Ngebengkel

Waktu kuliah di Bandung, ada praktikum wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa Teknik Mesin yang diadakan sekitar semester 3 atau 5, saya lupa. Pokoknya di pertengahan ajaran kuliah.

Nama mata kuliahnya adalah Proses Manufaktur 1 dan Proses Manufaktur 2. Biasanya disingkat Prosman. Selain kuliah wajib, kampus mengadakan praktikumnya juga, yang penilaian praktikum nyaris ga ngaruh ke indeks kumulatif karena cuma dibobotkan sekitar 10%, tapi ngaruh ke syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Syaratnya, supaya lulus Prosman, kami harus hadir di semua praktikumnya.

Jaman dulu, saya ga ngerti apa gunanya Prosman dan aplikasinya di dunia nyata. Waktu praktikumnya pun, saya ga berminat sama sekali ngikutin praktikumnya karena terlalu bengkel banget yang dikombinasikan dengan teori metrologi industri yang ternyata oh ternyata, njilemit luar biasaahh.

Prosman itu sebenarnya udah paket sederhananya kegiatan bengkel, tapi kalo mau tau alasan apa dan kenapa bisa menggunakan tools seperti di bengkel, maka bisa belajar di metrologi industri (mata kuliah paling absurb tapi berguna di bidang manufaktur. Gampangnya, kalo ga ada ilmu metro, maka kita ga akan bisa naik mobil/motor/pesawat/kapal kayak sekarang).

Praktikum Prosman itu sebenarnya, bahasa awamnya, bisa dibilang: “Ngebengkel“. Kami belajar membubut, memahat, mengelas, memotong, mengecat, mengebor, hingga kerja pertukangan yaitu kerja bangku (atau bahasa kerennya: work bench).

Dulu saya pikir, ya ampun, ngapain sih saya kotor2 gini, emang mo dipake di mana?

Jawabannya: Dimana-mana.

Ngelas
Pengelasan Support Pipa

Kalo di Pertamina, khususnya di Pertamina EP Bunyu, kegiatan bengkel ini dilakukan oleh Mekanik, lebih tepatnya, dilakukan oleh Mekanik – Bengkel Umum (BU).

Apa aja yang mau kita perbaiki, kita bawa aja ke BU. Misalnya, kalao saya: mau ngasah pisau dapur yang mulai tumpul.  Saya bawa aja tu pisau ke BU. Minta tolong pak Hairul atau Pak Dahlan atau Pak Marjito, maka akan mereka gerinda sebentar, dan langsung tajam lagi pisaunya. Atau misalnya kita kehilangan tutup botol, maka kita bisa minta  dibuatkan tutup botol baru di BU. Pak Marjito akan membubut sebentar, dan tutup botol tsb bisa segera kita gunakan.

Pasang Papan
Pasang Papan

Nah tadi pagi, saya ngemonitor kerjaan BU yang dibantu oleh tim kompresor dan tim pipeline. Bersyukur, load kerjaan di bagian lain sedang low sehingga tenaganya bisa dialihkan untuk membantu kegiatan di dermaga. Pekerjaan kami mulai pada pukul 8 pagi.

Struktur dermaga ini mulai rapuh. Kalo tiang-tiang bajanya itu kita hammer, maka karatnya langsung rontok dan berhamburan ke laut. Hal yang menahan dermaga tsb masih belum ambruk adalah beton yang dicor di dalam selongsong pipa baja yang tertancap hingga ke dasar laut.

Nancap
Tiang-tiang yang Mulai Rapuh
Mancing
Break bentar sambil mancing

Dari dulu, kalo praktikum Prosman (alias ngebengkel), saya paling menghindari kegiatan yang menimbulkan panas dan bunga api, yaitu: pengelasan. Pengelasan itu sulit, kalo ga pinter (dan ga punya sertifikat), maka filler las itu ga akan mengisi daerah yang mau kita sambung. Oleh sebab itu, para anggota mekanik yang dedicated untuk mengerjakan pengelasan selalu disertifikasi secara rutin oleh kantor.

Saat melakukan pengelasan, orang ybs juga musti pake face shielded karena bunga api yang timbul dari pengelasan itu bisa membahayakan penglihatan. Mirip kayak kalo kita memandang matahari. Ga kuat kan? Iyah, itu memang berbahaya dan bisa bikin mata kita katarak. Makanya face shielded ini musti dipake.

Ngelas(3)
Ngelas pipa

Dan pengalaman saya, saking protektifnya face shielded ini terhadap penglihatan, maka saya ga bisa ngeliat sebenarnya filler las saya itu ngisi kemana 😐 Ribet? Iya. Banget.

Jadi, buat yang punya sertifikasi ngelas dan selalu lulus tes x-ray hasil pengelasannya, thumbs up. You are super cool. 

 

Cutting
Motong plat dengan gas oxygen-acetilen
Ngelas(2)
Bloopers: Warna-warni coverall anggota

Ngomong-ngomong soal coverall yang warna-warni, anggota saya sempat nyeletuk kayak gini:

Mas Budi: “Mbak Din, orang-orang ni heran kali kalo liat kita kerja. Ini yang kerja PT apa? Kok bajunya lain-lain.”

Pak Hairul: “Iya lah, orang-orang ni sambil mikir juga,’Hebat ya Pertamina, ngontrak vendor banyak kali buat ngerjain satu kerjaan aja'”

Saya: Diem aja, gatau mo ngomong apa menanggapi sinisme anggota.

Ujung-ujungnya, kami cuma menertawakan kehidupan, sambil terus melanjutkan kegiatan.

Makan Siang
Makan siang di pinggir laut. Urutan dari atas ke bawah: Pak Maryono (mekanik SKG), Pak Sagiman (driver mekanik), Mas Budi (mekanik SKG), Pak Hairul (mandor BU)

Pekerjaan ini akhirnya selesai pukul 5 sore berkat mandor Hairul yang lincah dan sangat disiplin. Super cool. 

Akhirnya, besok kembali kerja (lagi), dan memasuki bulan Ramadhan (lagi).

Selamat malam, selamat istirahat, selamat bekerja (lagi), dan selamat berpuasa 😀

 

Ngebengkel

Sabtu Pagi di Pertengahan Januari 2016

Jum’at sore (seperti biasa ketika mengejar pesawat terakhir) dari Tarakan, saya sudah siap di dermaga pulau Bunyu, Kalimantan Utara, untuk menyebrangi lautan menggunakan speed terakhir jurusan Pulau Bunyu-Pulau Tarakan. Lalu sesaat setelah menginjak tanah Tarakan, saya dengan sigap mengambil ojek terdekat untuk segera melaju menuju Bandara Juwata Tarakan. Selang 1 jam, saya masuk pesawat, duduk dengan tenang. Menghabiskan waktu +/- 3 jam hingga medarat di ibukota Jakarta, Indonesia. Mengambil mobil travel jurusan Cengkareng-Bandung dgn jam keberangkatan paling segera, mendaratlah saya di Bandung pukul 2 pagi, di hari Sabtu. Menghabiskan sekitar 10 jam dari Pulau Bunyu hingga tiba di Bandung.

Perjalanan saya tadi malam cukup beruntung, mengingat saat long weekend 3 minggu lalu, saya menggunakan mobil travel dari Cengkareng menuju Bandung menghabiskan waktu 10 jam. Macet di sepanjang jalan tol (jalan tol tsb macet, sodara2), mengakibatkan saya menghabiskan waktu total 20 jam dari Pulau Bunyu ke Bandung. Kalo ini penerbangan internasional, dengan total waktu yg sama, saya udah sampai di belahan dunia lain.

Well, oke.

Pagi ini, untuk pertama kalinya, saya menjejakkan kaki di Starbucks Cihampelas Walk, menyesap kopi dingin. Sesaat saya flash back ke masa selama 4,5 tahun di Bandung. Waktu kuliah, Ciwalk merupakan mall yang cukup sering saya kunjungi bersama teman2, tapi kalo menatap Starbucks ini cuma dari luar, dan ga pernah kepikiran buat masuk. Well, inilah pertama kalinya masuk ke Starbucks Ciwalk! Haha. *Lebay* *Sorry* Saya dan teman2 kuliah biasanya ke Ciwalk untuk nonton di XXI setelah ujian atau sekadar cuci mata.

Ciwalk pun telah melakukan beberapa renovasi, terutama di pintu masuknya yang dibuat lebar, dan langit2 pintu masuknya dijebol membentuk void sehingga terasa lebih terang. Kesannya lebih menyambut pengunjung (kalo dulu pintu masuk agak sempit dan langit2nya pendek).

Jadi inget, suatu hari di tahun 2010, temen sekosan ngebicarain anak2 kampus yang suka ngemall ke Ciwalk (biasanya serombongan mahasiswa di akhir pekan). Si temen ini, dengen ekspresi sedikit heran, ngomong,”Kemarin aku ke Ciwalk, masak ada yang pakek jahim?!” (Jahim: Jaket himpunan).

Oke, jadi jahim ini bukan jaket yang umum dikenakan di ruang umum karena ini salah satu senjata himpunan di kampus untuk menunjukkan arogansi antar himpunan. Tersirat semacam,”Ini lho gue, anak jurusan XXX yang bakal dapet banyak duit kalo udah lulus, bisa beliin apa aja yg kamu mau?!” atau “Gue anak jurusan XXX, temen2 gue banyak, awas aja Lo senggol, gue gelut Lo rame2.”

Dan ada juga obrolan temen2 cewe di sekitar saya kalo bicarain anak2 jurusan lain. “EH yang jaketnya warna ini donk, bau duit, bau duit.” (Ngarep ditraktir dan dijanjikan masa depan yang cerah).

Saya, dalam hati,”Eyalaaah. Hari gini.”

Hahaha. (Mengenang masa2 indah zaman dahulu).

Semakin ke sini, teman2 yang biasa menghabiskan waktu bersama kita perlahan mulai menghilang, tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya, kesibukan dengan keluarga kecil barunya, dan ada juga yang pergi ke balahan dunia lain untuk melanjutkan studi masternya di luar negri. Pada akhirnya, kita akan dihadapkan pada situasi dimana kita dipaksa untuk menciptakan kesenangan kita sendiri, menghabiskan waktu bersama seseorang yang mau menciptakan kesenangan tersebut bersama kita.

Well…

Selamat hari ini,kamu,yang sedang membaca tulisan random melankolis seorang mantan mahasiswa di Bandung. Haha.

Cheers 😉

 

Sabtu Pagi di Pertengahan Januari 2016