Besi Tua

Hi there, readers!

It’s me.

Selfie lagi
Selfie di kantor

Skip.

Btw, di Bunyu sekarang ada sarapan enak selain nasi kuning di jembatan 30 ton. Jenis makanannya sekarang makin variatif dibanding (hampir) 2 tahun yang lalu saya datang ke mari, salah satunya adalah si bubur ayam yang dikemas praktis dan siap makan.

Bubur Ayam Bunyu
Bubur Ayam Khas Bunyu

Dari foto di atas, bubur ayam ini didampingi kuah bening. Keliatan kan?

Entah kenapa, bubur ayam di Bunyu (dan Tarakan) yang saya temui selama ini, semua selalu didampingi kuah bening. Lama2 saya jadi terbiasa juga karena ga terlalu seret pas buburnya melewati tenggorokan. Buburnya ga terlalu asin, cenderung hambar. Namun, bubur ayam langganan saya ini tingkat keasinannya cukup bagi saya. Tapi, tentu aja, bubur ayam Kosambi langganan saya pas masi kuliah di Bandung masih menempati posisi teratas sebagai bubur ayam favorit saya.

Okee, lanjut.

Begini.

Jadi ceritanya, kemarin ada teman-teman dari DJKN (Direktorat Jenderal Keuangan Negara) main ke Bunyu. Ga main juga siy, soalnya kalo main sebenarnya lebih enak ke Jakarta kan yey. Okelah, bisa dibilang, mereka kerja ke Bunyu.

Minggu lalu, sebelum teman-teman DJKN ini datang, rekan kerja saya dari finance, Muhammad Muslimulhakim atau biasa dipanggil Muslim, mengirim email berupa excel sederet daftar aset milik PEP Bunyu kepada saya. Saya diminta mencermati data tersebut, lalu dia bilang,”Sekitar 1-3 Juni, aset tersebut mau diliat ama DJKN, lu yang anter ya Din, sesuai daftar PIC (Person In Charge).”

Saya iya-in aja, sambil saya cek tu daftar excel super panjang yang dia kirim.

Dari sepanjang daftar aset tsb, bersyukur saya, hanya ada 3 aset yang perlu saya cek keberadaannya. Dan, tentu saja, aset ini sudah ada jauuuuh tahun sebelum saya datang ke mari. Ditanya-tanya mengenai keberadaan aset ini ga cuma sekali ini, tapi udah berkali-kali. Saking seringnya saya ditanyakan hal ini tanpa adanya pegangan data , sampai-sampai saya mikir,”Orang-orang ini pikir saya punya ilmu cenayang ya?”

Lanjut.

Akhirnya, di hari Kamis yang sejuk mendung dan sesekali disertai rintik hujan yang bersahabat, datanglah teman2 DJKN tersebut ke kantor saya. Berhubung saya sendiri ga pernah megang aset tsb dan ga paham posisinya ada dimana, maka saya ajak anggota saya yang sudah jauh lebih senior daripada saya untuk membantu mereka mengecek asset tsb.

Dari 3 asset yang mau dicek, 2 asset ada di bengkel pompa di Pemagaran. Salah satunya adalah mesin welding yang masih digunakan, yang kedua adalah elmot pompa yang terduduk tak digunakan di bengkel. Debunya tebal dan ditaruh di pojok bengkel. Nah, untuk aset yang ke-3 adalah milling machine (mesin bubut) yang sudah dipindahkan ke Yard. Sebenarnya, Yard ini berupa lapangan super luas yang digunakan untuk menampung barang-barang yang sudah tak digunakan. Mau dipakai tapi sudah rusak, mau dibuang sayang, maka dipindahkan saja ke Yard. Dan sepertinya, ada banyak asset yang memang sengaja tak dibuang untuk keperluan pengecekan dari kantor negara seperti ini.

Berikut perjuangan teman DJKN (baju oren) bersama pak Sudirman (baju biru) ngecek mesin bubut yang sudah terkubur bersama equipment lain.

besi tuir
Ngecek si Besi Tua

Mereka manjat-manjat di sana selama beberapa menit, lalu si teman DJKN (namanya Mas Rudi), menyelinap di antara besi tua tsb untuk mencari nameplate yang menunjukkan bahwa asset tsb memang barang yang dia mau. Trus dia ambil foto selama beberapa detik, lalu selesailah.

Sebenarnya, saya lupa mengingatkan beliau untuk perlu berhati-hati menyelinap di antara besi-besi tua tsb karena masih rawannya biological hazard berupa ular, kalajengking, dan kadang ada anjing liar. God saves us, semua berjalan baik hingga kami kembali ke kantor.

Kalo ngomongin besi tua, sebenarnya meski mereka terlihat teronggok dan tak berdaya dan sepertinya sudah tak berguna, justru mereka sudah membantu kita mengumpulkan pundi-pundi rupiah selama berpuluh-puluh tahun belakangan. Dan juga, kalo ada trouble mendesak, tapi kami ga bisa beli barang baru, maka kami akan mencari barang yang dulu pernah dibuang ke Yard. Tentunya, ide mencari barang ini ga datang dari saya, tapi dari anggota2 saya yang usianya jauh lebih senior dari saya. Mereka (para anggota mekanik) selain ahli sebagai pekerja di lapangan, mereka juga ahli sejarah besi tua. Mereka ingat siapa yang saat itu mimpin, siapa yang nyuruh asset tsb harus diganti, hingga posisinya dibuang dimana dan kekubur apa. Super coolThumbs up buat semua orang yang bisa menyimpan data-data tak tertulis itu dan bisa membantu perusahaan ini berhemat dari segi uang dan waktu.

 

Sayangnya, besi-besi tua ini ga punya mulut buat ngomong, ga punya tangan buat menulis. Mungkin kalo mereka punya kesempatan untuk bercerita, mereka ga mau kalah untuk dimasukkan ke dalam sejarah Indonesia ini saat membangun Pertamina bersama pak Ibnu Sutowo.

Well…

Sekian kisah random seorang pekerja yang besok harus bangun pagi lagi untuk bekerja.

Selamat bekerja!

 

Besi Tua