Jalan-jalan

Kalo orang2 butuh modal (uang dan waktu) yang relatif sangat besar berlibur ke Derawan, hal ini tak berlaku bagi kami2 di pulau terpencil ini karena Derawan juga sama2 terpencil. Haha. Tawa datar.

Di akhir bulan April 2016, kami, rombongan kecil ber-15 orang dari Bunyu, mengunjungi Maratua-Derawan-Kakaban. Cukup dengan modal sekitar 1,5 juta per orang, kami sudah dapat bermalam di Maratua dan Derawan selama 3 hari 2 malam.

Mengunjunginya pun tanpa perlu mengambil cuti karena kami mengambil jatah day-off 1 hari di hari Jum’at. Kami memanfaatkan waktu selama Jumat-Sabtu-Minggu di pulau Maratua, Kakaban, dan Derawan. Dengan harga segitu, sudah termasuk layanan speed pulang pergi Bunyu-Derawan, layanan snorkeling Derawan-Maratua-Kakaban, menyewa alat snorkeling, kamar tidur, dan makan. Lengkap dan ga kelaparan.

Hari pertama, kami mendarat di pulau Maratua.

Maratua
Mendarat di Maratua Paradise Resort
Setelah menempuh waktu selama 4 jam Bunyu-Maratua, akhirnya kami mendarat di Maratua Paradise Resort (MPR), tapi tentunya bukan di resort tsb kami menginap. Kami menginap di losmen sederhana berjarak sekitar 2 kilo dari dermaga MPR. Satu kamar berisi 2-3 orang, kamar mandi dalam, air payau, dan listrik dari genset solar. Air payau ini maksudnya bersumber dari air laut yang udah difilter. Kalo sempat nyicip, rasanya mirip2 oralit (itu lho, obat kalo diare).

Sore harinya, kami langsung jalan kaki dari losmen menuju MPR untuk snorkeling.

Maratua(2)
Foto Dulu. Dessy-Atina-Saya. Photo taken by Fauzi.
Cuacanya panas banget ga santai. Bahasa pelancongnya, cuaca cerah banget, cocok untuk nikmatin laut dan pantainya. Yang jelas, saat itu cuaca sangat bersahabat dan sedang low season. 

 

Esok harinya, pak Alfiyan (bos SCM kala itu), udah mondar-mandir di depan kamar losmen. Fauzi bantuin mengetuk pintu kamar kami sehabis subuh. Siapa yang telat, mereka tinggal karena mereka mau berburu matahari terbit pagi itu.

Maratua(6)
Jalan kaki menuju sebelah timur pulau Maratua
Kalo ada yang bilang Indonesia itu indah, sayangnya, saya ga bisa bilang gitu. Saya ga bisa boong dan ga bisa ikut-ikutan. Indonesia itu ga mampu menjaga kebersihan 🙂

Kalo semua orang berebut memotret yang indah, saya ga bisa mendiamkan diri dan pura-pura ga liat tumpukan sampah yang terdampar di pojok Maratua. Sampah ini mengumpul di pojok dermaga.

Padahal, sepanjang perjalanan kami menuju pojok timur, kami melihat banyak penyu. Beberapa kali mereka menampakkan diri dan berenang di sekitar kami. Daerah yang mereka renangi masih bersih, tapi sampah2 yang menumpuk di pojok2 pulau ini, kalo dibiarin dan semua pura-pura menutup mata, saya gatau apa lagi yang mau dijual dari pulau ini.

Maratua(7)
Tambahan Jalur Dermaga Baru
Saat tiba di ujung dermaga, pak Alfiyan terkagum-kagum dengan tambahan dermaga ini. Maklum, beliau diver sejati yang udah beberapa kali ke pulau ini, dan baru hari itu beliau melihat tambahan dermaga yang bagus. Ternyata, dermaga tsb memang baru saja ditambah oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan di tahun 2015 (sesuai papan namanya). Ditambah lagi, Maratua saat ini sedang dibangun bandara untuk memudahkan akses transportasi ke pulau ini.

Maratua(9)
Resort terpencil yang menghadap matahari terbit

Maratua(10)
Udah kesiangan, mataharinya mulai tinggi
Lalu kami snorkeling lagi seharian sambil melanjutkan perjalanan ke Kakaban dan Derawan.

Derawan
Mendarat di Derawan saat magrib

Derawan(5)
Resort MKI Derawan saat malam hari
Resort MKI Derawan ini cukup hi class dan diisi banyak bule.

Kami hanya lewat MKI sebentar, menikmati bulan penuh, selonjoran di pojok dermaga, sambil ngobrol2 dan menertawakan kehidupan. Malam itu kami hanya berlima, yaitu Saya, Dessy, Atina, Uda Hendrizal, dan Fauzi.

Kami melanjutkan jalan santai mengelilingi pulau Derawan di sepanjang jalur pantainya yang cuma butuh waktu sekitar 2 jam (saking santainya jalan kaki). Kalo sambil lari atau jalan cepat, sepertinya cuma butuh 30-45 menit untuk mengelilingi pulau ini.

Di Derawan dan Maratua, meski sama-sama terpencil, tapi mereka ga ada hiburan malam seperti di Gili Trawangan (kalau kalian pernah ke sana). Saya akui, untuk urusan kebersihan dan ketertiban, Gili Trawangan masih lebih baik dibanding Derawan dan Maratua. Pengaruh asing itu memang perlu sih.

Malam itu sebenarnya kami berencana melihat penyu bertelur di pantai Derawan, yang katanya bisa dilihat sekitar tengah malam. Namun, karena kami sangat lelah, kami putuskan kembali ke kamar dan beristirahat untuk fun diving esok hari.

Fun Divers(2)
Sayaaa
Besok paginya, kami sempatkan fun diving bersama mas Icuk.

Selain Pak Alfiyan dan Uda Hendrizal, kami (Saya, Dessy, Atina, Fauzi, Benny, dan istri Benny), belum ada yang punya sertifikat diving. Nah, mas Icuk (instruktur diving kami hari itu) ngasi jasa instruktur dan penyewaan alat diving di sekitar MKI resort. Kedalamannya hanya sekitar 4 meter, jadi ga terlalu bahaya kalo tiba-tiba kita ngapung ke atas. Untuk menyiasati tekanan di telinga yang terasa semakin membesar saat menyelam, bisa disiasati dengan menelan sambil tahan napas (kayak sedang naik pesawat) untuk menyiasati perubahan tekanan antara permukaan air dengan bawah laut.

Fun Divers
Istri Benny, Benny, Saya, Dessy, Atina. Mas Icuk yang sedang melayang di atas kami
Foto selama fun diving credit to Uda Hendri.

Ternyata si Uda Hendri udah menyiapkan poster sederhana untuk bisa kami pakai foto-foto di dalam air. Poster ini berisi ucapan selamat berpisah buat pak Alfiyan karena beliau akan segera dimutasi ke Pertamina Geotermal Kamojang. Pak Alfiyan, saya ikut dong,Pak.

Kesimpulannya: Diving itu ternyata SERU BANGET!

Buat yang masih ragu mau ambil sertifikasi diving karena biayanya yang ga murah (yang mencapai 5 jutaan rupiah) dan masih ragu apakah diving akan cocok/tidak sebagai hiburan, fun diving ini bisa digunakan untuk mencari tau. Cukup dengan 350ribu ajah, kita dah bisa diving dengan aman di sekitar MKI Resort Derawan, udah termasuk perlengkapan dan instruktur yang keren asik kayak mas Icuk.

Hari itu asik banget.

Jauh lebih asik daripada snorkeling di permukaan laut ajah.

Kalo snorkeling, sebenernya saya lebih sering ngerasa mabuk gara-gara terombang-ambing di permukaan air. Ada perahu dan orang-orang yang bergerak-gerak di permukaan air menyebabkan airnya naik-turun ga tentu. Tapi, kalo diving, rasanya asik banget. Cuma ada diri kita sendiri yang sedang menikmati isi laut 🙂

Saya ga nyangka ternyata diving semenyenangkan itu. Super fun.

Setelah diving, kami berkemas, makan siang (yang sederhana tapi enak banget), dan melanjutkan perjalanan menuju Bunyu yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam.

Bersyukur, hari itu speed kami melaju lancar tanpa hambatan mengarungi lautan Kalimantan.

Cheers.

Jalan-jalan

Dermaga

Bad Move
Paulo Coelho’s Words

Seberapa sering, saat kita bekerja, saat kita melakukan yang terbaik, tidak ada orang yang merasa bahwa kita telah berbuat banyak hal baik, hingga suatu hari kita melakukan kesalahan?

Kadang-kadang, saya pikir, berbuat kesalahan itu perlu juga ya? Jangan kesalahan deh ya, contoh sederhana, misalnya, ketidakhadiran kita.

Ya, misalnya aja, biasanya ada kegiatan yang selalu kita atur dan selalu kita komunikasikan. Lalu suatu hari, kita ga datang ke kegiatan tersebut, tidak bisa dihubungi lewat telepon, dan tidak bisa ditemukan secara fisik. Entah karena kita tiba-tiba sakit, atau ada keperluan mendadak keluar kota dan hape ga dicas. Pernah kebayang atau pernah ngalamin, orang2 kalang kabut nyariin kita, dan berharap kita ngasi kabar? Berharap adanya kabar progres kegiatan atau kabar baik dari kegiatan tsb?

Buat yang sering berinteraksi dalam organisasi di kampus atau sudah bekerja, biasanya pernah mengalami hal tsb.

Seringkali hanya kegiatan simpel, sederhana banget, ga perlu expertise, tapi jarang ada orang yang mau datang dan melihat langsung lokasi, ngobrol dengan anak buah, menganalisis masalah tsb bareng anak buah dan langsung pecahkan di tempat. Jarang.

Makanya, saat biasanya kita mau melakukan hal tsb lalu tiba-tiba kita ga ada, orang2 yang biasa nelpon2 dan tau beres, jadi panik. Kegiatan itu udah jalan, atau ada kendala, atau udah selesai? 

Contoh biasa sih.

Ga ada orang yang ga melakukan kesalahan.

Tapi mengapresiasi kerja keras orang itu perlu.

Well,

Beberapa hari ini saya membantu mengoordinir perbaikan dermaga milik PT Pertamina (Persero) RU V yang biasa disebut Dermaga Tidung Bunyu. Meski dermaga ini secara resmi adalah milik saudara perusahaan, namun kegiatan di dermaga ini terbuka untuk umum dan bongkar-muat barang.

Kadang saya mikir, saya kerja di perusahaan sosial atau energi?

Kalo nilai sosial dan ekonominya perusahaan ini dihitung, saya yakin, kontribusi perusahaan di bidang CSR (Corporate Social Responsibility) udah lebih dari cukup. Bahkan wilayah abu2 antara kewajiban negara atau sukarela perusahaan seringkali ga jelas. Ahhh, sudahlah. nanti kalo ngebahas ini lagi, mirip dengan postingan saya di Rasa-rasanya.

Lanjut.

Suasana Bunyu pagi ini sejuk2 adem sehabis hujan subuh tadi. Jalanan sedikit basah namun udara terasa sejuk, hati ikut adem. Begitu pula suasana di dermaga.

dermaga(2)
Suasana Dermaga Pagi Ini

Langit biru bersih dan tak panas.

dermaga(3)
Kapal Angkutan

Suasana di sekitar dermaga, ada kapal angkutan yang mengangkut mobil-mobil proyek non-PEP.

Nah, kalo ini, suasana dermaga kemarin siang saat tidak ada hujan seharian.

dermaga
Dermaga Tidung

Kalo dilihat di daratan di kejauhan, ada bangunan tinggi yang dikelilingi pepohonan, itulah Kilang Methanol milik PT. Pertamina (Persero) yang sempat berada pada masa kejayaannya 20 tahun yang lalu. Kalo sekarang, kilang tsb tidak aktif dan hanya dijaga sekuriti. Saya secara pribadi juga tidak tahu mau dikemanakan aset negara tersebut, semoga ga hanya teronggok sebagai Besi Tua.

pasang ban
Pasang Ban untuk Sandaran Speed

Kemarin, ban yang kami pasang merupakan stok ban bekas dan ban yang sudah lama teronggok di gudang. Kami lubangi ban di bengkel, lalu dipasang tali, lalu kami ikatkan di tiang sandaran speed. Karena pada pukul 3 sore air mulai pasang, maka kami agak sulit mengikat ban di posisi yang diinginkan. Oleh sebab itu, kegiatan kami undur ke hari ini.

Tadi pagi, saya sempat ngobrol2 sedikit dengan seorang bapak yang biasa kerja di kapal. Biasanya beliau mudah ditemui di dermaga. Bapak ini (sebut saja pak Budi), pernah saya tumpangi speednya saat saya ikut co-man rig drilling yang datang dari Jakarta.

Pak Budi komentar,“Kalo ada apa2 di Bunyu ini, paling enak memang minta tolong ke Pertamina, semua bisa segera ditindak lanjut. Kalo kita ngomong sama Pemda, mana ada ditanggapi. Tapi ya itu, orang sini tu banyak maunya. Apa2 semua sudah dibantu perusahaan, tapi kalo ada moving alat berat perusahaan, semua ribut2 (terlalu manja.red) karena rumahnya kena debu jalan.” 

Hmmmmm.

Well…

Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, selamat hari Sabtu, selamat bekerja!

 

 

 

 

*Semoga kebijakan mengenai kompensasi on-call segera berlaku. Amen.

Dermaga

Besi Tua

Hi there, readers!

It’s me.

Selfie lagi
Selfie di kantor

Skip.

Btw, di Bunyu sekarang ada sarapan enak selain nasi kuning di jembatan 30 ton. Jenis makanannya sekarang makin variatif dibanding (hampir) 2 tahun yang lalu saya datang ke mari, salah satunya adalah si bubur ayam yang dikemas praktis dan siap makan.

Bubur Ayam Bunyu
Bubur Ayam Khas Bunyu

Dari foto di atas, bubur ayam ini didampingi kuah bening. Keliatan kan?

Entah kenapa, bubur ayam di Bunyu (dan Tarakan) yang saya temui selama ini, semua selalu didampingi kuah bening. Lama2 saya jadi terbiasa juga karena ga terlalu seret pas buburnya melewati tenggorokan. Buburnya ga terlalu asin, cenderung hambar. Namun, bubur ayam langganan saya ini tingkat keasinannya cukup bagi saya. Tapi, tentu aja, bubur ayam Kosambi langganan saya pas masi kuliah di Bandung masih menempati posisi teratas sebagai bubur ayam favorit saya.

Okee, lanjut.

Begini.

Jadi ceritanya, kemarin ada teman-teman dari DJKN (Direktorat Jenderal Keuangan Negara) main ke Bunyu. Ga main juga siy, soalnya kalo main sebenarnya lebih enak ke Jakarta kan yey. Okelah, bisa dibilang, mereka kerja ke Bunyu.

Minggu lalu, sebelum teman-teman DJKN ini datang, rekan kerja saya dari finance, Muhammad Muslimulhakim atau biasa dipanggil Muslim, mengirim email berupa excel sederet daftar aset milik PEP Bunyu kepada saya. Saya diminta mencermati data tersebut, lalu dia bilang,”Sekitar 1-3 Juni, aset tersebut mau diliat ama DJKN, lu yang anter ya Din, sesuai daftar PIC (Person In Charge).”

Saya iya-in aja, sambil saya cek tu daftar excel super panjang yang dia kirim.

Dari sepanjang daftar aset tsb, bersyukur saya, hanya ada 3 aset yang perlu saya cek keberadaannya. Dan, tentu saja, aset ini sudah ada jauuuuh tahun sebelum saya datang ke mari. Ditanya-tanya mengenai keberadaan aset ini ga cuma sekali ini, tapi udah berkali-kali. Saking seringnya saya ditanyakan hal ini tanpa adanya pegangan data , sampai-sampai saya mikir,”Orang-orang ini pikir saya punya ilmu cenayang ya?”

Lanjut.

Akhirnya, di hari Kamis yang sejuk mendung dan sesekali disertai rintik hujan yang bersahabat, datanglah teman2 DJKN tersebut ke kantor saya. Berhubung saya sendiri ga pernah megang aset tsb dan ga paham posisinya ada dimana, maka saya ajak anggota saya yang sudah jauh lebih senior daripada saya untuk membantu mereka mengecek asset tsb.

Dari 3 asset yang mau dicek, 2 asset ada di bengkel pompa di Pemagaran. Salah satunya adalah mesin welding yang masih digunakan, yang kedua adalah elmot pompa yang terduduk tak digunakan di bengkel. Debunya tebal dan ditaruh di pojok bengkel. Nah, untuk aset yang ke-3 adalah milling machine (mesin bubut) yang sudah dipindahkan ke Yard. Sebenarnya, Yard ini berupa lapangan super luas yang digunakan untuk menampung barang-barang yang sudah tak digunakan. Mau dipakai tapi sudah rusak, mau dibuang sayang, maka dipindahkan saja ke Yard. Dan sepertinya, ada banyak asset yang memang sengaja tak dibuang untuk keperluan pengecekan dari kantor negara seperti ini.

Berikut perjuangan teman DJKN (baju oren) bersama pak Sudirman (baju biru) ngecek mesin bubut yang sudah terkubur bersama equipment lain.

besi tuir
Ngecek si Besi Tua

Mereka manjat-manjat di sana selama beberapa menit, lalu si teman DJKN (namanya Mas Rudi), menyelinap di antara besi tua tsb untuk mencari nameplate yang menunjukkan bahwa asset tsb memang barang yang dia mau. Trus dia ambil foto selama beberapa detik, lalu selesailah.

Sebenarnya, saya lupa mengingatkan beliau untuk perlu berhati-hati menyelinap di antara besi-besi tua tsb karena masih rawannya biological hazard berupa ular, kalajengking, dan kadang ada anjing liar. God saves us, semua berjalan baik hingga kami kembali ke kantor.

Kalo ngomongin besi tua, sebenarnya meski mereka terlihat teronggok dan tak berdaya dan sepertinya sudah tak berguna, justru mereka sudah membantu kita mengumpulkan pundi-pundi rupiah selama berpuluh-puluh tahun belakangan. Dan juga, kalo ada trouble mendesak, tapi kami ga bisa beli barang baru, maka kami akan mencari barang yang dulu pernah dibuang ke Yard. Tentunya, ide mencari barang ini ga datang dari saya, tapi dari anggota2 saya yang usianya jauh lebih senior dari saya. Mereka (para anggota mekanik) selain ahli sebagai pekerja di lapangan, mereka juga ahli sejarah besi tua. Mereka ingat siapa yang saat itu mimpin, siapa yang nyuruh asset tsb harus diganti, hingga posisinya dibuang dimana dan kekubur apa. Super cool. Thumbs up buat semua orang yang bisa menyimpan data-data tak tertulis itu dan bisa membantu perusahaan ini berhemat dari segi uang dan waktu.

 

Sayangnya, besi-besi tua ini ga punya mulut buat ngomong, ga punya tangan buat menulis. Mungkin kalo mereka punya kesempatan untuk bercerita, mereka ga mau kalah untuk dimasukkan ke dalam sejarah Indonesia ini saat membangun Pertamina bersama pak Ibnu Sutowo.

Well…

Sekian kisah random seorang pekerja yang besok harus bangun pagi lagi untuk bekerja.

Selamat bekerja!

 

Besi Tua

Pintar

Kata guru agama saya waktu SD, tidak boleh menyimpan rasa iri kepada orang lain. Misalnya, teman saya punya sepatu baru yang bagus, maka kita tak boleh iri karena iri itu sifat setan (katanya). Namun, kalo dipikir-pikir lagi, iri memang akan menjadi buruk jika itu membawa kita ke perilaku dan niat yang tidak baik. Misalnya, karena liat si teman sepatunya bagus, maka kita minder bergaul dengan dia, atau menghasut teman yang lain untuk tidak bergaul dengan dia karena dia anak orang kaya yang sombong, kok beli sepatu baru dipamer-pamerin. Tapi, iri juga bisa membuat kita jauh lebih baik. Coba saja, melihat teman punya sepatu baru, diam-diam tentunya sebagai manusia yang punya hawa nafsu, ada keinginan untuk punya sepatu bagus juga. Apa yang bisa kita lakukan untuk si sepatu bagus? Artinya kita harus menabung atau mencari pekerjaan kecil-kecilan sampingan, yang nanti di akhir bulan, uangnya bisa digunakan untuk beli sepatu baru. Kita harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan punya sepatu baru, tidak bisa sekadar menuntut uang jajan ditambah, tapi ada usaha (effort) lebih untuk melebihi keadaan kita yang sekarang. Positif, bukan?

Beberapa hari yang lalu, secara random saya membaca blog seorang senior yang link-nya muncul di newsfeed facebook saya, Ardya Dipta Nandaviri.

Yang paling saya suka dari postingan tsb I can only think that if I have this kind of discussion everyday, I can only get smarter and smarter every day. Saya iri.

Seingat saya, percakapan yang membuat saya tambah pintar terakhir kali (hingga hari ini) adalah saat saya mendiskusikan topik tugas akhir saya bersama rekan seperjuangan saya, Rizky Ilhamsyah. Sebagai kenang-kenangan, ini poster seminar saya menjelang sidang Tugas Akhir 😀 image (12)

Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar? Entahlah.

Setelah membaca blog senior tsb, ditambah film Internship yang pernah saya tonton beberapa waktu lalu, ditambah buku sharing interview masuk Google yang saya peroleh dari toko buku Periplus di Terminal 2 F Bandara Soekarno-Hatta, disimpulkan bahwa masuk Google itu susah. Dalam artian, orang yang masuk ke sana adalah orang yang memang suka berlogika, punya banyak akal, bisa melihat segala sesuatu dari segala sisi untuk memecahkan suatu persoalan yang diberikan. Keren. Banget.

Sekilas teringat gimana praktikum bahasa pemrograman di tingkat satu dulu. Meski hanya 1 semester, namun jika berminat melanjutkannya, sebenarnya kalo hitung-hitungan permesinan digabungkan dengan pemrograman, bisa menjadi ilmu yang bagus sekali. Membuat bahasa yang hanya berupa titik, koma, tanda kurung, beberapa alphabet, dst, yang kalo gagal di-compile, gatau salah dimana, saat berhasil di-compile, amazed juga karena ada keraguan akan gagal. Begitulah bahasa pemrograman. Lucu dan seru, sih.

Lagi, suatu hari muncul newsfeed di facebook saya, senior saya (jurusan informatika) yang dulu satu unit di penerbitan majalah kampus. Dia memposting transferan yang masuk ke rekening dia, dalam dollar, yang kalo dikonversi ke pegawai macam saya, kita-kira saya perlu waktu 10 tahun untuk mengumpulkan uang yang sama, tanpa makan-minum, tanpa mandi, yang ada cuma kerja dan kerja, demi dedikasi kepada perusahaan dan Negara. Pastinya, muncul nasihat bijak yang bilang,”Ah segala sesuatu itu ga bisa diukur dengan duit kali, Din.” You are right. Itu nasehat yang baik banget untuk saya yang masih bertahan di pulau terpencil, demi duit. Sedangkan senior saya itu, kerja bermodalkan komputer, internet, jam bekerja yang cenderung bebas, di lokasi yang dia suka, kapan saja dia mau. Dia dapat bekerja kapan pun dia suka, di kota yang dia suka, dengan pekerjaan yang membuatnya semakin pintar (sedangkan transferan yang masuk itu seperti bonus dari dedikasi kepada ilmu yang dia terapkan dengan baik). Tetap dekat dengan orang-orang yang dia sayang, tanpa adanya batasan harus ke pulau terpencil dan resiko ga ada warung makan yang buka saat ada tanggal merah buat libur natal (hal yang menjadi rahasia perusahaan hingga si pegawai sadar emang ga ada makanan yang bisa dibeli. Bersyukur ada minimarket yang buka overtime 😀 ).

Setidaknya, ada satu hal yang membuat saya iri dan harus segera dijawab dalam waktu dekat: Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar?

Pintar

Rasa-rasanya

Sudah 3 bulan belakangan di penghujung tahun 2014, saya ditempatkan di pulau Bunyu, Kalimantan Utara, Indonesia. Banyak yang tidak tahu pulau Bunyu itu dimana. Dan saya pun, yang sedari kecil merupakan pendatang lama di Kalimantan Timur (Kaltara merupakan propinsi baru, dimana dahulu merupakan bagian dari Kaltim), baru tahu ternyata pulau Bunyu itu di situ loh.

Tapi mengenai nama Bunyu, saya tidak asing.

Di perumahan Pertamina di Balikpapan, ada beberapa nama field yg dijadikan nama jalan di dalam komplek. Komplek pertamina yang dapat dilintasi khalayak umum, memiliki nama2 jalan yang diambil dari nama beberapa field eksplorasi yang mereka punya seperti ‘Jalan Bunyu’ itu sendiri, yang di jaman saya kerja praktek (KP) di Balikpapan, saya sering pulang pergi kantor-rumah melintasi jalan itu. Dan yang agak-agak horror gimana, jalan di komplek Pertamina, meski terbuka utk umum, suasananya sepi-sepi temaram dan jarang dilintasi kendaraan atau orang berjalan kaki. Padahal di komplek sebelahnya (milik KKKS asing), meski lebih privacy, namun suasana lebih terang dan lebih aman. Dan ternyata, suasana komplek Pertamina di Bunyu mirip2 dengan komplek Pertamina di Balikpapan, dan di sini ditambah babi hutan, anjing liar, biawak, dan monyet yang sesekali terlihat melintas di depan rumah.

Okay, back in track.

Nah, pulau Bunyu ini hanya kecamatan yang merupakan bagian dari kabupaten Bulungan di utara Kalimantan. Pulau kecil ini sumber daya alamnya melimpah, berupa minyak bumi, gas bumi, dan batu bara. Produksi gas Bunyu lebih dari cukup untuk dikonsumsi di dalam pulau sendiri, oleh sebab itu, sebagian besar gas dikirim ke pulau Tarakan (kota terdekat dengan Bunyu) melalui saluran pipa bawah laut. Jadi, kalo ada perawatan stasiun kompresor gas atau trouble di pipa transfer gas ke tarakan, sebagian besar kota Tarakan akan mati lampu.

Dan namanya juga kecamatan, di sini tidak ada pusat administrasi pemerintahan. Kalo kata seorang aktivis lingkungan di Jakarta,”Negara itu hanya ada saat kampanye dan menagih pajak.” I can’t agree more. Harga bahan pangan disini sangat tinggi. Mau beli mentah (yang variasinya terbatas) atau beli nasi jadi (yang rasanya biasa-biasa saja), harganya tidak sebanding dengan apa yang diperoleh. Ditambah, harga speed boat menuju kota terdekat pun naik signifikan sejak harga BBM menyesuaikan. Ditambah lagi, pajak yang dipotong dari penghasilan saya naik 3 kali lipat dari potongan saat saya masih bekerja di Jakarta. Tapi yaaa, kok gini-gini aja fasilitas dari pemerintah. Saya baru tau ternyata Bunyu adalah bagian dari Indonesia kalo liat potongan pajak di slip gaji.

Hari Minggu kemarin, saya menyaksikan Metro TV, ada percakapan antara Panji Pragiwaksono dan Andini Effendi (News Anchor-nya). Ceritanya Panji (dulu pernah bawain acara Provokatif Proaktif di Metro, tp sayang dah discontinue) ini sekarang jadi aktivis Indonesia (yeah, aktivis Indonesia!), dimana dia keliling negara-negara di dunia untuk mengunjungi para ekspatriat asal Indonesia (kalo bahasa awamnya, mengunjungi TKI) sambil ‘membujuk’ para eskpat tsb kembali ke Indonesia, untuk membangun Indonesia. Begitu banyak hal-hal baik di luar negri yang bisa diadaptasi di Indonesia karena Indonesia butuh orang-orang yang paham kondisi yang baik dan mau membawanya kembali pulang. Ya, kira-kira begitulah sepintas kegiatan Panji.

panjiUniknya, diskusi ringan antara Panji-Andini menggunakan bahasa Inggris. Keeewwwwl (baca: keren.red) karena lancar dan enak banget dengernya. Ada ucapan Panji yang saya inget bingitz,”Indonesian doesn’t realize it’s not normal to buy mineral water, meanwhile in overseas, they can get free water everywhere. How could this country with a vast sea couldn’t give any free water for the citizens? We pay tax, and we can do protest to government, but we don’t.” Yaa, kira-kira begitulah, omongan Panji yang saya sesuaikan dengan ingatan saya 🙂 Kalau di-translate ke bahasa Indonesia, kira-kira: “Masyarakat Indonesia ga sadar bahwa membeli air minum itu tidak wajar, dimana kalau di negara maju, masyarakatnya bisa dapat air minum dimana saja. Bagaimana mungkin, negara yang lautnya seluas ini tidak bisa menyediakan air bersih untuk penduduknya? Kita bayar pajak, dan kita bisa protes kepada pemerintah untuk mempertanggungjawabkannya, tetapi (sayangnya) kita tidak melakukannya.”

Iya, kita bisa protes. Segala barang yang kita beli itu ada pajaknya. Perusahaan tempat kita bekerja, ditagih pajak oleh Negara. Gaji bulanan pun kena pajak. Kalau punya rumah, tanah, dan property lain, wajib iuran pajak tahunan. Nabung di bank, kena pajak tiap bulan. Kalo ke bandara mau naik pesawat, ada lagi pajak memakai bandara meski cuma numpang lewat 30 menit. Order barang dari luar negri, kena lagi pajak barang masuk (padahal pajak barang sebelum masuk pun sudah ditagihkan). Rasa-rasanya, kalo semua pajak yang kita bayarkan seumur hidup diakumulasikan, mungkin seperti dapat hadiah uang tunai dari tabungan berjangka.

Lalu muncul pertanyaan: pajak ini untuk negara. Negara yang mana? Negara itu apakah hanya ibukota Negara, ibukota provinsi, atau Negara itu apakah sekumpulan pegawai negeri sipil, atau Negara itu berupa jalan raya yang hancur (entah karena kualitas aspal atau system drainase yang tidak diperhitungkan)? Sampai saat ini, katanya pajak digunakan untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur dimana? Saya bayar pajak di sini, di pulau Bunyu. Lalu, muncul lagi pertanyaan tadi. Infrastruktur di ibukotakah? Apa sih yang disebut infrastruktur? Kalau saya mau jalanan di pulau Bunyu ini bagus, kira-kira iuran pajaknya berapa ya? Plus penerangan di jalan raya yang layak dan system drainase yang baik. Habis berapa ya, kira-kira? Trus kalau pajak yang saya bayar ini untuk perbaikan dermaga pulau Bunyu, kira-kira investasi berapa tahun ya? Katanya pajak yang ditarik dari kami untuk infrastruktur Negara kan? (balik lagi ke pertanyaan: negara yang mana?)

Lalu, muncul lagi pertanyaan: kalau mau protes, protes kepada siapa?

Sepertinya masyarakat semakin apatis dengan siapa yang memimpin, sejak ‘katanya’ ada reformasi di tahun 1998. Sejak tahun itu, tiba-tiba muncul spanduk-spanduk partai yang jumlahnya membengkak dan lambang partainya serupa tapi tak sama. Menjelang pilkada, muncul foto-foto orang yang tidak jelas siapa dia, mencantumkan gelar yang panjangnya seperti kereta, memakai kopiah, berjas, dan berdasi. Oh ya, dulu saya pernah tanya ke mama saya,”Ma, kenapa si orang-orang itu di foto kampanye pake kopiah?” Mama cuma diem trus jawab,”Gatau juga ya.”

Lalu beberapa hari yang lalu, ada teman saya yang jawab, kalau kopiah itu adalah ciri khas orang Indonesia. Makanya, dulu presiden pertama kita mengenakan kopiah dan jas serta dasi, lalu diteruskan ke foto-foto penjabat presiden dan wakil daerah lainnya. Namun, ada juga teman saya yang komentar bernada sinisme sambil menertawakan, yang menyatakan, kalo dulu sih iya pakai kopiah untuk melestarikan budaya. Kalo sekarang, rasa-rasanya lebih ke pencitraan agar kesannya banyak ilmu dan amanah. Wallhualam.

16 tahun telah berlalu dan kita semakin tidak paham mau mengadu ke siapa atas segala masalah di sekitar. Daripada capek mengadu, akhirnya banyak yang mementingkan diri sendiri. Yang penting perut kenyang dan besok masih bisa makan. Lagi-lagi, meski prinsip sesederhana “yang penting bisa makan” saja, Negara toh masi menagih pajak dari orang yang hidupnya paling susah sekalipun (balik lagi yah :P).

My favorite quote of this post,”Negara itu hanya ada saat kampanye dan menagih pajak.”

Rasa-rasanya