal Indonesia (kalo bahasa awamnya, mengunjungi TKI) sambil ‘membujuk’ para eskpat tsb kembali ke Indonesia, untuk membangun Indonesia. Begitu banyak hal-hal baik di luar negri yang bisa diadaptasi di Indonesia karena Indonesia butuh orang-orang yang paham kondisi yang baik dan mau membawanya kembali pulang. Ya, kira-kira begitulah sepintas kegiatan Panji.

panjiUniknya, diskusi ringan antara Panji-Andini menggunakan bahasa Inggris. Keeewwwwl (baca: keren.red) karena lancar dan enak banget dengernya. Ada ucapan Panji yang saya inget bingitz,”Indonesian doesn’t realize it’s not normal to buy mineral water, meanwhile in overseas, they can get free water everywhere. How could this country with a vast sea couldn’t give any free water for the citizens? We pay tax, and we can do protest to government, but we don’t.” Yaa, kira-kira begitulah, omongan Panji yang saya sesuaikan dengan ingatan saya 🙂 Kalau di-translate ke bahasa Indonesia, kira-kira: “Masyarakat Indonesia ga sadar bahwa membeli air minum itu tidak wajar, dimana kalau di negara maju, masyarakatnya bisa dapat air minum dimana saja. Bagaimana mungkin, negara yang lautnya seluas ini tidak bisa menyediakan air bersih untuk penduduknya? Kita bayar pajak, dan kita bisa protes kepada pemerintah untuk mempertanggungjawabkannya, tetapi (sayangnya) kita tidak melakukannya.”

Iya, kita bisa protes. Segala barang yang kita beli itu ada pajaknya. Perusahaan tempat kita bekerja, ditagih pajak oleh Negara. Gaji bulanan pun kena pajak. Kalau punya rumah, tanah, dan property lain, wajib iuran pajak tahunan. Nabung di bank, kena pajak tiap bulan. Kalo ke bandara mau naik pesawat, ada lagi pajak memakai bandara meski cuma numpang lewat 30 menit. Order barang dari luar negri, kena lagi pajak barang masuk (padahal pajak barang sebelum masuk pun sudah ditagihkan). Rasa-rasanya, kalo semua pajak yang kita bayarkan seumur hidup diakumulasikan, mungkin seperti dapat hadiah uang tunai dari tabungan berjangka.

Lalu muncul pertanyaan: pajak ini untuk negara. Negara yang mana? Negara itu apakah hanya ibukota Negara, ibukota provinsi, atau Negara itu apakah sekumpulan pegawai negeri sipil, atau Negara itu berupa jalan raya yang hancur (entah karena kualitas aspal atau system drainase yang tidak diperhitungkan)? Sampai saat ini, katanya pajak digunakan untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur dimana? Saya bayar pajak di sini, di pulau Bunyu. Lalu, muncul lagi pertanyaan tadi. Infrastruktur di ibukotakah? Apa sih yang disebut infrastruktur? Kalau saya mau jalanan di pulau Bunyu ini bagus, kira-kira iuran pajaknya berapa ya? Plus penerangan di jalan raya yang layak dan system drainase yang baik. Habis berapa ya, kira-kira? Trus kalau pajak yang saya bayar ini untuk perbaikan dermaga pulau Bunyu, kira-kira investasi berapa tahun ya? Katanya pajak yang ditarik dari kami untuk infrastruktur Negara kan? (balik lagi ke pertanyaan: negara yang mana?)

Lalu, muncul lagi pertanyaan: kalau mau protes, protes kepada siapa?

Sepertinya masyarakat semakin apatis dengan siapa yang memimpin, sejak ‘katanya’ ada reformasi di tahun 1998. Sejak tahun itu, tiba-tiba muncul spanduk-spanduk partai yang jumlahnya membengkak dan lambang partainya serupa tapi tak sama. Menjelang pilkada, muncul foto-foto orang yang tidak jelas siapa dia, mencantumkan gelar yang panjangnya seperti kereta, memakai kopiah, berjas, dan berdasi. Oh ya, dulu saya pernah tanya ke mama saya,”Ma, kenapa si orang-orang itu di foto kampanye pake kopiah?” Mama cuma diem trus jawab,”Gatau juga ya.”

Lalu beberapa hari yang lalu, ada teman saya yang jawab, kalau kopiah itu adalah ciri khas orang Indonesia. Makanya, dulu presiden pertama kita mengenakan kopiah dan jas serta dasi, lalu diteruskan ke foto-foto penjabat presiden dan wakil daerah lainnya. Namun, ada juga teman saya yang komentar bernada sinisme sambil menertawakan, yang menyatakan, kalo dulu sih iya pakai kopiah untuk melestarikan budaya. Kalo sekarang, rasa-rasanya lebih ke pencitraan agar kesannya banyak ilmu dan amanah. Wallhualam.

16 tahun telah berlalu dan kita semakin tidak paham mau mengadu ke siapa atas segala masalah di sekitar. Daripada capek mengadu, akhirnya banyak yang mementingkan diri sendiri. Yang penting perut kenyang dan besok masih bisa makan. Lagi-lagi, meski prinsip sesederhana “yang penting bisa makan” saja, Negara toh masi menagih pajak dari orang yang hidupnya paling susah sekalipun (balik lagi yah :P).

My favorite quote of this post,”Negara itu hanya ada saat kampanye dan menagih pajak.”

Rasa-rasanya

Dimadu

Syarat Ijin PoligamiSyarat Ijin Poligami yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Baru-baru ini, santer diberitakan melalui televisi mengenai legalisasi poligami bagi pegawai negeri sipil di salah satu daerah di Indonesia. Awalnya, saya pikir hanya lelucon belaka, hingga akhirnya seorang teman di grup Whatsapp saya memposting gambar di atas, yang isinya surat-surat yang harus dilengkapi untuk mengajukan izin poligami. Freak.

Lalu saya share gambar tersebut di grup alumni perempuan, yang isinya hampir semuanya telah menjadi seorang ibu, sambil menambahkan: “Jaman dulu mana ada (pemerintah daerah) yang berani bikin aturan sendiri-sendiri.”

Dan salah seorang ibu mengomentari,”Dulu katanya karena Bu Tin galak bgt urusan kayak gini. Laki-laki hebat karena perempuan (yang menghebatkan) di sampingnya. Itu gue yakini banget.

Seketika, saya teringat SMA saya di Magelang, Jawa Tengah, yang telah lama tidak saya jenguk (terakhir saya kunjungi pada akhir tahun 2008, enam tahun yang lalu, untuk mengurus legalisir ijazah kelulusan).

SMA saya secara resmi melaksanakan pendidikan pada tahun 1990, yang awal mulanya menerima siswa khusus pria karena pada masa itu, muncul keprihatinan dari Jend. L.B. Moerdani mengenai calon taruna Akademi Militer yang rata-rata bermodalkan fisik dan terbatasnya calon taruna yang memiliki kapasitas pendidikan serta fisik sekaligus. Jend L.B Moerdani yang dekat dengan Pak Harto di zaman itu, mengusulkan investasi manusia di bidang pendidikan, yang akhirnya disetujui, dan mengambil sekian hektar lahan Akmil di Magelang, untuk membangun sekolah, asrama, lapangan olahraga, rumah pengajar, kolam renang, dan fasilitas lainnya, yang digunakan untuk memndidik para siswa yang baru lulus SMP untuk mengenyam pendidikan setara kurikulum SMA di sana. Diharapakan, lulusannya sebagian besar masuk ke Akademi Militer, dan dapat menjadi penerus kemiliteran yang cerdas dan dapat dibanggakan. Yaaa, gitu lah sejarah singkatnya.

Lalu, pada suatu hari pada tahun 1995 (kalo tidak salah), Pak Harto dan Bu Tin berkunjung ke SMA di Magelang tsb. Konon, Bu Tin nyeletuk, “Kok tidak ada siswi (siswa perempuan), ya?”

Dan dalam waktu yang singkat, pada tahun 1996, SMA saya mulai menerima siswa perempuan. Dan 9 tahun kemudian, pada tahun 2005, saya berkesempatan menikmati fasilitas yang diperjuangkan oleh Jend. L.B Moerdani dahulu. Jika Bu Tin tidak mengutarakan uneg-unegnya kala itu, mungkin saya tidak sempat masuk ke sana, dan hanya menyimpan rasa penasaran saja :p

Jadi, apa hubungannya selebaran syarat poligami dengan sejarah SMA saya?

Pak Harto merupakan bagian sejarah dari bangsa kita (cieee, berat dikit).

Sejarah membuktikan, betapa orang segan (dan takut) pada Pak Harto. Tidak ada yang namanya geng motor (selain pada jaman dulu yang namanya motor adalah barang mewah), tidak ada yang berani keluar pada malam hari karena banyaknya kabar mengenai korban sniper dan orang hilang. Apalagi, mana ada orang yang berani iseng demo ke jalan demi di-interview televisi. Kalo pun ada yang demo, esoknya kita tak tahu kabarnya kemana.

Namun, ada pendapat yang selalu didengar Pak Harto, ada perintah yang lebih kuat dari perintah Pak Harto, yaitu permintaan istrinya sendiri. Yang jika memang permintaan itu menyangkut kepentingan yang ada di bawah Presiden, maka dibuatlah aturan yang wajib dipatuhi bawahannya. Siapa yang berani menentang atau dapat mengubah aturan pemerintah pada masa itu? Tidak ada, kecuali Bu Tin. Uneg-uneg, saran,, dan kritik yang disampaikan Bu Tin, didengar oleh suaminya. Betapa hebatnya Pak Harto pada masanya, tidak lepas dari peran istrinya, yang semakin menghebatkan Pak Harto sendiri. Semua orang hormat pada Pak Harto, dan Pak Harto sangat hormat kepada istrinya sendiri.

Yang mengherankan, masih ada orang yang tidak menangkap pesan positif dari mantan presiden kita tersebut. Lelaki gagah adalah lelaki yang sangat disegani saat dia berada di luar rumah, namun saat ia berada di rumah bersama istrinya, dia hanyalah pria biasa yang lembut dan penuh kasih sayang.

Dimadu

The Red Thread

m08

Foto M’08 satu angkatan komplit, ada 130 orang, sebelum ospek masuk HMM. Foto ini salah satu syarat masuk himpunan. Musti pake baju putih dan harus lengkap satu angkatan. Ampe temen di sebelah saya nyeletuk,”Eh cepetan dong bubar, keliatan nih pake baju putih rame2, cupu masi ospek.”

Dulu, waktu masih ospek buat masuk himpunan, ada tuh motto yang ditekankan kepada kami, bunyinya: “Open mind!

Saya inget banget nih, doktrin ini dicoba ditanamkan sekitar 5 tahun lalu, sore2 di daerah sekitar gedung kuliah. Pake baju kaos angkatan M2008 biru dongker, celana training pembagian kampus jaman TPB, sambil menyandang tas ransel yang isinya hampir selalu sama (1 botol Aqua 1500 ml, ponco/jas hujan, 2 pcs roti Rp 1000-an, sama apa lagi ya. Lupa. Tapi yang jelas ini tas berat banget).

Waktu itu kami diajarkan salah satu tradisi HMM, dimana tradisi tersebut merupakan pesan yang ingin disampaikan dari himpunan, untuk selalu open mind dalam menyelesaikan problema kehidupan (cieee, berat dikit).

Artinya: liat masalah dari segala sudut, jangan langsung ambil kesimpulan dari satu sisi saja.

Kalo saya tambahkan, selalu cari the red thread (benang merah) dari masalah tersebut, sehingga kita tau, kenapa bisa muncul persepsi 1, muncul persepsi 2, muncul persepsi 3, dan seterusnya.

Kalo sudah paham benang merahnya, maka ketika kita melihat media yang menuliskan/menayangkan masalah dengan persepsi 1, maka kita tidak mudah terpancing dan tidak mengambil kesimpulan begitu saja. Kita lebih tenang dan lebih dalam melihat masalah. Dan ke depannya, kita bisa lebih bijak dalam mengambil kesimpulan. Kita menjadi tahu alasannya, mengapa media tsb tidak menuliskan persepsi 2 atau persepsi yang lain, karena kita tahu si media berada di pihak siapa, dan kita tahu si media bermaksud mengarahkan pembaca memahami apa (kalo dari bidang jurnalistik yang pernah saya geluti di masa kuliah dulu, ini istilahnya angleMedia punya peran menggerakkan massa dan mengerahkan emosi orang. Makanya, jangan mudah percaya ama media :p )

Bagi orang-orang yang belum melihat benang merah dari suatu masalah, maka akan mudah berkomentar (bahasa kerennya, men-judge) orang lain yang punya persepsi berbeda.

Namun, bagi orang yang memahami benang merahnya, akan lebih santai, dan cuma komentar,”Lo ngomong doang bisanya. Kayak politisi.

The Red Thread